Dua Negara Beda Selera 1
Pehobi tanahair menyukai adenium bonggol dengan bentuk seimbang, selaras, dan sealamiah mungkin seperti di alam

Pehobi tanahair menyukai adenium bonggol dengan bentuk seimbang, selaras, dan sealamiah mungkin seperti di alam

Selera pehobi adenium di Indonesia dan Thailand berbeda.

Di tangan Tjandra Ronywidjaja, penampilan Adenium arabicum yaman berubah total. Semula sosok tanaman itu tumbuh rimbun dan besar. Pehobi asal Ponorogo, Jawa Timur, itu memangkas cabang, ranting, atau akar yang mengganggu keindahan. Ia lantas menarik cabang adenium itu ke kiri dan kanan sehingga seimbang. Hasilnya, penampilan tanaman anggota famili Apocynacea itu kompak dengan alur akar, batang, dan cabang selaras.

Daun-daun yang muncul pun kian menampilkan keseimbangan menyeluruh dan kealamiahan tanaman. Mirip pohon beringin di alam. Menurut Tjandra, keseimbangan, keselarasan, dan bentuk sealamiah mungkin seperti di alam merupakan hal yang sangat diperhatikan pehobi adenium bonggol di Indonesia. Frans Sujono, pehobi adenium bonggol di Tangerang, Provinsi Banten, berpendapat serupa. Maklum, “Banyak pehobi adenium karakter di tanahair merupakan pehobi bonsai sehingga keselarasan, keseimbangan, dan kealamian pohon sangat penting,” kata pemilik nurseri Sabda Palon itu.

Rungaroon dan istri membentuk thai socco king crown menjadi jangkung mirip pohon kelapa

Rungaroon dan istri membentuk thai socco king crown menjadi jangkung mirip pohon kelapa

Jangkung

Secara alamiah, adenium di pot jelas sulit memperoleh bentuk seperti pertumbuhan di alam. Itulah sebabnya pehobi perlu menata komponen pohon seperti akar, batang, cabang, dan bunga. Artinya, pehobi harus menyingkirkan komponen yang tidak tepat tumbuhnya. Jika akar muncul di atas garis perakaran utama, misalnya, maka akar tumbuh di tempat salah sehingga dipangkas. “Arah pertumbuhan tanaman pun mesti selaras,” kata Frans.

Jadi, pertumbuhan cabang utama boleh saja miring ke kiri, asal arah pertumbuhan akar ideal. Dengan demikian muncul keseimbangan tanaman secara menyeluruh. Beda dengan Thailand yang menilai adenium bonggol dari keunikan. “Gaya Thailand ke arah bentuk unik, seperti akar atau batang yang dinaikkan,” kata Tjandra. Sebut saja penampilan Adenium arabicum thai socco milik Pongchai Chaipises di Chiangmai, dan Rungaroon di Khancanaburi, Thailand.

Adenium dibentuk sehingga berpenampilan sperti cemara atau beringin

Adenium dibentuk sehingga berpenampilan sperti cemara atau beringin

Pongchai dan Rungaroon mengubah tampilan thai socco menjadi jangkung. Padahal, lazimnya tampilan adenium itu melebar. Kaudeks atau bonggol batang bagian bawah juga pendek. Pongchai meninggikan sosok thai socco dengan memanjangkan 3—8 akar hingga 30—40 cm. Akar tumbuh secara vertikal di bekas botol air mineral sehingga membentuk kaki-kaki jenjang (baca: Monster Mawar Gurun, Trubus September 2013).

Baca juga:  Pestisida untuk Pertanian Modern

Sementara Nok—sapaan Rungaroon—mengubah bentuk thai socco menjadi seperti pohon, dengan batang tumbuh tinggi. Pemilik nurseri Noktongtan itu memilih thai socco king crown sebagai bakalan. Sebab sang raja gampang berbunga serempak. King crown mudah dibungakan dengan teknik stres air seperti pada Adenium obesum dan A. arabicum ra chine pandok. “Pertumbuhan percabangan king crown pun mayoritas seimbang. Jadi tidak perlu rajin memangkas,” katanya. King crown merupakan arabicum hibrida baru yang populer setelah diamond crown dan golden crown.

 King crown asal biji  berusia 5 tahun

King crown asal biji
berusia 5 tahun

Mahkota raja

Nok memperoleh king crown setelah melalui 3 kali seleksi. Semula ayah satu putri itu membeli beberapa induk thai socco dari pemain adenium di Thailand. Ia lalu menyemai biji dan menyeleksi tanaman yang berbunga cepat dan penampilannya menarik. Hasilnya hibrida king crown, petsuan, dan petthapon. Nok menyambung ketiga hibrida itu dengan adenium tothai—adenium obesum berbonggol besar—agar cepat berbunga sehingga dapat diseleksi. Dari ketiga hibrida itu, pertumbuhan mungkut rachan—sebutan lain king crown yang berarti mahkota raja—lebih cepat. “Mungkut rachan lebih mudah dan cepat berbunga. Bunganya juga cantik, warna merah muda,” kata Nok. Penyambungan king crown dengan tothai pun hingga 3 kali. “Itu untuk melihat kestabilan bunga,” kata Thanaporn, istri Nok yang juga pehobi adenium. Hasilnya, bunga tetap tumbuh cepat dan warnanya stabil. Akhirnya, king crownlah yang Nok pilih sebagai bahan membentuk adenium jangkung.

Pehobi Thailand menyukai adenium karakter dengan gaya unik

Pehobi Thailand menyukai adenium karakter dengan gaya unik

Nok memperoleh ide membuat adenium jangkung setelah melihat foto baobab di dunia maya. “Baobob termasuk tanaman sukulen dan ia bisa tumbuh tinggi. Artinya, adenium juga bisa dibuat tinggi seperti itu,” ujar nok. Sejak itu petugas proteksi di Natural Park Department itu mengutak-atik penampilan adenium.

Baca juga:  Pangan Lokal yang Tersisih

Semula ia menyemai biji king crown di tempat gelap agar batang tumbuh tinggi. Selang 1,5 bulan tinggi tanaman 6 inci. Bandingkan dengan tanaman yang disemai di tempat terang, tingginya hanya 3—4 inci. Sayang, meski di tempat gelap tanaman tumbuh lebih cepat tapi batangnya lemas. Setelah itu Nok pun mengubah teknik. Kini, “Yang saya tinggikan akar bukan batang,” ujarnya. Thai socco king crown menjadi jangkung dengan perlakuan pemendaman di media dan beberapa tahapan pot (baca: Putri Jangkung Mandi Bunga, Trubus edisi Januari 2014). Selang 4—5 tahun dari semai biji, thai socco yang semula berpenampilan macho berubah menjadi feminin. Penampilan mahkota raja pun unik dengan sosok jangkung dan bunga kompak di bagian atas. (Rosy Nur Apriyanti)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *