Ekspor Udang 1
Indonesia kaya udang antara lain red claw fCherax quadricarinatus

Indonesia kaya udang antara lain red claw fCherax quadricarinatus

Pada awalnya semua udang bukanlah hewan ternak, tetapi diburu baik di laut, di air tawar, maupun di muara berair payau. Baru sekitar 1970-an, majalah berita terkemuka, Time, menulis tentang ternak udang.  Seorang pengusaha Amerika dikabarkan berhasil membudidayakan udang di Peru. Di Jakarta, kakak-beradik Iskandar dan Sofjan Alisjahbana memutuskan pergi menemui pengusaha marikultur itu. Mereka mencari alamatnya di New York, dan menyusul ke Peru. Hasilnya jelas, Iskandar Alisjahbana (1931—2008) termasuk pioner budidaya udang di Indonesia.

Bersama adik dan teman-temannya ia terbang menyusur pantai utara Jawa dan pantai timur Sumatera, untuk mewujudkan cita-citanya. Apakah cita-citanya?  Salah satunya adalah mencukupkan kebutuhan pangan. “Karena 70% kawasan Indonesia terdiri dari lautan, maka kebutuhan makanan harus diupayakan dari laut,” katanya.  Maka penggemar olahraga layar dan dayung sejak kecil itu berkecimpung di perairan.  Ketika wafat, ia sedang bereksperimen dengan arus ombak yang diolahnya untuk menjadi sumber energi.  Ia percaya dengan turbin, negeri ini bisa diterangi listrik dari tenaga ombak di laut.

Udang sendiri

Industri udang yang dibangun Iskandar dan Sofjan Alisjahbana pun berjaya.  Perusahaannya pernah memasok 60% kebutuhan bibit udang di seluruh Indonesia.  Ia juga menciptakan pakan udang yang diharapkan dapat menghasilkan produk udang yang sehat, kuat, mampu menghadapi berbagai macam penyakit di lautan. Sekarang, Indonesia menjadi penghasil udang dengan ekspor mendekati 1-juta ton setiap tahun.  Kalau hasil ekspor satu triwulan dari Indonesia mencapai US$2-miliar, maka udang menyumbangkan lebih dari sepertiganya: di atas US$720-juta.

Itulah hasil pioner, pelopor industri  tepat guna Iskandar Alisjahbana, mantan rektor Institut Teknologi Bandung, yang juga seorang mahaputra. Setelah tambak udang dikembangkan di berbagai provinsi, Sofjan Alisjahbana yang ditinggal kakaknya, membangun marikultur lebih maju lagi.  Ia membudidayakan ikan kakap putih atau baramundi.  Itu juga sebuah temuan baru.  Ternyata, ikan yang biasanya mondar-mandir di seputar muara, bisa diternakkan secara massal dengan keramba-keramba raksasa di laut lepas. Lagi-lagi laut membuktikan fungsinya sebagai pemasok makanan masa depan.

Kita baru sadar bahwa kekuatan Indonesia sebagai pemasok makanan dunia justru karena punya laut.  Oleh karena itu bukan gertak-sambal kalau pada 2014 dicanangkan ekspor udang bisa menembus angka satu juta ton.  Meskipun begitu, angka itu belum apa-apa jika dibandingkan kebutuhan udang di tingkat dunia.  Amerika Serikat saja mengaku bisa menyerap satu miliar ton udang dalam setahun. Untuk konsumsi dalam negeri, kita mengenal berbagai jenis termasuk udang putih, udang raja, udang rebon, udang windu, udang galah, dan udang dogol yang populer sebagai udang sampingan.

Baca juga:  Borage Rival Kanker

Namun, justru udang sampingan itulah yang menjelang 2014 menjadi hit lantaran harganya melonjak dari Rp80.000 menjadi Rp130.000 per kilogram.  Padahal, udang vaname yang populer di tambak, harganya stabil Rp90.000 per kilogram. Pada akhir 2013 itu, berbagai restoran di Jawa Barat kekurangan udang dogol sehingga mendatangkan pasokan dari mana-mana.  “Jadi, kalau mau membuka restoran dengan spesialisasi udang, sebaiknya memelihara udang sendiri,” kata sahabat dan guru saya, Ajip Rosidi.

Sastrawan terkemuka asli Jatiwangi, Kabupaten Majalalengka, Jawa Barat, itu menetap di Pabelan dan membuka saung–rumah makan sunda dengan andalannya: udang goreng madu.  Konon ia terinspirasi oleh Mang Engking, yang memang dikenal rajanya restoran udang goreng. Jadi untuk memasok kebutuhan udangnya, ia membuat kolam-kolam di sepanjang sungai jernih yang menuju ke arah restorannya. Letaknya hanya sekitar 4 kilometer dari Candi Borobudur, dan namanya cukup dikenal dengan Saung Ibu Empat—diiambil dari nama isterinya.

