Durian bajul, berdaging tebal, rasanya legit dan manis sedikit pahit.

Durian bajul, berdaging tebal, rasanya legit dan manis sedikit pahit.

Durian legenda Malaysia itu konon berbuah di ujung selatan Jawa Timur. Sayang, musim panen sudah lewat.

Berita durian masmuar berbuah di pelosok hutan di Kabupaten Malang membangkitkan rasa penasaran penulis. “Masak durian unggul Malaysia tumbuh di hutan,” begitu pemikiran saya. Namun, kesaksian seorang penggemar durian di Malang, Teguh, meyakinkan penulis. “Durian itu tumbuh di lereng Gunung Semeru, kawasan Selatan Provinsi Jawa Timur.

Menurut Teguh, ia mendapatkan durian masmuar itu di kawasan hutan, bukan perkebunan durian. “Pohonnya hanya satu, sangat besar dan sudah berusia lebih dari 30 tahun. Sekali berbuah mencapai 400 buah,” ungkap Teguh, pemilik nurseri Bolang Agro di Malang.

Surga durian

Durian sitokong asal Bogor, Jawa Barat. Teksturnya pulen, sedikit kering dengan rasa manis dan pahit yang pas, ketebalan daging sekitar 1—2 cm.

Durian sitokong asal Bogor, Jawa Barat. Teksturnya pulen, sedikit kering dengan rasa manis dan pahit yang pas, ketebalan daging sekitar 1—2 cm.

Masmuar salah satu durian unggulan Malaysia. Durian milik Hajjah Hasmah itu memiliki daging buah jingga pekat. Asalnya dari daerah Muar, Johor. Makanya disebut mas (merujuk warnanya kuning tua seperti emas) muar. Jenis itu diperkenalkan oleh pemerintah Malaysia pada 1989 dengan kode pendaftaran D-168.

Menurut Teguh masmuar di pelosok hutan Malang itu memiliki warna daging jingga pekat dengan ketebalan daging mencapai 1—2 cm. Di kawasan itu juga tumbuh puluhan durian lokal yang bagus-bagus.

Untuk membuktikannya, pada Juli 2017 saya mengendarai mobil ke arah Selatan Kota Malang, sesuai arah yang disarankan Teguh. Begitu memasuki Kabupaten Lumajang, di jalan sepanjang 5 km itu tampak puluhan kios sederhana yang menjajakan durian lokal setempat.

Saat melihat durian lokal berbentuk mirip belimbing raksasa penulis segera menghentikan mobil untuk melihat lebih dekat. Ukuran raja buah itu cukup besar, berbobot 5 kg. Bajul—nama durian itu—dibanderol Rp100.000/buah. Di tempat lain, Durio zibenthinus berbobot sama paling murah Rp200.000—Rp300.000/buah. Karena penasaran, kami setuju bertransaksi dan kulit bajul pun dibuka.

Baca juga:  Kini Kian Trendi

Daging buahnya berwarna kuning jingga dengan semburat merah bata di dalamnya. Dagingya sangat tebal sekitar 2—3 cm. Teksturnya legit dan manis, sedikit pahit. “Pohonnya ada di belakang. Usianya sekitar 15 tahun, tingginya mencapai 15 m, dan sudah panen 3 kali,” ujar pedagang durian bajul itu saat kami bertanya tentang asal-usul bajul.

Sobur (memakai baju ungu) pekebun durian sitokong, otong, dan anonim di Desa Rojopolo, Lumajang, Jawa Timur.

Sobur (memakai baju ungu) pekebun durian sitokong, otong, dan anonim di Desa Rojopolo, Lumajang, Jawa Timur.

Perjalanan menuju lahan durian bajul harus dilakukan hati-hati. Salah menginjak, duri tajam siap menerjang telapak kaki. Itu karena bajul terletak di kebun salak pondoh. Pohon durian bajul terlihat menjulang dengan tinggi sekitar 15 meter. Puluhan buahnya masih menggantung. Setelah melihat sebentar, kami pun balik ke kedai durian tadi. Dari obrolan di kedai itu kami mendapat informasi menarik tentang surga durian di Desa Rojopolo, Kabupaten Lumajang.

Karena penasaran dengan informasi itu, pada keesokan harinya penulis meluncur menuju Rojopolo. Sekitar 30 menit dari perkebunan durian itu terdapat beberapa rumah yang berdiri sendiri-sendiri seolah warganya tidak berteman. Karena mobil tidak bisa lanjut lagi, saya pun turun dan berlari menuruni jalan licin dan berhenti di salah satu rumah warga. Pemilik rumah tampak curiga, lalu mulai menginterogasi. Setelah mengetahui tujuan saya, ia mulai tersenyum. “Sayang mas, Anda terlambat, musim panen telah lewat,” ujar lelaki itu. Menurut pemilik rumah yang bernama Sobur itu, musim durian di Rojopolo biasanya terjadi pada Juni—Agustus. Namun, musim kali ini panen habis lebih cepat. Artinya, harapan menemukan masmuar sirna saat itu.

Perjalanan berliku mengantar ke surga durian.

Perjalanan berliku mengantar ke surga durian.

Rasa sempurna
Dengan logat Madura yang kental, Sobur permisi masuk ke dalam rumahnya. Ia muncul kembali membawa 3 buah durian yang disimpan di dapur. Menurut Sobur, itu jenis sitokong, otong, dan anonim. Sitokong dan otong adalah durian legenda asal Bogor, Jawa Barat. Teksturnya pulen, sedikit kering dengan rasa manis dan pahit yang pas, serta ketebalan daging sekitar 1—2 cm. Daging berwarna putih kekuningan.

Baca juga:  Petik Sayuran di Teras

Sedangkan otong lebih istimewa, ukuran buah dengan ketebalan daging buah pas, mirip montong. Rasanya manis sempurna tanpa pahit dan teksturnya sangat lembut seperti es krim. Durian anonim itu sedikit mengecewakan. Daging tipis, kenyal, dan tidak matang sempurna saat dicicipi. “Yang paling enak petruk, sayang sudah habis. Nanti musim depan saya kabari lagi,” katanya seakan tahu ekspresi kekecewaan saya.

Durian D-168 atau masmuar asal Malaysia, konon tumbuh di lereng Gunung Semeru.

Durian D-168 atau masmuar asal Malaysia, konon tumbuh di lereng Gunung Semeru.

Penasaran dengan penampakan kebunnya, Sobur memandu saya memasuki kebun seluas 1,5 hektar itu. Terdapat 100 pohon durian yang begitu menggiurkan. “Bibitnya kakak saya bawa langsung dari Bogor pada 1983. Setelah mencoba menanam beberapa jenis durian sebelumnya, saya sangat cocok dengan ketiga jenis durian itu,” ujar Sobur. Beberapa jenis lainnya yaitu matahari, petruk, hepe, sunan, dan sikirik.

Menurut Sobur, ada 4 orang yang menanam durian unggul di desa itu. Mereka mengambil bibit dari kebunnya. Untuk menemukan lokasi itu cukup sulit, harus melewati jalan pedesaan yang masih merupakan tanah merah sangat licin dan berkabut ketika hujan tiba. Kondisi topografi yang sangat terjal harus dilalui dengan hati-hati karena melewati tepian jurang.

Sepuluh tahun lalu warga Desa Rojopolo sempat menanam bibit jenis lain yang dibagikan oleh pemerintah setempat. Namun, setelah berbuah dan panen daging putih pucat dan rasanya seperti singkong, getir. Akhirnya, warga kembali bertumpu pada durian unggul pilihan awal. Sayang perjalanan kali ini musim durian sudah usai.

Dua hari memburu masmuar dan durian unggul lain hasilnya nihil. Rasa penasaran tentang keberadaan durian ungggul Malaysia itu belum terpuaskan dan harus menunggu musim berbuah tahun depan. (Sigit Purwanto, pehobi durian di Bekasi, Jawa Barat)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d