Duafa Berdaya di Kebun Naga 1

579_ 42-5Setiap hari kebun Dompet Dhuafa mengirim 1 ton serat daging dan sari nanas ke pabrik roti di Tangerang. Volume itu dihasilkan dari 2 ton buah segar produksi kebun sendiri. Nanas itu ditumpangsarikan dengan buah naga.

Bertahun-tahun lahan 8 hektare di Desa Cirangkong, Kecamatan Cijambe, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat, menganggur. Hanya ilalang dan gulma lain yang tumbuh di lahan itu. Namun, kini lahan itu sumber pendapatan bagi Dompet Dhuafa. Amil zakat nasional itu menanami lahan dengan beragam buah seperti: buah naga merah, nanas subang, pepaya kalifornia, jambu kristal, dan pisang secara tumpangsari.

Nanas subang hasil budidaya tumpangsari di Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Nanas subang hasil budidaya tumpangsari di Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Kebun itu terdiri atas tujuh blok dengan luas bervariasi. Setiap blok ditanami 2—3 komoditas. Jenis dan jumlah tanaman di setiap blok berbeda-beda. Di blok E terdapat 68 tiang buah naga atau total 272 tanaman. Blok F ditanami 476 tiang buah naga merah dan 300 batang pepaya kalina. Sebuah tiang dirambati 4 tanaman buah naga. Ada pun di blok G tumbuh 700 tanaman pepaya kalina. Pengelola kebun membuat blok-blok penanaman karena kontur lahan berbukit-bukit sehingga jumlah penanaman disesuaikan dengan lokasi. Penanaman dua komoditas pun dilakukan berselang-seling untuk memanfaatkan lahan secara maksimal.

Tanaman buah naga Hylocereus undatus paling menonjol lantaran penanamannya paling luas, mencapai 5 ha. Semua tanaman berbaris rapi berjarak 3 m x 3 m. Ukuran tanaman pun paling tinggi, mencapai 2 m. Cabang-cabangnya menjuntai ke semua arah mata angin.
Satu tanaman menghasilkan 15—20 buah atau 10 kg. Ketika Trubus mengunjungi lahan itu 1—3 buah naga sekepalan tangan berwarna merah cerah menggelayuti setiap cabang. Menurut Agung setiap tanaman buah naga menghasilkan 10 kg buah terdiri atas 15—20 buah. dengan 1.000 tiang atau 1000 tanaman produktif maka potensi hasilnya 10 ton per musim.

General Manager Dompet Dhuafa, Bobby Manullang

General Manager Dompet Dhuafa, Bobby Manullang

Tumpangsari
Dompet Dhuafa yang selama ini identik sebagai penampung wakaf umat Muslim untuk disalurkan pada kaum duafa atau lemah ekonomi. Lembaga amal itu mulai melirik sektor pertanian untuk mengurangi ketergantungan pada zakat dan infak masyarakat pada 2015. Menurut General Manager Dompet Dhuafa, Bobby Manullang, lembaganya ingin membuat kemandirian lewat sektor agribisnis. Mereka mulai dengan menanam buah naga. Agung mengatakan, untuk mengelola lahan itu ia dibantu oleh 10 orang pekerja tetap. Satu orang memelihara 200 tiang buah naga. Pada fase penanaman, bisa lebih banyak duafa yang membantu, yakni 20—30 orang. “Dengan membuka kebun ada 3 hal yang dapat diperoleh, yaitu mendapat sumber dana abadi, menyerap banyak tenaga kerja, sekaligus memberdayakan kaum duafa,” ungkap Bobby.

Baca juga:  Inspirasi Unik Sayuran

Baru pada 2016 mereka membudidayakan nanas. Keberadaan nanas jenis smooth cayenne atau nanas subang di antara buah naga membuat lahan sangat padat. Nanas menjadi penutup tanah yang sempurna sehingga lahan tanpa gulma. Setiap bedengan selebar 1 m diisi 2 tanaman dengan jarak 40 cm x 50 cm. Setelah berumur 1 tahun, nanas yang semula hanya 2 tanaman di antara buah naga menjadi 3 tanaman atau lebih karena munculnya 2—3 anakan baru.

579_ 43-8Untuk mempertahankan kualitas buah, mereka memangkas sebagian daun nanas. Tujuannya agar pertumbuhan calon buah maksimal tanpa terlindung oleh daun. Dengan demikian tanaman bisa berfotosintesis secara maksimal. Nutrisi nanas juga terjamin sehingga tangkai buah kuat menopang buah. Dengan demikian ia tetap tegak sehingga tangkai buah juga tegak. Selain itu untuk mendapatkan buah berkualitas A, Agung hanya mempertahankan satu tanaman.

Dengan mempertahankan bibit tetap satu, kualitas produksi sebagian besar termasuk kelas A (70%) dan kelas B (30 %). Ciri buah nanas kelas A berbobot di atas 1,0kg, Sosok buah segar. Adapun buah nanas kelas B, bobot kurang dari 1 kg, Produksi buah nanas dari populasi 20.000 tanaman itu mencapai 20 ton. Dari kebun itu, Agung memanen 2 ton buah setiap hari.

Ia memasarkan buah ke mitra, toko buah Freshmart di Subang dan ke pedagang di Subang dengan harga Rp 5.000 per kg. Bobot sebuah nanas subang mencapai 1—2 kg. Selain itu Agung juga mengirimkan buah nanas grade non A ke rumah pengolahan di Desa Tambakmekar, Kecamatan Cijambe. (Syah Angkasa)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *