Sosok tanaman winas-2 produktivitas 1,2 ton per ha

Sosok tanaman winas-2 produktivitas 1,2 ton per ha

Genjah, produksi tinggi hampir tiga kali lipat, dan cocok di lahan sawah.

“Ini panen terbaik selama 15 tahun menjadi petani wijen,” ujar Kalimin yang memperoleh hingga 1,2 ton biji wijen kering dari lahan 1 ha. Omzet penjualan wijen petani di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Rp21-juta dalam tiga bulan. Harga jual biji wijen di tingkat petani pada 2014 itu Rp17.500 per kg.

Wijen yang berproduksi menjulang itu varietas winas-1 hasil pemuliaan periset di Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas), Kabupaten Malang, Jawa Timur. Winas singkatan dari wijen nasional. Pada penanaman-penanaman sebelum 2014, ia menggunakan benih lokal yang banyak dibudidayakan petani setempat dan produksinya hanya 900 kg per ha.

Biji wijen sohor sebagai penghasil minyak nabati beraroma harum dan gurih

Biji wijen sohor sebagai penghasil minyak nabati beraroma harum dan gurih

Hemat biaya
Kalimin membutuhkan 6 kg benih wijen untuk penanaman di lahan 1 ha. Biaya pengadaan benih winas-1 hanya Rp150.000. Meski berkualitas tinggi, harga benih wijen winas-1 memang lebih murah dibanding benih wijen lokal, yakni Rp25.000 per kg. Sementara harga benih wijen lokal Rp50.000 per kg.

Yang menggembirakan, kebutuhan pupuk tetap. “Saya menggunakan pupuk dengan dosis yang sama saat menggunakan benih wijen lokal,” ujarnya. Total jenderal ia menghabiskan 200 kg phonska dan 150 kg Urea. Petani berusia 48 tahun itu memberikan kedua pupuk itu setiap 10 hari sejak Sesamum indicum berumur 20 hari setelah tanam (HST) hingga 40 HST. Kalimin menanam wijen di barisan dengan jarak antarbaris 30—40 cm.

Tanaman siap panen ketika buah berwarna kekuningan dan ujungnya pecah. Sebagian besar daun juga mulai rontok. Peneliti wijen di Balittas, Hadi Sudarmo SSi, menuturkan keuntungan menggunakan benih varietas unggul untuk meningkatkan efisiensi produksi. “Dengan biaya produksi yang sama, produksi tanaman lebih tinggi dibanding benih tidak unggul,” ujar Hadi.

Baca juga:  Tiga Gelar Kayu Patah!

Potensi produksi winas-1 maksimal 2,2 ton per hektar atau rata-rata 1,4 ton. Kulit biji berwarna putih kecokelatan dan bertekstur halus. Winas-1 berbunga saat berumur 36 hari dan siap panen pada 97—105 hari. Tinggi tanaman ketika berbunga berkisar 113—146 cm dengan percabangan banyak. Panjang buah 2,22—2,5 cm dan berkolom 4 atau dikenal dengan belimbing 4. Bobot 1.000 biji sebesar 3,17 gram dengan kadar minyak 50,88%.

Biji winas-2 (kiri) berwarna putih, sedangkan winas-1 (kanan) berwarna kecokelatan

Biji winas-2 (kiri) berwarna putih, sedangkan winas-1 (kanan) berwarna kecokelatan

Selain sebagai penghias makanan, biji wijen sohor sebagai penghasil minyak nabati beraroma harum dan gurih. Sementara itu winas-2 berbatang lebih pendek hanya 105—138 cm. Tanaman berlajar berbunga saat berumur 33 hari dan siap panen 61—65 hari kemudian. Ukuran buah hampir sama dengan winas-1 berkisar 2,3—2,5 cm dan berkolom 4. Potensi produksi maksimal 1,8 ton atau rata-rata 1,4 ton per hektar.

Warna biji winas-2 putih dan bertektur halus. Bobot 1.000 biji sebesar 3 gram dengan kadar minyak 48,8%. Ukuran biji winas-2 cenderung lebih kecil. Produsen makanan ringan biasanya menyukai biji wijen berukuran kecil untuk digunakan sebagai bahan baku. Kanopi kedua varietas itu tidak terlalu rimbun sehingga dapat ditumpangsarikan dengan tanaman palawija seperti kacang tanah, kedelai, dan kacang hijau.

Hadi Sudarmo SSi, peneliti wijen di Balittas menuturkan hadirnya varietas unggul baru yang dapat dikembangkan di lahan sawah diharapkan meningkatkan produksi wijen nasional

Hadi Sudarmo SSi, peneliti wijen di Balittas menuturkan hadirnya varietas unggul baru yang dapat dikembangkan di lahan sawah diharapkan meningkatkan produksi wijen nasional

Perbaikan
Winas-1 merupakan varietas unggul baru yang dirilis pada 2012. “Ada dua jenis winas yakni winas-1 dan winas-2,” ujar Hadi Sudarmo SSi. Keduanya lahir dari induk yang sama yaitu sumberrejo-1 (sbr-1). Sbr-1 varietas lawas yang dirilis pada 1997. Produktivitasnya sangat tinggi, berkisar 1—1,6 ton per ha dan mampu bertahan di lahan kering maupun sawah.

Baca juga:  Atasi Kambing Kembung

Sayang, sbr-1 berumur panjang, siap panen ketika tanaman berumur 100—120 hari. Proses perakitan winas dimulai sejak 1999. Winas-1 hasil persilangan antara sbr-1 dan aksesi SI-22. Sementara, winas 2 hasil perkawinan sbr1 dan aksesi SI-26.

Hadi dan tim peneliti menyeleksi dan menguji daya hasil hingga generasi F6. Galur-galur yang terpilih memiliki potensi produksi tinggi dan umur panen kurang dari 100 hari. Pada 2007 galur-galur harapan itu menjalani uji multilokasi di Sampang dan Nganjuk (Provinsi Jawa Timur) serta Sukoharjo (Jawa Tengah). Lokasi utama yang menjadi sasaran adalah lahan sawah sesudah padi.

Uji multilokasi itu menghasilkan 3 galur unggul yang memiliki produksi dan kadar minyak tinggi. Namun, hanya dua galur yang mampu lolos menjadi varietas unggul dan dilepas dengan nama winas-1 dan winas-2. Hadi menuturkan pengembangan wijen meluas hingga ke lahan-lahan sawah sesudah penanaman padi sejak 1997. Itu sebabnya dibutuhkan varietas unggul yang sesuai dengan kriteria lahan sawah.

Varietas unggul winas-1 dan winas-2 cocok dibudidayakan di lahan sawah sesudah padi

Varietas unggul winas-1 dan winas-2 cocok dibudidayakan di lahan sawah sesudah padi

Daerah yang mengembangkan wijen di lahan sawah sesudah padi meliputi Jawa Timur (Nganjuk, Ngawi, dan Sampang) dan Jawa Tengah (Sragen, Sukoharjo, Klaten, dan Grobogan). Produksi wijen nasional relatif rendah, hanya 1,8 ton per tahun. Padahal, tanaman anggota keluarga Pedaliaceae itu bernilai ekonomi tinggi. Menurut data Food and Agriculture Organization pada 2010, Myanmar dengan produksi 722.900 ton per tahun, India (623.000 ton), dan Tiongkok (587.947 ton) menjadi produsen wijen utama di dunia. (Andari Titisari)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d