Dwi Bintarto – Cinta untuk Anak Kelima 1
Dwi Bintarto mengenal anthurium sejak 1987

Dwi Bintarto mengenal
anthurium sejak 1987

Cinta Dwi Bintarto berlabuh di anthurium.

Sejumlah pedagang dan pehobi meyambangi kediaman Dwi Bintarto di Ciganjur, Jakarta Selatan. Mereka menawar dua pot anthurium gelombang cinta koleksi Dwi. Pedagang itu bersedia membeli dua pot anthurium itu seharga mobil keluarga keluaran terbaru. Para pedagang yang menyodorkan harga karena Dwi bergeming. Namun, Master Manajemen Agribinis alumnus Institut Pertanian Bogor, itu menolak. “Saya telanjur cinta,” kata Dwi Bintarto. Para pedagang itu gigit jari. Dwi tak melepas koleksinya yang berpenampilan aduhai.

Itulah Dwi Bintarto yang tak tergoyahkan pendiriannya. Ia melampiaskan hobi memelihara anthurium memang bukan untuk “mencari uang”. Pria 60 tahun itu tekun merawat si raja daun. Ayah 4 anak itu memperhatikan betul kondisi anthurium di dalam greenhouse. Ia melapisi greenhouse setinggi 3 m itu dengan plastik ultraviolet agar air hujan tidak tembus. Sinar matahari yang masuk hanya 35%. “Anthurium itu tanaman epifit yang hidup di hutan-hutan tropis. Jadi saya mencoba menghadirkan kondisi di dalam greenhouse mirip tempat asal tanaman,” kata alumnus Arsitektur Lansekap, Universitas Trisakti itu.

Berkualitas

Dwi Bintarto menata apik anthurium-anthurium di atas meja setinggi pinggang. Ia tidak tahu pasti berapa jumlah anthurium miliknya. Di salah satu greenhouse berukuran 4 m x 20 m terdapat puluhan pot anthurium. Walau tak mengetahui jumlah pasti, ia segera tahu jika ada satu pot yang bergeser dari tempat semula. Dwi merawat tanaman hias anggota famili Araceae itu dengan sepenuh hati. “Adakalanya saya mengajak berbicara anthurium-anthurium itu,” katanya.

Ratusan pot anthurium mendapat perawatan tepat sehingga tampil sehat

Ratusan pot anthurium mendapat perawatan tepat sehingga tampil sehat

Ia menuturkan suatu kali sempat mengabaikan raja daun-raja daun itu lantaran kesibukannya. Akibatnya lembaran daun anthurium-anthurium itu tampak layu. Padahal, penyiraman dan pemupukan tetap berlangsung. “Tanaman itu juga makhluk hidup,” kata pria kelahiran Mei 1954 itu. Perawatan tak berarti kalau tanpa kasih sayang. Pantas bila anthurium-anthurium jenis lama seperti sisik ular, merapi, dan mawar yang sekarang jarang dijumpai masih bisa ditemui di greenhouse Dwi Bintarto.

Baca juga:  Si Merah Berbuah di Pot

Dua pekerja membantu merawat anthurium koleksi Dwi. Pehobi itu memberi komando untuk penyiraman, pemupukan, dan penggantian media. Penyiraman setiap sore untuk mengurangi penguapan. Setiap muncul daun baru, ia membungkusnya dengan plastik bening agar tidak mudah sobek. Bagian tepi daun yang sobek akan berwarna cokelat kehitaman sehingga mengurangi keindahan tanaman.

Untuk urusan media tanam, Dwi paham benar. Media porous merupakan kunci anthurium sehat. Ia memanfaatkan media campuran cacahan batang pakis dan pasir malang. Ada dua jenis pakis dan pasir malang yang ia gunakan yakni halus dan kasar. Sebelum digunakan, Dwi mencuci bersih cacahan pakis, lalu merendamnya dalam larutan mikroorganisme dan menyimpan dalam wadah tertutup selama sepekan. Komposisi media disesuaikan dengan musim.

Di kalangan pehobi anthurium, Dwi Bintarto sohor lantaran sejumlah anthous oura miliknya langganan juara di setiap kontes. Sebut saja kontes anthurium regional di Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat, pada Desember 2013. Saat itu 7 anthurium koleksinya menjadi peringkat tiga besar, 2 di antaranya menyabet gelar terbaik di kelas utama dan campuran. Sementara di kontes bertaraf nasional di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pada juni 2103, panitia menobatkan Dwi  Bintarto sebagai juara umum.

Bagai anak

Sejatinya Dwi Bintarto mengenal anthurium sejak 1987. Ketika itu ia mendapat dua pot anthurium gelombang cinta dari seorang kerabat. Ia meletakkan kedua tanaman itu di halaman rumah. Tidak ada perawatan istimewa dan perhatian khusus, hanya penyiraman rutin dan pemupukan berkala. Dwi yang saat itu menjadi pegawai negeri di Dinas Pertamanan Provinsi Jakarta sibuk menangani sejumlah taman di ibukota.

Anthurium jenmani mangkuk variegata, salah satu koleksi Dwi Bintarto

Anthurium jenmani mangkuk variegata, salah satu koleksi Dwi Bintarto

Anthurium baru menyita perhatian Dwi saat tanaman hias daun itu ramai diperbincangkan. Pada 2007 kerabat aglaonema itu tiba-tiba melejit menjadi bisnis bernilai ratusan juta rupiah. Jenis A. jenmanii menjadi yang paling banyak dicari. Jenmani memang menarik. Anthurium berdaun lebar itu bersosok gagah, berdaun tebal, dan memiliki urat daun tegas. Pasar akhirnya mencari jenis lain yang lebih murah karena harga jenmani terlalu mahal. Akibatnya jenis lain seperti gelombang cinta, hookeri, dan keris juga turut populer.

Baca juga:  Waspada Curah Hujan

“Saat itu harga anthurium sangat mahal, apalagi jenmani kobra,” katanya. Ia menuturkan kala itu sepot kobra dengan 5—7 daun bisa mencapai Rp300-juta. Ia hanya mampu membeli pot-pot kecil anthurium berdaun 4 lembar seperti eskobar, sirih, mawar, sisik ular, dan merapi seharga Rp200.000—Rp300.000. Demi memperoleh tanaman yang berkualitas, Dwi membangun 3 greenhouse di samping rumah, masing-masing berukuran 5 x 10 m, 5 x 7 m, dan 3 x 6 m.

“Lingkungan tumbuh di dalam greenhouse terkontrol sehingga tanaman hidup lebih baik,” katanya. Perlahan, koleksi Dwi semakin bertambah. Selain anthurium ia juga mencintai aglaonema. Untuk menampung koleksi ia menambah 2 greenhouse berukuran 4 x 20 m dan 2 greenhouse berukuran masing-masing berukuran 5 x 6 m dan 3 x 8 m. Greenhouse lama digunakan untuk aglaonema, sedangkan greenhouse baru khusus anthurium.

Lambat laun pamor anthurium semakin redup sehingga harga anjlok. Dwi justru memanfaatan kesempatan itu untuk melengkapi koleksi sang raja daun. Pada 2009, ia membeli 22 pot kobra berbagai ukuran, salah satunya berumur 2 tahun. Seorang kawan juga menawarkan 7 pot anthurium variegata dengan ukuran daun rata-rata setelapak tangan dengan harga murah. Maklum, saat itu variegata kurang diminati. Dwi merawat ratusan anthurium itu dengan sepenuh hati. “Saya menganggap anthurium seperti anak,” kata ayah empat anak itu. Maka “anak kelima” pun memperoleh limpahan kasih sayang Dwi Bintarto. (Andari Titisari)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments