Elok Sosok Euphorbus 1
E. labatii hibrida koleksi Hendick Purwanto di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur

E. labatii hibrida koleksi Hendick Purwanto di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur

Mereka menyilangkan euphorbia secara alami dan menghasilkan hibrida unik.

Cara Muhammad Habib Widyawan menghasilkan euphorbia baru dengan mendekatkan beberapa jenis tanaman. Pehobi euphorbia di Yogyakarta itu mengelompokkan indukan berdasarkan bentuk bonggol yakni pachycaul, ball shape, dan  medusoid.  Jenis pachycaul seperti ambovobensis, suzanne marniriae, dan waringinae; ball shape antara lain obesa dan horrida. Adapun jenis medusoid, misalnya stelata. Ia menanam 2—3 indukan berbeda, tapi masih dalam satu kelompok, dalam satu pot.

Hibrida hasil silangan E. labatii dengan E. raza

Hibrida hasil silangan E. labatii dengan E. raza

“Saya sengaja meletakkan beberapa indukan berbeda agar tanaman lebih mudah berpolinasi,” ujar Muhammad Habib Widyawan. Pria 21 tahun itu mengamati setiap anakan yang dihasilkan dari persilangan itu. Menurut pengamatannya, 80% gen induk betina mewarisi penampilan dan karakter anak. Silangan E. gottlebei dengan euphorbia sekelompok, menghasilkan tanaman berduri mencuat tapi lembut, serta daun runcing dan tipis. Itu karakter E. gottlebei.  Ada pula hasil silangan bebas antara ambovobensis, cylindrifolia var. Tuberifera, waringinae, dan suzanne marnirae. Bibit-bibit hibrida persilangan itu masih berumur 7 bulan sehingga belum tampak darah indukan yang diwariskan.

Induk betina

Hibrida baru euphorbia juga dihasilkan Hendick Purwanto di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Hendick mengungkapkan anakan hibrida biasanya mewarisi 75% darah induk betina. Namun, ada pula yang benar-benar beda, artinya darah kedua induk campur dengan persentase sama besar. Lihat saja hibrida hasil silangan E. waringiae dan E. cylindrifolia yang beberapa waktu lalu ikut kontes euphorbia. (Baca: Kampiun Keturunan Rosii, Trubus edisi Desember 2013).

Hibrida hasil silangan E. waringiae x E. cylindrifolia milik Hendick

Hibrida hasil silangan E. waringiae x E. cylindrifolia milik Hendick

Dua dari tiga anakan lebih cenderung mengikuti gen induk betina. Daun tebal dan banyak tumbuh daun merupakan ciri dari E. cylindrifolia. Sementara E. waringiae menurunkan sifat pada bentuk kaudeks atau bonggol dan ukuran bunga. Hendick cukup puas menyaksikan hasil silangan lainnya seperti E. labatii dan E. razafindratsirae. Sosok bunga hasil silangan itu mendekati khayalannya: berbonggol bulat dan besar, cabang pendek, dan daun rimbun. Namun, sosok hibrida  hasil silangan itu berdaun tidak lebar dan warnanya terlalu lembut. “Warna daun kurang eye catching,” ujar Hendick.

Baca juga:  Cat Tumpah di Daun Keladi

Meski begitu ia cukup puas karena bentuk dan ukuran kaudeks, serta corak daun mirip induknya E. labatii. Warna bunga lebih cokelat dibandingkan kedua tetuanya. Selain hibrida hasil silangan sendiri, Hendick juga memiliki euphorbia hibrida asal Thailand. Sayang, Hendrick tak memperoleh informasi mengenai tetuanya. Ia menduga hibrida itu hasil silangan E. labatii dengan E. suzanna marnieriae. Yang disebut pertama itu tampak dari bentuk kaudeks. Sementara daun yang kasat, lebar, dan lancip menyerupai karakter E. suzanna marnieriae.

E. decaryi v. decaryi x rakotozafyi

E. decaryi v. decaryi x rakotozafyi

Daun

Didi Turmudi di Jakarta juga penggemar euphorbia berkaudeks. “Bagian lain di mata saya tidak jadi sorotan. Jadi saya tidak bisa memberi penilaian,” kata Didi. Namun, ketika Trubus menyodorkan gambar E. labatii hibrida  yang terfokus pada daunnya yang rimbun dan kompak, ia pun memuji sosok euphorbia itu. Menurut Didi euphorbia itu memiliki daun bagus karena berkarakter.  Adapun Eko Wahyudi, kolektor sukulen di Cianjur, Jawa Barat, lebih menyukai euphorbia berdaun khas.

Ia mencontohkan silangan E. moratii dan E. decaryi yang berdaun tebal, bergelombang, bercorak, lebar, dan ada sepanjang tahun. “Urat daun terlihat jelas seperti anthurium,” ujar Eko. Daun  tebal, bergelombang, dan tak mengalami masa dorman ialah sifat yang diturunkan E. decaryi. Campuran sosok dan bentuk daun yang tebal, berbulu, dan ada buku halus berwarna merah di pucuk daun terlihat pada silangan E. milotii dan E.  maromokotrensis.

Hibrida silangan E. decaryi dan E. moratii koleksi Eko Wahyudi di  Cianjur, Jawa Barat

Hibrida silangan E. decaryi dan E. moratii koleksi Eko Wahyudi di Cianjur, Jawa Barat

Daun pun bertekstur melar seperti karet yang merupakan sifat yang diturunkan oleh E. milotii. Euphorbia hibrida lainnya memperlihatkan dominasi gen induk betina yaitu E. moratii. Daun lebar, tipis, dan totol-totol putih. Untuk menghasilkan euphorbia hibrida, Eko dan Hendick menyilangkan benangsari ke kepala putik. Dari polinasi hingga jadi biji butuh waktu 3—6 pekan. “Ciri biji yang matang dan siap semai itu kulit ari mengering dan biji meletup keluar cangkang,” kata Eko.

Baca juga:  Abadi di Tangan Pehobi

Eko menyemai biji di media campuran 90% pasir malang dan 10% bahan organik. Bahan organik terdiri dari serbuk sabut kelapa, sekam bakar, dan kompos terfermentasi. Menurut Eko dan Hendick dengan mengetahui asal tetua dan ciri khas induk yang  digunakan, memudahkan mengenali sosok anakannya. Kedua pehobi itu semula iseng menyilangkan, kini koleksinya beragam. Eko memiliki 50 euphorbia hibrida hasil silangan sendiri. Sementara Hendick menjadi penangkar euphorbia yang beberapa hibrida hasil silangannya pernah menyebet juara di kontes euphorbia daring (online) beberapa waktu lalu. (Pressi Hapsari Fadhilah/Peliput: Andari Titisari)

E. millotii x E. maromokotrensis, daun bertekstur melar seperti karet

E. millotii x E. maromokotrensis, daun bertekstur melar seperti karet

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *