Model mengenakan hiasan kepala berbentuk asimetris dengan gaya oriental karya Andy Djati Utomo

Model mengenakan hiasan kepala berbentuk asimetris dengan gaya oriental karya Andy Djati Utomo

Rangkaian bunga berpadu tata rias dan busana.

Putri itu tampak anggun dalam balutan gaun berwarna merah jambu. Hiasan bergaya oriental yang tersemat di kepala membuat penampilannya semakin menawan. Rangkaian bunga di kepala itu buah karya Andy Djati Utomo SSn, AIFD, CFD, perangkai bunga profesional di Jakarta Selatan. Ia berhasil “menghidupkan” kembali sosok putri Tiongkok pada acara demo merangkai bunga pada 21 November 2014.

Pemilik sekolah merangkai bunga Intuition Floral Art Studio itu membuat hiasan kepala sang putri dari tiga potong lempengan aluminium. Andy menutup setiap lempengan dengan lembaran daun leucadendron, ruscus, dan janur kering. Ia menyatukan ketiga lempengan itu dengan rangka berbentuk parabola dari kawat ayam sebagai tempat kepala. Selanjutnya, ia meletakkan jengger ayam merah dan bunga peoni fuschia.

Rangkaian bunga yang terinspirasi dari bentuk kue clorot karya Naniek Indrajid

Rangkaian bunga yang terinspirasi dari bentuk kue clorot karya Naniek Indrajid

Busana
Agar lebih elok, Andy juga menambahkan tiga buah tusuk konde dari stik akrilik merah berhiaskan tassel berwarna senada. “Warna merah identik dengan budaya Tiongkok. Tusuk konde dan tassel merupakan identitas kebudayaan bangsa Asia,” ujarnya kepada Trubus dalam acara yang diselenggarakan oleh Ikatan Perangkai Bunga Indonesia (IPBI) cabang Jakarta Selatan itu.

Memadukan seni merangkai bunga dengan busana juga diperagakan oleh Novembriati Semeru. Atiek, sapaannya, membuat kalung dan gelang etnik dari kumpulan alang-alang kering yang diikat menggunakan kawat dinamo. Ia menyempurnakan rangkaian dengan menambahkan manik-manik kristal serta mawar mini jingga dan kuning di beberapa titik.

Lucia Raras, ketua Dewan Perwakilan Cabang (DPC) IPBI Jakarta Selatan menuturkan demo yang mengusung tema Dynamic Duo itu bertujuan memperkenalkan kepada peserta bahwa rangkaian bunga bukan sekadar hantaran atau pemanis ruangan. “Rangkaian bunga juga dapat berkolaborasi dengan tata rias, busana, kuliner, desain interior, dan cindera mata,” ujar Lucia Raras.

Juara pertama lomba merangkai bunga mini karya Grace Yanuar

Juara pertama lomba merangkai bunga mini karya Grace Yanuar

Perangkai bunga di Jakarta Selatan, Naniek Indrajid, menampilkan rangkaian yang terinspirasi dari kekayaan kuliner khas Betawi yakni kue clorot. Naniek membuat rangkaian berbentuk kue clorot jumbo dari janur segar. Pada mulut rangkaian berbentuk kerucut itu, ia memasukkan floral foam lantas menghiasnya dengan aneka bunga berwarna merah jambu seperti mawar, anthurium, dan krisan. Rangkaian itu cocok digunakan untuk menghiasi bagian sudut atau tengah ruangan.

Rangkaian beraliran ikebana karya Lusy Wahyudi

Rangkaian beraliran ikebana karya Lusy Wahyudi

Petite
Teknik merangkai bunga dari Jepang alias ikebana juga tampak pada acara yang berlangsung di Jakarta Design Centre, Jakarta Pusat itu. Lusy Wahyudi menampilkan ikebana berbahan anthurium merah, anggrek bulan kuning, daun anggur laut, dan daun homalomena dalam pot hijau berbentuk trapesium. “Dalam ikebana setiap materi harus terlihat menonjol, tetapi tetap dalam kesatuan yang harmonis. Oleh karena itu, perangkai harus mengerti karakter masing-masing materi yang digunakan,” ujar Lusy Wahyudi.

Model mengenakan kalung dan gelang bergaya etnik karya Novembriati Semeru

Model mengenakan kalung dan gelang bergaya etnik karya Novembriati Semeru

Hasil karya perangkai bunga di Ciputat, Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Irin Yasin, pun memukau. Ia memperkenalkan daun lontar sebagai bahan merangkai bunga. “Lontar kalah sohor dengan janur,” ujar Irin. Padahal, daun tanaman keluarga Arecaceae itu juga dapat disulap menjadi beragam bentuk unik. Irin membuat 3 rangkaian bunga menggunakan daun lontar sebagai materi penyusun.

Baca juga:  Tiga Gelar Kayu Patah!

Perangkai yang kerap merangkai bunga di istana negara itu memanfaatkan kayu mangga sebagai wadah rangkaian pada salah satu rangkaiannya. Pada kayu setinggi 1 meter itu, ia melilitkan akar-akaran mulai dari dasar hingga puncak kayu. Ia juga menempelkan 5 kuntum bunga yang terbuat dari daun lontar kering di sekujur tubuh kayu. Selanjutnya, ia meletakkan bunga mawar jingga, amaranthus juntai hijau, dan daun lontar kering yang sudah diubah bentuknya menjadi spiral.

Daun lontar kering pun bisa dibentuk menyerupai bunga dan digunakan sebagai materi penyusun rangkaian

Daun lontar kering pun bisa dibentuk menyerupai bunga dan digunakan sebagai materi penyusun rangkaian

Dalam acara itu, panitia juga menantang peserta berlomba merangkai bunga berukuran mini alias petite. Peserta yang unjuk kebolehan harus membuat rangkaian berukuran 25 cm x 25 cm x 25 cm. “Rangkaian mini memerlukan ketelitian dan kerapian sangat tinggi” ujar Yoseph Winada, ketua panitia. Para juri yang terdiri atas Irin Yasin, Novembriati Semeru, Naniek Indrajid, Lusy Wahyudi, Mimi Sumiati, Wendy Mandik, Lily Sutanto, Lucia Raras, dan Herliana S. Wiharsa.

Ada 13 peserta yang turut serta dalam lomba itu. Rangkaian berbentuk payung berhasil menjadi juara pertama. Tujuh dari sembilan juri memberikan penilaian tertinggi pada karya Grace Yanuar itu. Grace membuat rangkaian setinggi telapak tangan orang dewasa itu dari rangka kawat. Ia menempelkan potongan daun ruscus pada punggung tudung payung. Sementara di bagian dalam tudung, ia mengikatkan babys breath dan kupu-kupu. Agar hiasan di dalam tudung terlihat maka Grace meletakkan kaca di kaki payung. (Andari Titisari)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d