Eka Budianta*

Eka Budianta*

“Jangan berdusta di Pulau Bali. Burung cerucuk akan tertawa. Dan kamu pasti ketahuan.” Itulah yang saya dengar dari penulis dan pendidik, I Made Taro. Buku tentang burung kejujuran itu langsung memenangkan hadiah Buku Utama, pada awal 1990-an. Burung memiliki peran sangat besar dalam masyarakat Indonesia.  Pasar burung nyaris ada di setiap kota besar.  Tidak kalah dengan pasar bunga.

Di Bogor, misalnya, kita dapat membaca daftar harga 53 jenis burung. Yang paling murah, burung pleci dibanderol Rp25.000—Rp50.000 seekor. Sampai murai medan yang ditawarkan Rp3 juta. Sepertinya harga itu tidak berubah sejak 2012. Masyarakat Kicau Mania masih memasangnya di berbagai laman. Ratusan, kalau tidak sampai ribuan cerita burung juga masih beredar.  Maklum saja, kita termasuk bangsa burung.

Lambang kebanggaan Indonesia burung garuda dengan simbol elang jawa Nisaetus bartelsi. Tidak perlu memelihara sendiri burung garuda. Kalau mau, adopsi yang sedang dirawat dan akan dilepasliarkan. Ada program pelepasliaran burung-burung sitaan.  Saya pernah  mengadopsi satu garuda cukup Rp600.000 per tahun di Kulonprogo, Yogyakarta. Dalam dua tahun burung itu sudah pandai cari pakan sendiri dan dimerdekakan di kawasan Merbabu-Merapi.

Nuri setia
Burung tidak hanya membuat manusia menjadi jujur dan berekonomi tinggi, tapi juga belajar bermurah-hati.  Itulah yang menyentuh saya ketika bertemu seorang ibu bernama Nuri Wulandari.  Dalam sebuah bus pariwisata, Nuri berkisah tentang burung nurinya.  Nuri ambon Alisterus amboinensis termasuk tujuh burung paling disukai masyarakat. Paruhnya bengkok, matanya bulat dan jernih.

Sayapnya hijau, tapi badan bagian atas merah dominan, punggung dan ekornya biru. Penampilan jantan maupun betina relatif sama. Suka buah-buahan segar, biji-bijian, dan kuncup bunga. Mereka burung endemik di Maluku dan Papua Barat. “Hah? Bagaimana menyelundupkan ke Jakarta?”  Dimasukkan botol air minuman dalam kemasan?  Betul.  Kasihan sekali.  Berbulan-bulan ia sakit.

Bulunya rontok semua.  Kalau stres, ingat trauma buruknya, dia tidur miring-miring badannya.  Stop! Jangan diteruskan – saya tidak tahan ceritanya. Nuri dengan penuh kasih sayang, merawat burung nurinya.  Setiap hari ia menyuapkan susu sampai sembuh.  “Lima tahun ia hidup bersama keluarga kami,” katanya.  Sehat dan ceria sampai  hari terakhirnya.  Saya menangis. Semoga burung itu sudah bahagia untuk selamanya.

Baca juga:  Fumigan Asap Tempurung

Belakangan pehobi nuri besar alias macaw ramai berkiprah.  Video di Youtube, Instagram, bahkan di grup whatsapp dibanjiri klip penyayang nuri.  Ada yang beramai-ramai memenuhi atap gedung pencakar langit di Hongkong, Beijing, dan Korea Selatan.  Ada juga di kawasan tambak yang luas, lapang bebas hambatan di pantai utara, termasuk Jawa Timur. Setidaknya ada 10 jenis burung macaw besar warna-warni impor dari Amerika latin itu menyebar ke berbagai penjuru dunia dengan harga tiga sampai tujuh ribu dolar.

Di antaranya adalah scarlet macaw, nobel macaw, dan hyacinth macaw.  Harga burung itu setara Rp40 juta—Rp100 juta. Memang banyak burung yang hanya dibiarkan bertengger di kandang.  Namun, banyak pencinta yang membebaskan sejenak untuk menikmati cakrawala.  Mereka setia dan selalu pulang ke tangan pemiliknya. Nuri bukan hanya setia tapi juga cerdas. Jenis ini bisa dilatih menirukan manusia bicara.

Berbagai tip untuk melatih nuri bicara, batuk, minta maaf, dan berterima kasih bisa diunduh. Melimpah berikut contoh-contohnya di internet.  Ada yang sekadar berseru “Masya Allah”  memanggil nama, atau Assalamu’alaikum. Ada juga nuri yang jago bernyanyi potongan lagu-lagu populer.

Burung-burung hias turut menggerakkan perekonomian masyarakat, bagian dari hobi masyarakat perkotaan untuk melepas penat.

Burung-burung hias turut menggerakkan perekonomian masyarakat, bagian dari hobi masyarakat perkotaan untuk melepas penat.

Penangkaran
Sejak ratusan tahun lalu kita sudah mengenal Hikayat Bayan Budiman.  Itu burung nuri yang diajar bicara untuk menemani istri bila suaminya seorang saudagar pergi berdagang berbulan-bulan.  Dalam kisah itu si burung nuri melihat istri tuannya berselingkuh.  Tentu saja harus dicegah jangan sampai bercerita kalau suami pulang.  Apa yang terjadi sehingga ia burung budiman? Silakan buka-buka lagi cerita burung pada masa silam.

Yang lebih menarik adalah memajukan penangkaran dan pelatihan burung-burung bicara. Kakaktua online menyediakan anakan, maupun yang sudah pintar lengkap dengan jasa pengirimannya. Jadi untuk menghindarkan burung dari penderitaan, tentu ada prosedurnya.  Memang nuri termasuk spesies yang dilindungi.  Namun, ada izin untuk diperdagangkan dengan pengawasan.

Baca juga:  Jani Ginting: Tebang Sawit Pilih Salak

Lebih ketat daripada burung kenari, parkit, dan love bird – si burung cinta. Setiap hari kita bisa mengakses perbaikan harga burung dari berbagai pasar. Ada situs Wahana Kicau yang dikelola Penangkar Murai Batu. Masyarakat selalu diajak mengikuti tren terbaru.  Yang paling mudah tentu langsung ke pasar burung terdekat.  Tentu tidak hanya untuk jual-beli.  Ada banyak klub mengadakan program barter, atau tukar-menukar burung.

Pada 1980—1990-an kampanye perjodohan burung nasional tidak berhasil.  Sekarang, perjodohan burung kacer pun berjalan. Makin maju masyarakat, makin berkembang penangkaran.  Arena lomba kicau burung, balap burung, ekshibisi burung hias juga berkembang. Taman-taman botani dan taman kota pun bisa hidup dengan mengadakan lomba burung berkicau secara reguler.

Itu tidak lepas dari semakin banyaknya penangkar dan penggemar burung hias, burung berkicau, maupun nuri yang bisa bicara. Ternak cucakrawa, lovebird, muraibatu, cerucuk, bahkan pleci pun dapat ditemukan di kota besar maupun kota seukuran Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur.  Jangan lupa, ada juga warga kota yang bangga dan hidup dari burung walet.  Mereka tidak beternak, tapi menyediakan gedung-gedung bertingkat, untuk ribuan bahkan berjuta walet yang membawa rezeki.

Perekonomian berbasis burung, memang lumayan kuat di negeri kita. Lebih dari itu, burung ikut menjaga integritas dan keluhuran budi pekerti manusia.  Untuk lebih jelasnya, silakan menyapa tetangga yang suka perkutut di pulau Jawa, pemerhati burung cerucuk di Bali, atau penyuka burung punai di Sumatera.  ***


*) Budayawan, kolumnis Trubus sejak 2001, aktifis Tirto Utomo Foundation dan kebun organik Jababeka, Cikarang. 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d