Juara ke-1 durian eksotis milik Bismo. Daging buah tebal dengan tekstur lembut

Juara ke-1 durian eksotis milik Bismo. Daging buah tebal dengan tekstur lembut

Dari ujung timur Pulau Jawa lahir 3 durian merah terbaik di tanahair.

Inilah tonggak sejarah yang ditancapkan Forum Pemerhati Hortikultura Banyuwangi pada pengujung April 2014. Pekebun, pehobi, penangkar, dan pemerhati durian bahu-membahu menguji durian terbaik di kabupaten terluas di Jawa Timur itu. “Total jenderal 181 durian beradu rasa,” kata panitia kontes, Eko Mulyanto SP. Mereka dibagi menjadi 2 kategori: durian unggul dan durian eksotis.

Juri menilai durian dengan kriteria utama: kualitas rasa, tekstur, dan aroma. Sementara penilaian penunjang berupa warna daging buah, ketebalan daging buah, serta sensasi after taste. Kategori durian unggul yakni melombakan jenis-jenis durian Durio zibethinus – berdaging buah putih, krem, atau kekuningan. Sementara kategori durian eksotis khusus untuk daging merah yang menjadi ciri khas Banyuwangi.

“Kontes durian eksotis bersifat penelitian. Tujuannya untuk menguji keragaman dan keunikan plasma nutfah durian bernuansa warna merah khas Banyuwangi. Sementara kategori durian unggul diarahkan sesuai keinginan pasar komersial,” kata ahli durian dari Bogor, Dr Mohamad Reza Tirtawinata MS. Panitia memutuskan dari 181 peserta, sebanyak 160 peserta masuk kategori durian unggul, sementara 21 peserta masuk kategori durian eksotis.

Juara ke-2 durian eksotis milik Mohammad meraih poin 886

Juara ke-2 durian eksotis milik Mohammad meraih poin 886

Keju susu

Toh, bukan berarti durian eksotis kalah rasa dibanding durian unggul. “Justru Banyuwangi unik karena durian merahnya tergolong Durio zibethinus. D. zibethinus dikenal sebagai spesies terenak di antara genus durio lainnya,” kata ahli durian dari Universitas Kalimantan Utara di Bulungan, Kalimantan Utara, Dr Lutfi Bansir SP MS. Menurut Lutfi, lomba itu juga istimewa karena kontes durian merah pertama kali digelar di dunia.

Baca juga:  Tumbuh Bersama Bank

Menurut Reza, saat ini hanya 3 sentra di Indonesia yang memiliki Durio zibethinus berdaging merah yaitu di Manokwari, Papua; Bulungan, Kalimantan Utara; dan Banyuwangi, Jawa Timur. Sementara durian berpigmen merah dan kuning dari spesies lain seperti Durio graveolens, D. dulcis, dan D. kutejensis umumnya kurang lezat dibanding D. zibethinus. Sebetulnya di Sabah, Malaysia, pernah ditemukan Durio zibethinus berpigmen merah 20 tahun silam. Namun, hingga saat ini belum ada pengembangan lebih lanjut.

Juara ke-1 durian unggulan milik Rony. Rasa manis dan legit dengan paduan rasa umami

Juara ke-1 durian unggulan milik Rony. Rasa manis dan legit dengan paduan rasa umami

Pantas menurut Lutfi, sang jawara durian merah rasanya paling istimewa. Durian bernomor 87 milik Bismo asal Kecamatan Kalipuro itu terasa lengket di lidah. “Seperti campuran keju dengan susu. Teksturnya juga lembut di lidah dengan daging buah paling tebal,” kata Lutfi.

Tim juri – Mohamad Reza Tirtawinata, Iwan Subekti, Lutfi Bansir, dan Panca Jarot Santoso – mengganjarnya dengan nilai 1.353. Ia mengalahkan durian bernomor 96 milik Mohamad dari Kecamatan Glagah dan durian bernomor 86 milik Balqis dari Kecamatan Panggang. Keduanya hanya memperoleh nilai masing-masing 886 dan 881, jauh di bawah sang juara I, sehingga harus puas sebagai juara dua dan juara tiga. Namun, menurut Reza bukan berarti sang juara 1 adalah pilihan terbaik untuk dikebunkan. “Soal rasa setiap orang berbeda sehingga relatif. Diperlukan juga pengamatan lebih lanjut untuk mengetahui karakternya lebih dalam. Sebut saja produktivitas, ketahanan terhadap hama dan penyakit, serta daya simpan,” tutur Reza. Bahkan Reza menyebut beberapa durian gagal masuk 3 besar, tapi tetap pantas menjadi durian favorit.

Juara ke-2 durian unggulan milik Rony. Rasa manis dan lembut seperti es krim

Juara ke-2 durian unggulan milik Rony. Rasa manis dan lembut seperti es krim

Durian unggulan

Baca juga:  Gadung Usir Ulat

Di kategori durian unggulan, persaingan juga berlangsung ketat. Dari 160 peserta, panitia memilih 60 durian lolos melewati putaran pertama. Berikutnya di putaran kedua 4 juri memilih 10 durian favorit sesuai selera masing-masing. “Bila pilihan juri berbeda, maksimal bakal diperoleh 40 durian favorit,” kata Reza. Toh, semua juri ternyata memiliki selera serupa sehingga jumlah peserta mengerucut tinggal 22 durian saja. Di putaran selanjutnya juri menyeleksi peserta menjadi 10 besar, 5 besar, dan 3 besar.

Penjurian dilakukan 3 putaran. Di putaran ketiga, para juri mencicipsetiap durian masing-masing          1 pongge

Penjurian dilakukan 3 putaran. Di putaran ketiga, para juri mencicipsetiap durian masing-masing 1 pongge

“Di putaran ketiga juri menilai lebih detail. Setiap durian dicicip masing-masing 1 pongge untuk menguji keseragaman rasa di setiap bagian pongge,” ujar Reza. Beberapa durian yang terasa istimewa bahkan dicicip beberapa pongge untuk menguji keseragaman dalam 1 juring. Teknik itu agak berbeda dengan di putaran sebelumnya karena setiap juri hanya mencicip sebagian kecil saja daging buah.

Dari seleksi ketat itulah akhirnya tim juri menobatkan durian nomor 55 milik Rony dari Kecamatan Giri sebagai juara 1. Sosok luar sang jawara bulat. Daging buah tebal. Rasa manis dan legit dengan paduan rasa umami. Ia mengalahkan durian nomor 45 – juga milik Rony – dan nomor 44 kebanggaan Moel dari Kecamatan Kabat. Keduanya harus puas menduduki juara kedua dan juara ketiga. Sang runner up rasanya manis dan lembut bagai es krim. Sementara juara ketiga berasa manis. (Ridha YK, kontributor Trubus)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d