Sosok bunga Cereus jamacaru yang elok di malam hari.

Sosok bunga Cereus jamacaru yang elok di malam hari.

Bunga kaktus cereus mekar seronok di malam hari.

Dalam kamus bahasa bunga atau floriografi, kaktus merupakan simbol kehangatan, ketahanan, dan semangat pantang menyerah. Jika seseorang memberikan hadiah sepot kaktus, artinya mengingatkan kita agar jangan mudah putus asa dan tetap bertahan. Nama kaktus berasal dari bahasa Yunani, yakni kaktos yang artinya tanaman liar berduri. Di dunia ada begitu banyak spesies dan varietas kaktus dengan bentuk dan warna yang beragam. Seorang pehobi tanaman hias senior di Bandung, Jawa Barat, menuturkan kaktus adalah sumber energi. “Menikmati keelokan tanaman gurun ditemani secangkir teh membuat semangat kembali meledak,” katanya.

Keunikan kaktus juga membuat banyak pehobi tanaman hias jatuh hati. Begitu pula dengan para perancang taman. Kaktus dapat menjadi pilihan sebagai elemen taman yang berkonsep taman kering. Beberapa pehobi menyukai konsep taman kering karena perawatannya cukup sederhana. Harap mafhum, kaktus tergolong tanaman bandel. Tanaman anggota keluarga Cactaceae itu mampu menyimpan cadangan air di dalam batang sehingga mereka mampu bertahan hidup di wilayah beriklim ekstrim, seperti padang pasir.

Bunga Cereus hildmannianus memiliki ukuran lebih besar dengan panjang 25—30 cm.

Bunga Cereus hildmannianus memiliki ukuran lebih besar dengan panjang 25—30 cm.

Ratu malam
Salah satu jenis kaktus yang bisa dijadikan ornamen taman adalah kaktus bergenus Cereus. Dalam bahasa Latin cereus artinya lilin atau obor. Mayoritas cereus bersosok tinggi menjulang. Batangnya terdiri atas 3—14 ribs atau lekuk. Kaktus yang banyak tumbuh di benua Amerika bagian selatan itu juga dikenal sebagai sang ratu malam lantaran memiliki bunga yang mekar di malam hari. Sebutan itu mengacu pada penampilan bunga cereus yang memang cantik bak ratu. Mahkota bunganya putih kontras dengan warna malam. Karena itu saat cereus mekar bunganya tampak mencolok di kegelapan.

Keindahan cereus dapat dilihat di Taman Meksiko, Kebun Raya Bogor, Kota Bogor, Jawa Barat. Taman Meksiko didesain khusus untuk menampung beragam koleksi tanaman yang tumbuh di kawasan gurun, seperti yucca, agave, dan euphorbia. Di taman seluas 7.285,488 m² itu terdapat 5 jenis koleksi cereus yakni C. jamacaru, C. repandus, C. hildmannianus, C. hexagonus, C. marginatus dan C. xanthocarpus. Kelima jenis cereus itu masing-masing memiliki karakter dan penampilan yang unik. Namun dari 5 jenis tersebut 3 diantaranya C. jamacaru, C. repandus, C. hildmannianus memiliki mahkota bunga yang cantik dengan ornamen yang sangat unik.

Penampilan bunga Cereus repandus.

Penampilan bunga Cereus repandus.

Habitat asal jamacaru adalah Brazil bagian timur. Populasi tanaman tersebar di beberapa negara bagian antara lain Alagoas, Sergipe, Bahia, Goias, dan Pernambuco. Mereka hidup di daerah berketinggian 50—1.200 m di atas permukaan laut (m dpl). Mandacaru—nama lain jamacaru—mudah dijumpai di tanah berpasir dan berbatu. Tinggi tanaman sekitar 4—12 meter dengan diameter batang 20—60 cm. Dahulu penduduk setempat memanfaatkan jamacaru untuk bahan kontruksi. Adapula yang memanfaatkan sebagai tanaman pagar.

Baca juga:  SIAP KOKEDAMA

Jamacaru memiliki bunga nan elok. Warnanya putih dengan panjang hingga 30 cm. Bunga mulai mekar saat senja dan layu menjelang pagi. Kuncup bunga biasanya muncul di pertengahan musim semi. Buah jamacaru berwarna ungu dan bisa dikonsumsi. Cita rasanya manis serupa buah naga. Penduduk Bonaire—pulau yang terletak di Laut Karibia—memanfaatkan buah jamacaru sebagai bahan sup. Di dalam buah terdapat pulp berwarna putih dengan biji hitam yang kerap menjadi santapan burung.

Habitat asal Cereus jamacaru adalah Brazil bagian timur. Populasi tanaman tersebar di beberapa negara bagian antara lain Alagoas, Sergipe, Bahia, Goias, dan Pernambuco.

Habitat asal Cereus jamacaru adalah Brazil bagian timur. Populasi tanaman tersebar di beberapa negara bagian antara lain Alagoas, Sergipe, Bahia, Goias, dan Pernambuco.

Penampilan bunga jamacaru sejatinya mirip dengan bunga repandus. Pun karakternya yang hanya mekar di malam hari. Bunga muncul setahun sekali, biasanya di Juni. Mahkota bunga berwarna putih atau pink dengan aroma menyengat. Repandus terkenal dengan julukan kaktus apel peru. Habitat asal repandus meliputi benua Amerika bagian selatan, termasuk kepulauan ABC (Aruba, Bonaire, dan Curacao). Tinggi tanaman sekitar 10 m dengan diameter batang 10—20 cm. Perbanyakan repandus sangat bergantung pada reproduksi seksual. Perbanyakan vegetatif terjadi saat cabang tanaman jatuh dari individu dewasa.

Adapun hildmannianus berukuran bunga lebih besar, yakni berdiameter 25—30 cm. Buahnya berwarna merah dan aman dikonsumsi. Yang menarik, hildmannianus memiliki tubuh berwarna biru kehijauan, lalu berubah menjadi hijau kusam seiring waktu. Tinggi tanaman mencapai 10 m. Jumlah ribs hildmannianus sebanyak 4—6 lekuk. Pada batang bagian atas seringkali tidak berduri. Habitat asal hildmannianus tersebar di beberapa negara antara lain Argentina, Paraguay, Urugay, dan Brasil.

Taman Meksiko menjadi tempat khusus untuk mengoleksi tanaman kaktus dan sukulen di Kebun Raya Bogor.

Taman Meksiko menjadi tempat khusus untuk mengoleksi tanaman kaktus dan sukulen di Kebun Raya Bogor.

Buah cereus pada umumnya berwarna merah keunguan atau kekuningan. Daging buah berwarna putih dengan tebaran biji yang berukuran kecil berwarna hitam. Daging buah dapat dimakan langsung atau dibuat jus. Buah itu berpotensi sebagai buah alternatif masa depan dan berpeluang dikembangkan secara komersial. Sayangnya belum ada penelitian yang mengupas pemanfaatan buah cereus.

Baca juga:  Panen Jeruk Sadu Bermutu

Waktu mekar
Secara umum proses mekar bunga cereus hampir mirip. Yang membedakan hanya daya tahan bunga saat mekar maksimal. Bunga jamacaru mampu bertahan lebih lama dalam kondisi mekar maksimal dibandingkan dengan repandus dan hildmannianus. Pembungaan cereus dimulai dengan munculnya kuncup bunga di beberapa batang tanaman. Lazimnya, satu cabang terdapat 2—3 kuncup. Kuncup-kuncup itu muncul pada pagi lalu bertahan hingga jam 4 sore. Menjelang malam sekitar jam 7—10 bunga mekar perlahan-lahan.

Bunga mekar sempurna sekitar pukul 24.00 hingga pukul 02.00. Selanjutnya bunga berangsur-angsur layu. Menyongsong pagi bunga cereus menguncup kembali. Hasil penelitian menunjukkan, fase anthesis—kondisi saat bunga mekar sempurna dan diiringi masaknya organ jantan dan betina—terjadi pada pukul 19.00—20.00. Ketika itu serbuk sari menempati permukaan dalam kepala sari yang telah pecah. Selain itu, pada permukaan kepala putik terdapat lendir tipis.

Kala Sang Ratu Berbunga

Kala Sang Ratu Berbunga

Penyerbukan bunga cereus tidak bisa lepas dari bantuan serangga. Serangga yang berperan sebagai polinator utama pada bunga jamacaru, repandus, dan hildmannianus adalah trigona. Adapula serangga penyerbuk lain, seperti lebah, semut, dan kumbang hijau. Aktivitas polinasi itu selalu terjadi malam hari dimana bunga sedang mekar maksimal. Penyerbukan dimulai setelah serbuk sari lepas dari kepala sari. Proses itu lantas berlanjut hingga serbuk sari mencapai kepala putik.

Biji buah cereus bisa digunakan untuk perbanyakan generatif.

Biji buah cereus bisa digunakan untuk perbanyakan generatif.

Penyerbukan yang berlangsung sempurna menghasilkan buah berisi biji-bijian. Biji buah cereus biasanya digunakan sebagai bahan perbanyakan generatif. Namun, perbanyakan generatif jarang dilakukan lantaran memakan waktu lebih lama. Keuntungannya tanaman baru yang didapat lebih banyak. Jika ingin memperbanyak dengan biji, bersihkan biji menggunakan air mengalir sebelum disemai. Selanjutnya, kering anginkan selama sehari. Biji yang sudah kering pun siap disemai. Gunakan media tanam porous berupa pasir halus untuk persemaian. Selanjutnya, letakkan persemaian itu di lingkungan bersuhu 30°C.

Tanaman kaktus Cereus hildmannianus di Taman Meksiko, Kebun Raya Bogor.

Tanaman kaktus Cereus hildmannianus di Taman Meksiko, Kebun Raya Bogor.

Namun, para pehobi biasanya lebih memilih teknik perbanyakan vegetatif untuk menggandakan cereus karena waktu berbunga lebih singkat. Caranya dengan melakukan setek batang. Potong bagian batang yang masih muda, lalu biarkan bagian yang dipotong itu mengeras selama 1—2 pekan. Setelah itu batang cereus siap ditanam. (Elly Kristiati Agustin SP/Peneliti di Pusat Konservasi Tanaman, Kebun Raya Bogor, Bogor, Jawa Barat)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d