Yang menyenangkan adalah pasokan udang dari kolam sendiri.  Untuk menyediakannnya, ia tidak segan-segan membeli tanah-tanah di sepanjang tepi sungai, dari mata-air yang terdekat. Katanya ia mendapat benur dari Bali.  Benur adalah benih udang galah yang sangat terkenal sebagai produk air tawar. Memasuki 2014, harga udang galah mencapai rekor tertinggi dalam sejarah, yaitu naik sampai 300%.  Harga yang ukuran 20 ekor per kilogram mencapai di atas Rp150.000. Itu pun kalau ada pasokan di pasar.  Maka dengan memelihara udang sendiri, restoran akan terjamin dan kualitasnya terjaga.

Revitalisasi tambak   

Di Pantai Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Povinsi Jawa Barat, sebuah restoran udang yang terkenal menghabiskan 400 kg  udang dalam sepekan. Memang bukan udang galah, tetapi udang dogol yang ternyata harganya juga ikut-ikutan menjadi mahal. Di sepanjang  pantai, Indonesia memiliki 1,2 juta hektar tambak, yang 700.000 hektar di antaranya potensial untuk udang.  Sejak 2012, pemerintah melakukan revitalisasi tambak udang di Serang, Tangerang, Karawang, Subang, Indramayu, dan Cirebon. Menteri Kelautan dan Perikanan,  Sharif C. Soetardjo menghitung revitalisasi tambak itu menyerap 130.000 orang tenaga kerja.

Baca juga:  Kontes Terbesar di Dunia

Hasilnya juga sangat positif.  Perluasan tambak yang berfungsi semakin banyak—mencapai 675 ha di enam lokasi itu.  Di pantai-pantai itu yang paling banyak dipelihara adalah udang windu.  Contohnya adalah di Desa Karangsong, Indramayu yang mempunyai tambak 800 ha. Puncak kejayaan udang windu di pantai utara tercapai pada 1980-an, tetapi kemudian merosot habis memasuki 2000.  Berbagai penyakit akibat pencemaran air laut bermunculan.  Itulah juga sempat diprihatinkan oleh Iskandar Alisjahbana—yang  5 tahun wafatnya diperingati belum lama ini.

Sementara itu, mulai 2005 sebagian petambak udang beralih memelihara ikan air payau, terutama bandeng. Maka, untuk mengembalikan kejayaan Indonesia sebagai penghasil udang, sekaligus merespon kebutuhan udang yang semakin tinggi di seluruh dunia, pemerintah mengadakan revitalisasi itu.  Hasilnya sudah mulai tampak.  Bahkan, dengan tidak disangka-sangka, ekspor udang menyumbang pemasukan devisa negara yang sangat tinggi. Sebetulnya, semua provinsi di Indonesia punya pantai dan bisa memproduksi berbagai jenis udang.

Eka Budianta

Eka Budianta

Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengklaim bahwa udang vaname produksi setempat sudah diekspor ke Korea dan Amerika Serikat. “Produksi udang vaname Bantul sebagian besar dipasok ke Sidoarjo dan Cirebon, kemudian dari situ ada yang diekspor ke Korea, juga ke Amerika Serikat,” kata Kepala Bidang Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Bantul, Subiyanto Hadi, akhir Februari 2014. Sayang dia tidak menjelaskan berapa ton yang sudah terkirim, karena yang menangani adalah eksportir di Sidoarjo, Jawa Timur.

Meskipun begitu ia mencatat, setahun ini  tiga kelompok yakni kelompok Vaname Lestari di Kecamatan Sanden mampu produksi 42 ton, kelompok Tirta Anugerah di Pandansimo, Srandakan, produksi 107 ton, dan Taruna Bahari memproduksi 40 ton. “Total produksi udang vaname hingga Desember 2013 sebanyak 189 ton,” katanya. Untuk investasi awal memang butuh modal besar sekitar Rp150-juta untuk membuat kolam. Namun, kalau sudah panen bisa kembali modal, sehingga panen berikutnya hasilnya bisa dinikmati karena hanya dikurangi biaya pakan dan perawatan.***

Eka Budianta *) Kolumnis Trubus, aktivis lingkungan dan kebudayaan, pengurus Jababeka Botanic Gardens dan Tirto Utomo Foundation.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *