Embung Nglanggeran efektif menyimpan air hujan sekaligus menjadi objek wisata.

Embung Nglanggeran efektif menyimpan air hujan sekaligus menjadi objek wisata.

Sumiran memasang selang di ujung keran lalu memutar tuas. Air bening seketika menyembur dari ujung selang meskipun saat itu kemarau tengah mencapai puncak. Petani di Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, itu mengarahkan ujung selang ke pohon durian montong setinggi 1,5 m yang berumur hampir 3 tahun. Ia mengelola 80 pohon durian yang mendapat jatah air setiap hari sekali.

Air yang untuk menyiram itu bukan air tanah atau kiriman dari mobil tangki. Ia menggunakan air hujan yang tertampung dalam danau mini alias embung. Embung di sisi selatan gunung purba Nglanggeran, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, itu berketinggian 450 m di atas permukaan laut (dpl). Sementara ketinggian puncak gunung purba yang terangkat dari dasar laut sekitar 62-juta tahun lalu itu sekitar 700 m dpl.

Kebun buah naga di seputar area embung yang dibangun Yayasan Obor Tani di Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah.

Kebun buah naga di seputar area embung yang dibangun Yayasan Obor Tani di Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah.

Embung berukuran 40 m x 70 m dengan kedalaman air ketika penuh 4 m itu mampu menampung 12.000 m3 air hujan. “Air sebanyak itu untuk mengairi 20 ha lahan dalam radius 1 km dari embung,” tutur Setiyo Cahyono, pendamping masyarakat dari Yayasan Obor Tani, konsultan Sentra Pemberdayaan Tani (SPT) Nglanggeran. Dari total lahan 20 ha, 11,5 ha merupakan tanah Kesultanan Yogyakarta.

Sisa tanah milik 81 kepala keluarga—yang dijuluki niti, akronim dari petani inti—termasuk Sumiran. Setelah embung dibangun, lahan sekitar embung ditanami 3.100 tanaman buah. Sebanyak 2.800 di antaranya adalah durian monthong dan chanee, sisanya lengkeng itoh. Yayasan Obor Tani yang menjadi konsultan pembangunan embung mengingatkan pemanfaatan air hanya untuk penyiraman tanaman buah.

“Warga tetap boleh menanam tanaman semusim, tetapi penyiramannya tidak boleh menggunakan air dari embung,” kata Cahyo. Maklum, dasar perhitungan kapasitas embung adalah kebutuhan air tanaman buah selama 6 bulan kemarau. “Tanaman semusim memerlukan lebih banyak air sehingga mengurangi daya dukung embung,” tutur Pratomo, direktur eksekutif Yayasan Obor Tani.

Pengunjung dilarang berenang, memancing, mandi, atau melemparkan benda apa pun ke dalam embung karena dapat merusak lapisan geomembran.

Pengunjung dilarang berenang, memancing, mandi, atau melemparkan benda apa pun ke dalam embung karena dapat merusak lapisan geomembran.

Jika lahan ditanami cabai, misalnya, maka embung itu hanya mampu mengairi 4 ha lahan. Pratomo mengasumsikan kebutuhan air pohon buah produktif 10 l per hari. Berdasarkan asumsi itu, kebutuhan air setiap pohon selama 6 bulan kemarau adalah 1.800 l alias 1,8 m3. Itu berarti kapasitas embung Nglanggeran yang mencapai 12.000 m3 mampu mencukupi kebutuhan air 6.667 pohon buah produktif selama 6 bulan kemarau.

Air dari embung mengalir ke lahan melalui 3 tingkat pipa dengan tenaga gravitasi tanpa memerlukan pompa air. Pipa primer berdiameter 4 inci mengalirkan air dari saluran keluar di dasar embung.

Pipa sekunder berdiameter 2 inci mengalirkan air dari pipa primer ke pipa tersier.

Pipa sekunder berdiameter 2 inci mengalirkan air dari pipa primer ke pipa tersier.

Pipa primer berujung di percabangan dengan beberapa pipa sekunder berdiameter 2 inci. Air terus mengalir ke ujung pipa sekunder dan disambut beberapa pipa tersier berdiameter 1 inci. Dari ujung pipa tersier itu air mengalir ke keran-keran di lahan. Setiap keran terpisah jarak sejauh 50 m. Embung Nglanggeran dibuat dengan “memangkas” sebuah bukit bernama Gunung Gandu.

Baca juga:  Bintaro untuk Tikus

Penempatan embung di titik tertinggi bertujuan agar air bisa mengalir ke titik terjauh tanpa memerlukan pompa. Buldozer membuat jalan akses untuk alat berat lain. Setelah itu ekskavator pembentuk mencukur bukit, sementara pembentukan dan perapian tanggul dikerjakan dengan ekskavator finishing.

Salah satu tahapan vital yang mutlak dilakukan adalah pemadatan dengan alat vibro roller berbobot minimal 12 ton. “Tujuannya agar tanggul yang dibentuk dari tanah urukan sama padatnya dengan gundukan tanah yang terbentuk secara alami,” kata Pratomo. Dasar embung diberi batu blondos—batu pecah bertepi bulat—dengan kemiringan mengarah ke saluran drainase untuk mengalirkan air limpasan atau bocoran.

Setelah semua rampung, barulah lapisan geomembran digelar. Geomembran adalah lembaran plastik polietilen densitas tinggi (HDPE) yang diberi lapisan khusus agar tahan sinar ultraviolet, panas, maupun air garam. “Ketahanan geomembran minimal 10 tahun, bisa sampai 25 tahun, jauh lebih awet ketimbang plastik biasa maupun terpal,” ujar Pratomo.

Desain Sentra Pemberdayaan Tani (SPT)

Keteragan gambar: 1. Embung, 2. Petani Inti (niti), 3. Kebun buah, 4. Wisma atau joglo untuk pengelola dan tempat pertemuan

Keterangan gambar: 1. Embung, 2. Petani Inti (niti), 3. Kebun buah, 4. Wisma atau joglo untuk pengelola dan tempat pertemuan

Selama kemarau, air digunakan untuk menyiram tanaman di lahan SPT sehingga pada akhir kemarau, air surut sampai tingkat terendah atau habis. Itu saat tepat untuk memperbaiki lapisan geomembran yang sobek, berlubang, atau terlepas sambungannya.

Menteri pertanian Andi Amran Sulaiman (berbaju putih) berbincang dengan Ir Budi Dharmawn ketua Yayasan Obor Tani seusai meninjau embung di Ngebruk, Kendal.

Menteri pertanian Andi Amran Sulaiman (berbaju putih) berbincang dengan Ir Budi Dharmawn ketua Yayasan Obor Tani seusai meninjau embung di Ngebruk, Kendal.

Di bibir tanggul, ujung lapisan geomembran dibatasi dengan pagar agar tidak terinjak-injak. Maklum, pengunjung embung bukan hanya pengelola embung atau petani. Masyarakat menjadikan embung sebagai tempat melancong, terutama untuk menikmati pemandangan matahari terbenam. Hal itu terbukti di SPT Nglanggeran. Lantaran masih sangat belia, belum satu pun pohon durian berproduksi. Sementara lengkeng itoh baru belajar berbunga.

Namun, bukan berarti petani inti SPT Nglanggeran tidak menikmati aliran rupiah. Selama 9 hari libur Lebaran pada Juli 2015, embung Nglanggeran menghasilkan Rp200-juta. Jumlah itu hanya dari tiket masuk parkir kendaraan tanpa memperhitungkan penjualan makanan di warung-warung dan suvenir di kawasan sekitar embung. Itu sebabnya dari 81 anggota petani inti SPT Nglanggeran, sebanyak 60 orang melakoni peran ganda sebagai pengelola wisata.

Lengkeng yang diairi air embung di Ngebruk, Kendal, Jawa Tengah.

Lengkeng yang diairi air embung di Ngebruk, Kendal, Jawa Tengah.

Pengunjung kebanyakan datang menjelang sore untuk menikmati pemandangan matahari terbenam dari tepi embung. Sebagian pelancong betah menghabiskan waktu hingga malam. Malam hari pun pengunjung masih mengalir masuk. “Wisatawan yang datang malam hari pun banyak, terutama kaum muda,” ungkap Cahyo. Sejak awal, konstruksi embung dilengkapi lampu penerangan di jalan akses, tempat parkir, sampai tepi pagar.

