Edamame Mutu Prima

Edamame cocok dikembangkan di ketinggian 900-1.200 m diatas permukaan laut.

Edamame cocok dikembangkan di ketinggian 900-1.200 m diatas permukaan laut.

Benih dan perawatan kunci sukses bertanam edamame.

Importir asal Singapura minta pasokan rutin 40 ton per pekan dari Bramantyo Rinadhi. Pembeli dari negeri jiran itu mengenal edamame dari rekannya yang kebetulan konsumen Bramantyo. “Warga Singapura itu kepincut edamame saya karena bercitarasa enak dan manis,” kata Ebang—sapaan Bramantyo Rinadhi yang membudidayakan edamame sejak 2011.

Kejadian serupa terulang pada 2013. Saat itu beberapa konsumen dari Jepang berkunjung ke gudang Ebang di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Mereka menampung berapa pun polong Glycine max produksi Bramantyo. Sayang, alumnus Fakultas Peternakan Universitas Bandung Raya itu tidak bisa memenuhi permintaan kedua warga negara asing itu.

Benih unggul
Volume produksi edamame Ebang terbatas akibat kelangkaan benih sehingga menghambat kontiniuitas pasokan. Di dalam negeri permintaan pun membeludak mencapai 5 ton pe hari. Namun, kapasitas produksi petani edamame baru 1—2 ton per hari. Tingginya permintaan karena Ebang mampu menghasilkan vegetable soybean berkualitas prima. Ia mengatakan kunci sukses bertanam edamame yakni kualitas benih dan perawatan.

Benih bagus mesti berukuran besar, kering, keras, dan berwarna kuning cerah. Untuk menentukan mutu benih ia mengambil sampel dan menanamnya selama sepekan. Jika 10 benih yang ditanam berkecambah semua berarti kualitas benih bagus. Ebang mengembangkan jenis edamame ryoko berpotensi produksi 7 ton per ha.

Berdasarkan penelitian Nurman Abdul Hakim dari Jurusan Budidaya Tanaman Pangan Politeknik Negeri Lampung benih yang diproduksi di dataran tinggi—lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut (dpl)—memberikan pertumbuhan tanaman yang lebih baik ketimbang benih dari dataran rendah.

Nurman mengamati tinggi, bobot, dan persentase perkecambahan benih edamame dari dataran tinggi lebih bagus daripada benih asal dataran rendah. Peneliti menduga pembentukan enzim pada benih dari dataran tinggi lebih cepat daripada benih asal dataran rendah. Dampaknya perkecambahan dan pertumbuhan edamame muda menjadi lebih cepat. Menurut Ebang membudidayakan sayuran yang sangat populer di kawasan Asia timur itu sangat mudah.

Tanpa residu
Ebang membikin bedengan dengan lebar 90 cm dan panjang menyesuaikan kondisi lahan. Jarak tanam 20 cm x 20 cm. Tiap lubang tanam sedalam 3—4 cm berisi 3 benih. Tujuh hari setelah tanam (hst) ia melakukan penyulaman untuk mengganti bibit yang mati. Ia memberikan pupuk dan pestisida secara berkala (baca ilustrasi: Cara Tanam Kedelai Jepang)

Ia menghentikan penyemprotan pestisida pada 20 hari menjelang panen agar edamame bebas residu. Ebang membuktikan itu dengan meraih sertifikat Prima 3 dari Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Barat pada 2013. “Artinya produksi edamame saya bebas residu pestisida,” kata ayah 1 anak itu. Ia juga menggunakan mulsa pada budidaya edamame agar pertumbuhan gulma terhambat.

Itulah pola dan teknik tanam yang dilakukan Ebang dan petani mitra. Pola dan teknik itu terus diperbaharui setiap tahun. Pada November 2015 Ebang berencana mengembangkan edamame sistem organik, yaitu lebih banyak menggunakan pupuk organik daripada pupuk kimia. Menurut Ebang pasar menghendaki edamame berpolong 2—3 yang terisi penuh, kulit hijau cerah, berpenampilan mulus, dan manis.

“Sekitar 95% edamame saya masuk kriteria itu,” kata pria berumur 27 tahun itu. Konsumen edamame Ebang beragam meliputi pembeli langsung, distributor, dan pasar swalayan.

Tags: