Durian D-24 monthongnya Malaysia paling banyak ditanam di negeri jiran

Durian D-24 monthongnya Malaysia paling banyak ditanam di negeri jiran

Meski hasil panen sela, durian-durian di Malaysia bercitarasa lezat.

Dari Bandara Internasional Kualalumpur, dekan Fakultas Pertanian Universitas Borneo, Dr Lutfi Bansir menuju ibukota baru Malaysia, Putrajaya. Tiga puluh menit berselang mobil berbelok ke sebuah kawasan hijau seluas 426 ha. Itulah lahan penelitian durian milik Universitas Putra Malayasia. Lutfi dan rekannya, Aziz Zakaria MSi PhD, pensiunan dosen Universitas Putra Malayasia, menuju aula di tengah kebun.

Di atas meja 25 durian berderet-deret tersaji. Di muka setiap durian tertulis varietas durian seperti D-24, D-101, MDur-88, dan D-99. Mereka kondang sebagai durian unggul yang dirilis Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Malaysia (MARDI). Dengan cekatan Lutfi membantu membelah durian D-101. Ia lantas mencomot satu pongge. “Manis, legit, terasa lengket di lidah,” kata Lutfi.

MDur-88 silangan D-7 dan D-24 yang menjadi generasi kedua durian Malaysia

MDur-88 silangan D-7 dan D-24 yang menjadi generasi kedua durian Malaysia

Buah optimal
Durian D-101varietas asli Serdang, Selangor, berdaging buah kuning dan tebal. Rasanya pun manis sedikit pahit. Bobot D-101 hanya 0,8—1,5 kg dengan bentuk bulat agak lonjong. Bandingkan dengan durian monthong yang rata-rata berbobot 4 kg. Ahli durian di Bogor, Jawa Barat, Dr Ir Mohamad Reza Tirtawinata MS, menyebut tren durian pada masa depan adalah yang berukuran mungil sehingga langsung habis disantap.

Varietas D-101 memenuhi syarat itu. Varietas D-101 mengingatkan pada durian terong dari Balaikarangan, Provinsi Kalimantan Barat, yang juga mungil dan nikmat. Usai mencicip 2 pongge D-101, Lutfi lantas memilih D-24, varietas paling sohor di Malaysia. Ia layak disebut monthongnya Malaysia karena paling banyak dikebunkan.

Sosok buah D-24 bulat berbobot 2 kg. Warna duri agak kecokelatan. Begitu buah dibelah tampaklah daging buah berwarna cokelat kekuningan. Daging buah tebal dengan permukaan yang kering. Namun, daging buah yang kering itu berubah lengket di lidah saking manis dan legit. Lutfi juga mencicip D-99 berdaging buah tebal, agak basah, lembut, dan berbiji kempis.

D-101 disebut durian masa depan karena habis disantap oleh satu orang

D-101 disebut durian masa depan karena habis disantap oleh satu orang

Setelah itu doktor Pertanian alumnus Universitas Brawijaya itu mencicipi MDur-88—silangan D7 dengan D24—kerap disebut D-190. Durian hibrida itu berasal dari Jeranggau, Terengganu, Malaysia. Bobot buah 1—1,6 kg dengan daging buah kuning dan tebal. “Ini luar biasa. Semua buah dalam kondisi optimal, meski November bukan musim raya durian,” kata Lutfi.

Baca juga:  Peluruh Batu Ginjal

Menurut Aziz, musim durian di Semenanjung Malaysia umumnya jatuh pada Juli—September. Saat itu hampir setiap sentra mengeluarkan durian-durian berkualitas terbaik. Namun, di luar itu daerah yang mengalami periode kering 2 kali—lebih dari sebulan—dapat mengalami panen sela. Di Serdang, Selangor, panen sela jatuh pada November—Desember. Namun, “Kualitas buah tidak sebaik panen raya kecuali dari kebun yang dirawat dengan baik,” kata Aziz.

