Sutojo Ardjo, rugi karena regulasi

Sutojo Ardjo, rugi karena regulasi

Didi Supendi, Keli, dan Yosy Basuki Nugroho hanya 3 dari ribuan orang yang menggantungkan hidup pada ikan hias. Jika sekarang mendulang laba, itu lantaran mereka mampu bertahan melampaui masa sulit. “Awalnya saya sampai menangis darah,” ungkap Yosy. Jika semula memiliki gaji tetap, setelah menjadi peternak ikan pria 32 tahun itu hanya memberi nafkah sang istri Rp50.000—Rp100.000 per 2 bulan. Kesalahan Yosy terjun tanpa lebih dulu menyiapkan jaringan.

“Semuanya saya coba-coba sendiri. Begitu gagal, tidak tahu mau bertanya kepada siapa,” kata Yosy. Tantangan nyaris serupa juga dihadapi Keli ketika menerjuni ikan hias 10 tahun silam. “Saya sampai magang di pembudidaya ikan di Cipinang untuk belajar. Begitu bisa membesarkan, saya bingung mau menjual ke mana,” ungkap Keli. Penampung yang ia datangi tidak satu pun mau membeli ikannya. Mentalnya sempat runtuh dan ia malas mencari kutu air sehingga satu per satu ikannya mati.

Untung, Keli memperoleh informasi dari seorang rekan yang ia temui ketika mencari kutu air. Pasar pun terbuka lebar sampai sekarang. Pada awal menjalani profesi petani ikan, Didi Supendi, peternak di Bekasi, Jawa Barat, kenyang menelan semua cibiran dan cemoohan. Apalagi ketika orang melihat ia tetap mencari kutu air meski sudah meraih gelar sarjana bidang Pendidikan Luar Sekolah dari Universitas Negeri Jakarta.

“Sekolah tinggi-tinggi malah nyerokin got,” kata Didi menirukan olok-olok yang ia terima. Didi hanya tersenyum. Kini pilihannya terbukti benar. Sepulang dari tanah suci pada 2006, Didi pun tidak sungkan menjuluki dirinya “haji ikan”. Bagi eksportir, tantangan yang dihadapi bukan dari pembeli, tetapi justru dari dalam negeri, yaitu peraturan.

Baca juga:  Cara Siam Tanam Pamelo Merah

Pengalaman Sutojo Ardjo dari PT Kampung Ikan di Narogong, Bekasi, ikan yang akan ia kirim harus menjalani pemeriksaan selama 2 hari di karantina. “Selesai diperiksa karantina, ternyata malam harinya tidak ada penerbangan sehingga harus menunggu semalam lagi. Begitu sampai ke pembeli, hampir semua ikan mati,” tutur Sutojo. Ia pun terpaksa mengirim ulang dan menanggung kerugian.

Regulasi berlapis itulah yang coba Dr Maman Hermawan atasi. Namun, ia pun acap tidak berdaya menghadapi peraturan dari kementerian lain. Maman pernah merespons keluhan tentang kendala pengiriman dari seorang eksportir dengan mengirimkan surat resmi kepada pejabat yang berwenang. Sayang, surat itu tidak mendapat tanggapan. Hal itu pula yang mendapat sorotan dari Komjen (Purn) Didi Widayadi, anggota staf ahli Menteri Kelautan dan Perikanan.

Didi Widayadi merekomendasikan harmonisasi pemangku kepentingan yang membawahi ikan hias, mulai dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perhubungan, sampai Kementerian Keuangan. “Apalagi sebentar lagi tenaga kerja asing bisa masuk ke Indonesia. Tanpa sinergi, kita akan terus tertinggal dan dimanfaatkan,” tutur Didi Widayadi. Peluang terbuka lebar, tetapi waspadai kendala yang menghadang dari hulu sampai hilir. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Imam Wiguna dan Syah Angkasa)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d