Baca juga:  Limbah Mete Berfaedah

Hal serupa juga terjadi di SPT Pilangrejo di Dukuh Sriten, Desa Pilangrejo, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunung Kidul. Embung Sriten yang baru diresmikan pada Maret 2015 lalu menjadi magnet yang menarik pengunjung. “Sisi timur dan barat embung Sriten terbuka sehingga pengunjung bisa menikmati matahari terbit maupun terbenam,” tutur Sunaryo, kepala Desa Pilangrejo.

Dukuh Sriten yang semula daerah antah-berantah dan langka didatangi orang tiba-tiba diserbu wisatawan. Menurut Sunaryo, efek terhadap ekonomi desa langsung terasa. Warga Pilangrejo, yang kebanyakan menanam ganyong Canna edulis, selama ini harus turun ke Yogyakarta atau Sleman untuk menjual produk tepung ganyong mereka.

Rumah joglo di tepi embung dimanfaatkan pengunjung untuk berteduh dan beristirahat.

Rumah joglo di tepi embung dimanfaatkan pengunjung untuk berteduh dan beristirahat.

Hal serupa juga berlaku untuk gula kelapa produk Pilangrejo. Sejak embung Sriten dibuka, masyarakat memanfaatkan tepung ganyong dan gula merah untuk membuat dawet—minuman khas setempat. Pengunjung pun menjadikan tepung ganyong yang langka di pasaran dan gula kelapa sebagai buah tangan. “Permintaan tepung ganyong dan gula kelapa meningkat sehingga harganya ikut naik,” kata pria kelahiran 2 Juli 1977 itu.

Kondisi di SPT Nglanggeran dan Pilangrejo membuktikan bahwa kehadiran embung menjadi pendorong ekonomi masyarakat meskipun tanaman buah yang menjadi target pengairan itu belum berproduksi. “Nanti begitu tanaman buah berproduksi, hasilnya akan lebih banyak,” kata Cahyo.
Hal itu terbukti di beberapa SPT yang sudah memproduksi buah. Contohya SPT Wonokerto di Bancak, Semarang (buah naga super red, panen sejak Maret 2013), dan Karanganyar di Musuk, Boyolali (durian montong, panen sejak Februari 2014). Selain itu ada juga SPT Seboro di Sadang, Kebumen (lengkeng itoh, panen sejak Maret 2014), dan Labuhan Kidul di Sluke, Rembang (mangga namdokmai dan arumanis, panen sejak September 2012).

Penampang Desain Embung

Penampang Desain Embung

Bedanya, embung-embung itu tidak menawarkan pemandangan spektakuler sehingga tidak menjadi objek wisata lokal. Namun, penghasilan dari buah sangat memuaskan. Hitung-hitungan Ir Budi Dharmawan, ketua Yayasan Obor Tani sekaligus penggagas pembuatan embung, populasi lengkeng itoh yang berbuah di umur 2,5 tahun mencapai 200 pohon per ha. Produksi mencapai 100 kg per pohon. “Dengan harga jual per kg Rp7.500 saja penghasilan petani mencapai Rp150-juta setahun,” kata Budi.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memanen buah naga super red di SPT Wonokerto, Kabupaten Semarang.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memanen buah naga super red di SPT Wonokerto, Kabupaten Semarang.

Selain menyediakan rancangan teknis dan mengomandoi proses pembangunan embung, Yayasan Obor Tani sebagai konsultan juga mendampingi petani sampai 3 tahun pascapembangunan. Tujuannya mengajarkan sistem organisasi kelompok tani, teknik perawatan embung dan jaringan pipa, serta perawatan tanaman. Pasalnya kerusakan pipa akibat tidak sengaja terhantam cangkul kerap terjadi.

Baca juga:  Pakan Tepat Kucing Ras

Hal lain, tekanan air mengecil seiring pertambahan jarak dari embung sehingga penyiraman harus dijadwal. Namun, meskipun jadwal penyiraman sudah ditentukan, ada saja petani yang lupa. “Hal-hal seperti itulah yang termasuk organisasi kelompok tani,” ungkap Cahyo. Penggunaan embung sebagai penyimpan air hujan untuk dimanfaatkan saat kemarau juga dilakukan Pieter Tangka, wirausahawan hortikultura di Minahasa, Sulawesi Utara.

Bedanya, Pieter yang mengelola lahan seluas 125 ha berisi tanaman cabai dan bawang merah membuat embung yang lebih sederhana. Di setiap ha lahan, ia membuat 3 embung berkapasitas 6.000—8.000 l. Sebagai penahan air, pria kelahiran Kupang itu hanya menggunakan terpal. “Terpal mudah diperoleh, relatif murah, dan mudah diperbaiki kalau bocor,” kata Pieter. Selain itu, bahan itu awet dan masih ia gunakan sejak membuat embung pertama kali pada 2013.

Alat berat yang digunakan untuk membentuk tanggul embung.

Alat berat yang digunakan untuk membentuk tanggul embung.

Untuk membuat embung, Pieter menggali tanah sedalam 1,2 m dengan panjang dan lebar menyesuaikan kondisi lahan. “Terpal berukuran 6 m x 8 m cukup untuk membuat embung berukuran 2 m x 4 m dengan kedalaman air 1 m, yang mampu menampung 8 m3 air setara 8.000 l,” kata pria kelahiran 11 Agustus 1970 itu. Lantaran posisi air lebih rendah daripada lahan, Pieter mesti memompa air dari embung untuk menyiram tanaman.

“PIlihannya membayar biaya operasi pompa air atau tanaman mati kekeringan. Jelas saya memilih membayar biaya pompa,” ujar Pieter. Strategi itu efektif. Saat petani lain hanya bisa pasrah melihat tanaman meranggas kekurangan air, Pieter mampu memanen 11—12 ton cabai keriting dan 8 ton cabai rawit per ha lahan. Di tengah kelangkaan pasokan cabai akibat kemarau, ia meraup laba besar dari lonjakan harga cabai.

Harap maklum, cabai rawit adalah “makanan pokok” masyarakat Sulawesi Utara. “Orang tetap membeli berapa pun harganya. Paling mereka mengurangi jumlah pembelian agar dompet tidak jebol,” ungkap Pieter. Efektivitas embung mengatasi kelangkaan air saat kemarau membuat pemerintah melirik teknologi itu. Pada 27 dan 28 Juli 2015 lalu, Menteri Pertanian Dr Ir H Andi Amran Sulaiman MP mengunjungi beberapa sentra pemberdayaan tani yang dikomandoi Yayasan Obor Tani.

Selain memanen srikaya di Ngebruk, Kabupaten Kendal, Amran berdialog dengan petani yang lahannya diairi embung. Amran menyatakan bahwa salah satu strategi untuk mencapai swasembada beras, jagung, dan kedelai adalah dengan mencukupi kebutuhan air. “Caranya dengan membuat embung, sumur dangkal dan pengadaan pompa air,” kata doktor Pertanian alumnus Universitas Hasanuddin itu.

Untuk pengadaan embung di semua sentra pertanian seluruh Indonesia, Amran menyatakan pemerintah menyediakan dana Rp100-miliar. Targetnya air dari embung akan digunakan untuk menanam tanaman hortikultura dan pangan, termasuk padi. Menurut Pratomo, biaya pembuatan embung di daerah yang mudah diakses di Jawa berkisar Rp300-juta.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Bawono X ketika meresmikan embung Sriten pada Maret 2015.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Bawono X ketika meresmikan embung Sriten pada Maret 2015.

Namun kalau kesulitannya ekstrem seperti Nglanggeran atau Sriten atau di luar Jawa yang harga materialnya lebih mahal, biaya pembuatan sebuah embung bisa mencapai Rp750-juta—Rp1-miliar. Saat ini, provinsi yang paling getol membangun embung adalah Nusa Tenggara Timur. Pratomo menyatakan, hingga hari ini, provinsi yang berbatasan dengan Timor Leste itu sudah membangun 100 embung.

“Target mereka 700 embung, jadi masih kurang 600 lagi,” tutur Pratomo. Menabung hujan dengan embung terbukti efektif menyelamatkan tanaman dan masyarakat. Tanpa air kita tak mampu bertahan hidup Sayangnya, acap kali kita mengabaikan anugerah berupa air hujan. Kita membiarkan air itu pergi begitu saja. Dengan embung mereka mencoba memanen air hujan. (Argohartono Arie Raharjo)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d