Dua Windu Demi Cupang

Dua Windu Demi Cupang 1

Hermanus J Haryanto

Jatuh hati pada cupang hias, kini menyelematkan cupang-cupang alam yang langka.

Keindahan halfmoon menarik Hermanus J Haryanto untuk memelihara cupang.

Keindahan halfmoon menarik Hermanus J Haryanto untuk memelihara cupang.

Hermanus J Haryanto sangat malu saat kawan dari Thailand bercerita tentang ikan cupang Betta rubra dengan lancarnya. Tidak hanya mengenal betul profil sang ikan, kawan itu pun menjual sepasang cupang berwarna dominan merah itu Sin$500 pada ajang kontes ikan hias internasional, Aquarama 2007, di Singapura. Harga ikan yang dinyatakan punah pada 1908 tergolong tinggi.

Yang bikin Hermanus malu ikan anggota famili Osphronemidae itu berasal dari Sumatera Utara. Ia tidak mengetahui sama sekali Indonesia memiliki rubra. Parahnya lagi Hermanus baru mengetahui ada kelompok wild betta alias cupang alam. “Belakangan saya baru mengetahui sekitar 70% populasi cupang alam berada di Indonesia,” kata pehobi cupang di Tomang, Jakarta Barat, itu.

Tangkarkan cupang

Hermanus J Haryanto membudidayakan cupang alam sejak 2007.

Hermanus J Haryanto membudidayakan cupang alam sejak 2007.

Kini terdapat sekitar 73 jenis cupang alam yang teridentifikasi dan memiliki nama ilmiah. Ada juga cupang yang belum teridentifikasi dan menyandang nama lokal. Sejatinya Indonesia bukan satu-satunya habitat cupang alam. Negara tetangga seperti Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand memiliki spesies cupang liar. Nihilnya pengetahuan cupang alam itu karena Hermanus fokus pada cupang hias sejak 2001.

Saat itu ia getol mengikuti kontes Betta splendens di berbagai daerah. Ditambah lagi pamor cupang alam di tanahair tidak terdengar gaungnya. Jadilah ikan air tawar itu asing di negeri sendiri. Obrolan tentang rubra di Aquarama 2007 menyadarkan Hermanus bahwa orang asing mengetahui, mengerti, dan memelihara cupang alam. Hanya satu hal yang belum mereka lakukan yakni budidaya.

Sepulang dari negeri jiran ia bertekad kuat membudidayakan ikan rawa itu. “Saya tidak rela orang asing memiliki porsi lebih banyak mempromosikan ikan asli Indonesia,” kata Hermanus. Tujuan ayah tiga anak itu jelas dan gamblang, yakni mengangkat reputasi cupang alam di dalam dan luar negeri. Hermanus berhasrat menjadikan cupang alam identik dengan Indonesia.

Betta simplex cupang alam dari Thailand koleksi Hermanus.

Betta simplex cupang alam dari Thailand koleksi Hermanus.

Jika ada pehobi mencari cupang alam bermutu, datanglah ke Indonesia, bukan ke negara lain seperti Thailand atau Singapura. Pria kelahiran Palembang 1964 itu menyulap dua ruangan masing-masing berukuran 3 m x 4 m dan 5 m x 4 m di lantai dua kantor menjadi lokasi budidaya cupang alam. Di dalamnya rak-rak berisi akuarium berukuran 25 cm x 40 cm. Di tempat itulah cupang alam berkembang biak.

“Kunci utama penangkaran cupang alam yakni mengatur kondisi akuarium agar menyerupai habitat asli,” kata alumnus Universitas Bina Nusantara itu. Ia menaruh potongan kayu atau potongan pipa polivinilklorida (PVC) di akuarium. Kedua perlengkapan itu berfungsi sebagai tempat sembunyi. Di habitat aslinya ikan yang bentuk ekornya beragam itu bersembunyi di celah-celah batu sungai.

Cupang api-api dari Riau yang belum memiliki nama ilmiah.

Cupang api-api dari Riau yang belum memiliki nama ilmiah.

Kestabilan suhu air akuarium pun hal terpenting lain dalam penangkaran cupang alam. Secara umum ikan menghendaki suhu 24—28°C. Oleh karena itu ia memanfaatkan pendingin ruangan di lokasi budidaya. Kunci keberhasilan lainnya yaitu pH air. Cupang menyukai derajat keasaman 5—6,5. Agar pH air stabil, Hermanus menggunakan daun ketapang Terminalia catappa kering.

Baca juga:  Peluncuran Program Penguatan Pendidikan Pancasila

“Kandungan tanin pada daun ketapang juga bersifat antibakteri sehingga sangat baik untuk kesehatan dan kondisi cupang,” kata pria kelahiran Palembang, Sumatera Selatan, 52 tahun silam itu. Untuk mewujudkan mimpi menangkarkan ikan karnivora itu Hermanus menghubungi teman-teman dari berbagai daerah. Perjuangan Hermanus menangkarkan cupang alam bukan tanpa hambatan.

Hambatan

Hermanus J Haryanto juga mengembangkan cupang hias di rumah.

Hermanus J Haryanto juga mengembangkan cupang hias di rumah.

Sejak awal banyak orang meremehkan bahkan menertawakan rencana itu. “Tidak usahlah budidaya ikan itu, tangkap saja di alam,” kata Hermanus menirukan ucapan seorang kenalan. Namun, ia bergeming. Jika untuk tujuan komersial mengambil dari alam, lama- kelamaan ikan bisa punah. Oleh karena itulah diperlukan budidaya. Hermanus mengandalkan buku dan internet agar budidaya berhasil.

Ia belajar otodidak karena saat itu belum ada yang menangkarkan cupang alam. Kegagalan teman sejati Hermanus pada permulaan budidaya. Pengalaman tak terlupakan saat suami Jenny Susanto itu merelakan kematian 160 B. unimaculata yang baru dibeli dari Samarinda, Kalimantan Timur. Ikan yang tubuhnya bisa mencapai 15 cm itu kaku di lantai karena loncat dari akuarium 1,5 meter di atas lantai.

Padahal, Hermanus menutup rapat kotak kaca itu menggunakan potongan kardus dan stirofoam. Ternyata posisi kedua penutup itu bergeser. Ia menduga ikan melompat-lompat sehingga kardus berubah posisi dan muncul celah. Kini Hermanus menggunakan penutup terbuat dari kasa halus dengan rangka kayu sebagai penutup akuarium. Dengan cara itu loncatan ikan tidak berarti karena memantul saat mengenai kasa.

Penutup dari kasa ditempatkan di atas akuarium mencegah ikan loncat.

Penutup dari kasa ditempatkan di atas akuarium mencegah ikan loncat.

Hingga kini tidak lagi diitemukan ikan yang meregang nyawa di lantai. Kendala lain saat datang yaitu kondisi ikan kurus sehingga harus dirawat hingga pulih. Cupang pun kerap stres dan bersembunyi ketika Hermanus mendekat karena tidak terbiasa dengan keberadaan manusia. Mengenal karakter ikan seperti cara memijah hal paling mendasar. Hermanus memerlukan 6 bulan agar cupang kerasan di habitat baru.

Pada 2008 pria berumur 52 tahun itu sukses menangkarkan B. channoides dan B. albimarginata. “Saya sangat senang dengan keberhasilan itu,” ucap Hermanus. Ia pun mengundang media termasuk Trubus meliput prestasi membanggakan itu. Setelah itu banyak orang dari penjuru wilayah menghubungi Hermanus. Mereka pencari cupang alam yang menawarkan produknya.

Baca juga:  Mengkudu Musuh Tritip

Pelan tapi pasti cupang alam yang ditangkarkan semakin banyak hingga lebih dari 20 jenis. Untuk mempopulerkan cupang alam hasil budidaya Hermanus menjadi sponsor ajang Aquarama 2009 di Singapura. Saat itu ia mengirim sekitar 20 jenis cupang alam hasil penangkaran sendiri di akuarium.

Terancam punah

Hermanus pun melakukan hal sama pada adu cantik cupang internasional di Texas, Amerika Serikat. Pemilik perusahan penjualan dan servis komputer, PT Delta Sarana Informatika, itu menerbangkan 30-an jenis ikan karnivora itu ke Negeri Abang Sam. Tujuannya mempopulerkan ikan karnivora asli Indonesia di mancanegara. Respons panitia sangat baik.

Ruangan budidaya cupang alam milik Hermanus berada di lantai 2 perusahaan miliknya.

Ruangan budidaya cupang alam milik Hermanus berada di lantai 2 perusahaan miliknya.

Mereka sangat kagum dan senang menerima ikan dari Hermanus. Kehadiran cupang alam pada kedua ajang bergengsi itu menaikkan pamor acara karena ada sesuatu yang baru. Ia pun bahagia karena bisa mempromosikan cupang alam tangkaran sendiri. Kini Hermanus berhasil menangkarkan hampir 60 jenis ikan petarung itu. Cupang alam koleksi Hermanus tidak hanya dari dalam negeri.

Ia pun mengembangkan ikan dari negara lain seperti Malaysia (B. livida, B. bellica, dan B. gladiator) dan Thailand (B. simplex, B. smaragdina, dan B. mahachaensis). Sementara B. macrostoma, B. persephone, B. miniopinna, dan B. simplex adalah jenis cupang terancam punah yang dibudidayakan. Harapannya melalui penangkaran ikan-ikan itu tetap lestari pada masa depan.

Bahkan Hermanus pun berhasil menangkarkan cupang yang belum memiliki nama ilmiah yakni cupang api-api dari Provinsi Riau. Penampilan cupang api-api meriah karena berkelir dominan merah. Alumnus Manajemen Informatika Universitas Bina Nusantara itu pehobi murni. Sejatinya ia tidak berhasrat menjual cupang alam ternakan karena tujuannya bukan untuk komersial. Namun ia mempersilakan jika ada yang berminat.

Daun ketapang digunakan untuk menjaga pH air akuarium stabil.

Daun ketapang digunakan untuk menjaga pH air akuarium stabil.

Oleh karena itu hanya 30—50 wild betta yang terjual saban bulan. Mayoritas konsumen pehobi dari negara-negara Eropa seperti Jerman dan Spanyol. Hermanus berharap para pencari cupang alam pun mampu membudidayakan ikan yang masa hidupnya 2—3 tahun itu. Dengan cara itu masyarakat di sekitar habitat cupang alam tidak perlu masuk hutan dan menempuh bahaya.

Mereka hanya menangkap cupang tangkaran di rumah. Perkenalan Hermanus dengan cupang tidak sengaja. Pada Agustus 2001 ia mampir ke rumah kawan di Kota Tangerang, Provinsi Banten, seusai menonton kontes anjing. Di tempat itu ia kepincut cupang serit yang tengah populer dan halfmoon yang langka saat itu. Harap mafhum di pikiran Hermanus, bentuk ikan itu seperti cupang aduan berwarna hitam dan biru kemerahan pada sirip.

Ia sama sekali tidak menyangka ada jenis serit dan halfmoon yang terkesan mewah. Semula Hermanus memelihara cupang sebagai penghilang stres karena perekonomian negara saat itu belum sepenuhnya bagus akibat krisis keuangan pada 1998. Setelah memelihara dan mengikuti kontes pria yang pelihara ikan sejak umur 6 tahun itu semakin mencintai cupang. “Saya bisa bergabung dengan komunitas dan mendapat teman baru,” kata Hermanus. (Riefza Vebriansyah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x