Durian Merah Kelantan 1

Aziz Zakaria mengoleksi 30 varietas durian merah di Kelantan, Malaysia.

DG-8

DG-8

Demi mencicip durian merah, Adi Gunadi, Johan Ariono, dan Lutfi Bansir, menempuh perjalanan 500 km dari Kualalumpur ke Kelantan, Malaysia. Setelah mendarat di bandara, mereka melanjutkan perjalanan dengan mobil untuk menempuh perjalanan 22 km menuju lokasi kebun Aziz Zakaria. Begitu tiba di kebun Adi melihat puluhan durian tumbuh di lahan 1,5 ha. Menurut Aziz Zakaria 30 pohon merupakan durian berdaging merah Durio graveolens.

Jenis lain adalah durian D. zibethinus, kerantungan D. oxleyanus, durian kura-kura D. testudinarium, dan lahung D. dulcis, durian yang berkulit merah. Rombongan Adi Gunadi cukup beruntung sebab ada 10 pohon durian merah yang sedang berbuah. Cita-cita Adi mencicip durian merah kesampaian. Di hadapannya tersaji beberapa durian merah, meski ternyata tidak seluruhnya berwarna merah.

Perbedaan selera

Aziz Zakaria, tertarik mengoleksi durian merah karena unik.

Aziz Zakaria, tertarik mengoleksi durian merah karena unik.

Warna merah daging buah durian beragam, ada yang merah muda kekuningan, merah muda, jingga, dan merah darah. Menurut Aziz musim durian merah bersamaan dengan musim durian biasa. “Rasanya paling enak dicicip setelah 4—5 hari pascapetik. Saat itu buahnya sangat mudah dibuka karena merekah sendiri. Sebagian durian menebarkan aroma, sebagian lainnya tanpa aroma,” kata Azis.

Dengan bersemangat, Adi Gunadi mengambil sebuah pongge berdaging merah. Pada awal cicip, terasa manis di lidah. Namun, setelah melewati lidah, ia berhenti dahulu sebelum menelannya. Menurut Adi rasanya nyedak dan baunya langu. “Saya tidak tahan, tetapi memaksakan untuk menelan. Begitu pun dengan pongge kedua dan ketiga. Aromanya sangat terasa saat akan ditelan. “Seperti nonjok di kerongkongan dan nyegrak, kalau tidak kuat, bisa muntah,” tuturnya.

Toh, penggemar berat durian itu pun akhirnya menyerah, tidak tahan pada rasa durian merah. Johan pun setali tuga uang. Pekebun durian di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, itu hanya kuat makan 4 pongge. Menurut Aziz, “Memang tidak semua penggemar durian D zibethinus menyukai durian merah, apalagi bila baru pertama kali menyicip,” kata Azis.

DG-1

DG-1

Menurut mantan dosen di Universitas Putera Malaysia itu dari ke-16 pohon yang sudah berbuah, 4 klon yang dianggap paling lumayan, yaitu DG-2, DG-4, DG-8, dan DG-11. Namun menurut Adi Gunadi, “Semua rasanya tetap sulit saya nikmati. Tapi itu bagi saya, mungkin bagi orang yang sudah biasa, tetap enak,” ungkap alumnus Jurusan Keuangan Internasional University of Southern California, Amerika Serikat, itu.

Baca juga:  Buah Surga Buah Bibir Kini

Terbukti masyarakat Brunei Darussalam banyak yang menggemari durian merah. Bisa jadi orang Brunei suka karena sudah terbiasa makan durian merah sejak kecil. Mungkin juga karena mereka merasakan manfaatnya sebagai afrodisiak. Namun, menurut saya, “Buah durian merah sulit bila akan dikomersialkan karena rasanya berbeda jauh dengan durian biasa,” kata Adi Gunadi.

Dari biji

Durian merah warna dan rasanya unik.

Durian merah warna dan rasanya unik.

Azis Zakaria tertarik mengoleksi durian merah pada 1996. Saat itu ia bertugas sebagai konsultan irigasi pertanian bagi Pemerintah Brunei Darussalam serta menangani pengairan di Kalimantan. Menurut pria yang kini berumur 70 tahun itu, semula graveolens yang ditemuinya berdaging buah tipis, hambar, dan tanpa aroma durian. Namun, ia berkali-kali pula menemukan graveolens di lapak dan pohon yang memiliki karakter berbeda.

Durian merah itu berdaging buah tebal, agak manis, dan beraroma mirip durian. Ia menyeleksi dan menemukan 30 varian durian merah. Karena sangat beragam, ia pun tertarik untuk mengoleksi dan menanam di kebunnya di Kelantan. Namun, ia tidak sembarangan membawa biji. Ia hanya membawa biji dari pohon yang sudah diseleksi. Ada 3 daerah sumber ia mendatangkan biji, yaitu Miri, Limbang, dan Lawas—ketiganya di Serawak ,serta Brunei.

DG-4

DG-4

Setelah menyemai biji, tanaman itu tumbuh baik dan beradaptasi dengan mudah di Kelantan. Umur durian merah itu kini berkisar 10 tahun. Untuk mengenali setiap jenis, doktor Irigasi Pertanian alumnus Utah State University, Amerika Serikat, itu memberi nomor DG-1, DG-2, DG-3, hingga DG-30 untuk seluruhnya. DG mengacu pada Durio graveolens. Durian merah itu mudah dikenali karena pohonnya relatif lebih muda dan lebih ringkih.

Selain itu batang durian merah lebih kecil dibandingkan dengan durian biasa D. zibethinus. Dari jumlah itu, sebanyak 16 pohon telah berbunga dan berbuah. Buah durian merah dipanen pada Juni hingga Agustus. Menurut Adi Gunadi pasar sulit menerima buah graveolens. Selain rasanya “aneh”, ukuran buah juga kecil, yakni 500 gram per buah, bahkan ada yang kurang. Durinya rapat dan runcing, hampir seperti kerantungan. Dagingnya pun rata-rata tipis.

DG-5

DG-5

Namun, bila dimanfaatkan untuk kesehatan, masih memungkinkan. “Saya dengar ia bisa dimanfaatkan sebagai bahan afrodisiak. Sejauh ini Aziz belum menjual buah untuk dikonsumsi langsung. Ia memanfaatkan buah untuk diambil biji. Jika biji disemai, bibitnya dapat dijual dengan harga RM50.00 per bibit setara Rp160.000. Kalau dalam satu buah ada 10 biji, maka hasil jual bibit RM500 atau Rp1.600.000 per buah. Padahal satu pohon, minimal menghasilkan 10 buah atau total 160 buah per musim. Bila terjual semua, ia berpeluang mendapat Rp256.000.000 dari menjual bibit.

Baca juga:  Drs H Ade Swara MH: Jaga Lumbung Padi Nasional

Bila ia menjual buah berbobot 500 gram RM500.00 per buah tidak akan ada yang mau membeli Rp1.600.000. Menurut Aziz kalau pun ada yang ingin membeli durian merah biasanya hanya peminat durian yang sudah bosan dengan durian musang king, ochee, te ka, atau durian top lainnya. Jadi Durio graveolens ini hanya untuk orang yang sudah habis mencicip rasa zibethinus. “Jangan dibandingkan dengan rasa musang king dan klon durian lain,” ungkap Aziz.

DG-11

DG-11

Ia sudah pernah merasakan beberapa varian durian merah dari Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Menurut Aziz durian merah Banyuwangi itu ada keturunan graveolens dari Kalimantan, tetapi sudah terjadi penyilangan alami dengan D. zibethinus. Warna merah graveolens masih ada dan rasa zibethinus juga ada. (Syah Angkasa)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *