Euphorbia hasil silangan Santiporn 75% bergenetik francoisii.

Euphorbia hasil silangan Santiporn 75% bergenetik francoisii.

Tiga keturunan Euphorbia francoisii yang menawan.

Namanya mengingatkan kita pada sosok raksasa di samudera, yakni pari manta Manta birostris yang berbobot 3 ton. Santiporn Sangchai memberi nama manta pada euphorbia hasil silangannya. Itu karena bentuk euphorbia baru silangannya seperti ikan pari. Sosok euphorbia manta sungguh mempesona. Penampilan manta memukau karena berukuran mini, sekepalan tangan balita. Seratnya berwarna ungu, keriput, dan bertulang daun menonjol.

Menurut Santiporn, penyilang di Bangkruai, Nonthaburi, Thailand, manta hasil persilangan Euphorbia tulearensis dan Euphorbia francoisii klon larocca. E. tulearensis menurunkan sifat bentuk daun keriting dan keriput, sedangkan E. francoisii mewariskan sifat warna tulang daun ungu. Lek—panggilan akrab Santiporn—menyilangkan kedua indukan itu pada 2016. Euphorbia baru lain milik Lek yaitu legacy hasil silangan E. francoisii dan E. Tulearensis.

Baru
Santiporn lalu menyilangkan anakan francoisii dan tulearensis dengan E. francoisii. “Dengan cara itu legacy memiliki 75% genetik francoisii,” kata Lek. Warna daun berasal dari tulearensis, sedangkan bentuk tanaman menurun dari francoisii. Tidak hanya manta dan legacy yang menarik perhatian Trubus yang mengunjungi nurseri Lek pada Maret 2017. Deretan euphorbia berbentuk daun mapel Acer sp tampak amat elok.

Stardust, Euphorbia francoisii hibrida berdaun seperti maple.

Stardust, Euphorbia francoisii hibrida berdaun seperti maple.

Lek menamakan tanaman anggota famili Euphorbiaceae itu stardust. Kelebihan lain stardust antara lain terdapat warna ungu pada bagian sisi dan ujung daun serta berurat daun menonjol. Tanaman itu gabungan dari E. francoisii yang menurunkan sifat bentuk seperti daun maple dan E. tuliarensis yang mewariskan sifat warna ungu pada ujung daun. Manta, legacy, dan stardust varian euphorbia terbaru milik Lek.

Baca juga:  Sarang Walet Menjaga Otak

Ketiganya bergenetik E. francoisii. Pemilik Little One Plant Nursery itu memilih francoisii sebagai induk lantaran motif daun beragam dan varian tertentu seperti klan larocca jarang dikembangkan. Menurut pehobi tanaman hias di Bang Bon, Bangkok, Thailand, Tasson Theeraprapha, euphorbia hibrida francoisii termasuk varian baru di Thailand. “Bentuk dan warna hasil persilangan francoisii beraneka ragam dan unik,” kata Tasson Theeraprapha.

Tanaman hibrida itu juga adaptif di negara tropis seperti Thailand dan Indonesia. Lebih lanjut pemilik Tasson’s Craft Garden itu menuturkan cara membedakan E. francoisii hibrid dan galur murni dengan menyentuh bawah daun. Eddie—begitu sapaan Tasson—menuturkan jika bawah daun bergerigi berarti tanaman itu keturunan francoisii hibrida. Sebab, mayoritas francoisii hibrida bertulang daun tebal.

Santiporn Sangchai (kiri) dan Tasson Theeraprapha, keduanya pehobi euphorbia di Thailand.

Santiporn Sangchai (kiri) dan Tasson Theeraprapha, keduanya pehobi euphorbia di Thailand.

Namun, jika bagian bawah daun mulus tanpa penebalan tulang daun berarti jenis francoisii galur murni. Kolektor tanaman sukulen di Surabaya, Jawa Timur, Sugita Wijaya, mengatakan tren E. francoisii terus berkembang seperti mode. Lazimnya varian terbaru perbaikan dari tanaman sebelumnya. Misal daun makin pendek, warna makin cerah atau pudar, serta urat daun yang lebih unik.

Lebih lanjut Wijaya mengatakan kini pehobi menyilangkan francoisii dengan jenis euphoria lain. Tujuannya untuk memperoleh varian baru euphorbia. Musababnya perkawinan antargalur murni sulit menghasilkan varian anyar. Sementara pehobi haus varian terbaru. Kendala perkawinan antarspesies banyak tanaman mandul dan anakan yang tidak sebagus indukan.

Pantang menyerah
Pola penyilangan balik ke indukan galur murni bertujuan menghindari anakan mandul. Cara perbanyakan vegetatif dengan cutting relatif stabil. “Kekurangan cara itu pehobi tidak bisa menikmati keindahan bonggol,” kata pria penyuka mobil klasik itu. Penangkar euphorbia di Bojonegoro, Jawa Timur, Hendick Purwanto, mengatakan E. francoisii hibrida bukan barang baru di tanahair.

Baca juga:  Kara Bersalin Rupa

Meski begitu Hendick kerap kesulitan menyilangkan euphorbia berbonggol bongsor itu. Ia baru berhasil satu kali menyilangkan francoisii. Hendick menduga, iklim mikro di suatu daerah mempengaruhi keberhasilan persilangan euphorbia. “Idealnya persilangan dilakukan di lingkungan buatan. Itupun hasilnya kadang tidak sesuai harapan,”katanya. Lek fokus menyilangkan E. francoisii sejak 2016.

Euphorbia francoisii hibrida (kiri) bertulang daun lebih tebal dibandingkan dengan indukan galur murni.

Euphorbia francoisii hibrida (kiri) bertulang daun lebih tebal dibandingkan dengan indukan galur murni.

Saat itu hasil persilangan mengecewakan karena hanya 100 dari 1.000 indukan berkualitas baik. Namun, Lek tidak menyerah. Ia tetap menyilangkan tanaman kerabat singkong Manihot esculenta itu. “Sejak 2017 euphorbia bikinan saya stabil dan 70% hasil persilangan berkualitas istimewa,” kata pemilik toko tanaman hias di JJ Market, Chatuchak, Thailand, itu. Caranya Lek mengawinkan euphorbia hibrida dengan salah satu induk atau perkawinan balik (backcross).

Manta, euphorbia hibrida berpola mirip ikan pari.

Manta, euphorbia hibrida berpola mirip ikan pari.

Lek tidak menamakan semua euphorbia hibrida kreasinya. Hanya anakan terfavorit yang ia beri nama seperti manta, legacy, dan stardust. Kini terdapat sekitar 1.000 induk euphorbia berbagai jenis di lahan 5.000 m² milik Lek. Lek mengatakan menyilangkan euphorbia sejatinya mudah. Caranya Lek mengambil benang sari pada bunga jantan menggunakan kuas lalu mengoleskannya ke putik.

Upayakan pilih bunga segar dan sehat. Waktu persilangan terbaik pukul 09.00—15.00 karena sinar matahari melimpah. Lek memanen ratusan biji setiap hari. Kemudian ia menyeleksi yang terbaik lalu menanamnya. Tanaman berumur 8 bulan bisa menjadi induk karena sudah berbunga. Kehadiran manta, legacy, dan stardust makin memeriahkan dunia euphorbia Thailand. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d