Air hujan
Menurut Lufti kualitas buah hasil panen sela yang luar biasa itu patut diacungi jempol. “Indonesia ketinggalan 40 tahun. Bila ini kebun komersial sangat wajar, tapi ini kebun koleksi universitas alias kebun penelitian. Di tanah air belum ada perguruan tinggi atau lembaga penelitian yang kebun produksi atau kebun koleksinya terawat seperti ini. Di tanah air kebun produksi atau kebun koleksi milik instansi pemerintah banyak hidup segan dan mati tak mau,” kata Lutfi.

Pasokan air diperoleh dari air hujan yang ditangkap oleh kolam di tempat yang rendah

Pasokan air diperoleh dari air hujan yang ditangkap oleh kolam di tempat yang rendah

Menurut Aziz, lahan penelitian durian di Universitas Putra Malayasia dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kebun produksi dan kebun entres. Penanaman bibit di kebun produksi pada 1967 dan 1970 masing-masing 10 ha. Para pengelola merawat durian layaknya kebun komersial. Mereka member pupuk secara berkala saat masa vegetatif, sementara pada musim berbunga pengelola memacu tanaman dengan pupuk tinggi kalium dan fosfor.

Beragam varietas antara lain D-2, D-7, D-8, D-10, D-16, dan D-99 tumbuh di kebun produksi. Sementara di kebun entres yang ditanam pada 1970 dan 1995. Di kebun itu juga tumbuh beragam varietas durian seperti D-2, D-99, D-148, dan D-160. “Di sini peneliti, pengajar, dan mahasiswa belajar memproduksi dan memperbanyak durian seperti di dunia nyata,” kata Aziz.

Baca juga:  Amankan Produksi Tomat

“Kontur kebun sebagian datar dan sebagian miring. Di tempat yang rendah dimanfaatkan untuk kolam penampungan air sehingga seluruh air hujan tertampung di sana. Pada saat kemarau air dari kolam menjadi sumber air yang hampir tak pernah habis,” kata Aziz. Universitas Putra Malaysia bermitra dengan MARDI mengeksplorasi durian di alam serta menyilangkan durian unggul untuk menghasilkan varietas yang lebih baik.

“Kami menilai kelebihan dan kekurangan setiap varietas untuk menghasilkan varietas yang lebih baik di masa depan,” kata Aziz. Menurut Lutfi Indonesia mampu mengejar kemajuan Malaysia. Dalam 10 tahun terakhir Indonesia—dari kalangan pribadi yang berswadaya—menghasilkan banyak varietas baru seperti durian pelangi dan durian merah hasil eksplorasi ke berbagai daerah. Belum lagi Durio zibethinus unggul dari pedalaman Kalimantan yang berlimpah.

Kebun terdiri dari kebun produksi dan kebun entres yang dibuka bertahap sejak 1967, 1970, dan 1995

Kebun terdiri dari kebun produksi dan kebun entres yang dibuka bertahap sejak 1967, 1970, dan 1995

“Banyak peneliti luar negeri mengincar karena tak mampu menghasilkan durian seperti disebut di atas. Indonesia memilikinya dari kemurahan alam,” kata Lutfi. Pemerintah dan swasta kesulitan mempercepat pengembangan karena harga bibit relatif mahal. Padahal, menurut Lufti, kendala mahalnya harga bibit itu dapat disiasati dengan teknik perbanyakan. Lutfi, misalnya, kini memperbanyak durian unggul.

Ia cukup menanam sebuah bibit durian unggul sebagai sumber entres. Pada saat bersamaan, ia juga menanam biji-biji durian sebagai calon batang bawah. Pada umur 1,5—2 tahun jumlah entres berlimpah. Saat itulah ia menyambung tanaman asal biji dengan entres durian unggul. “Teknik ini memangkas waktu pembibitan sehingga begitu disambung tanaman bisa langsung berproduksi,” kata Lutfi. (Destika Cahyana, Peneliti di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian dan mahasiswa Sekolah Pascasarjana Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Chiba, Jepang)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d