Yogi Pamungkas Nugroho memilih sayuran hidroponik karena pasar terbuka lebar

Yogi Pamungkas Nugroho memilih sayuran hidroponik karena pasar terbuka lebar

Calon Sarjana Hukum ini bercocok tanam sayuran tanpa tanah. Omzetnya puluhan juta rupiah sekaligus membuka lapangan pekerjaan untuk warga di berbagai kalangan.

Usia Yogi Pamungkas Nugroho baru 22 tahun, tapi omzet mencapai Rp22,6-juta per bulan dari berjualan sayuran. Dalam sebulan Yogi 4 kali mengirim berbagai sayuran seperti 40 kg kale ke Surabaya dan 22 kg kale ke Kediri, keduanya di Jawa Timur. Sayuran lainnya seperti sawi, pakcoy, dan kangkung ia pasok ke Surabaya (40 kg), Kediri (30 kg), dan Malang, Jawa Timur (20 kg).

Warga Kediri, Jawa Timur, itu juga menjual 90 kg basil ke Surabaya. Jadwal pengiriman semua sayuran itu setiap pekan. Ia mengutip laba Rp20.000—Rp30.000 per kilogram untuk kale dan basil, sedangkan profit sayuran lainnya Rp2.000—Rp3.000 per kg. Sayuran yang ia jual hasil budidaya sendiri. Artinya Yogi petani sekaligus penjual sayuran. Usaha pertanian yang Yogi lakoni berbeda dibandingkan dengan petani sayuran konvensional.

Belajar sendiri

Pagoda hasil produksi Yogi Pamungkas Nugroho.

Pagoda hasil produksi Yogi Pamungkas Nugroho.

Jangan bayangkan Yogi bercocok tanam di lahan dengan tangan berlumur tanah. Budidaya sayuran ala Yogi tanpa tanah sehingga jauh dari kesan kotor “Saya bertanam sayuran secara hidroponik menggunakan teknik nutrient film technique (NFT),” kata pria kelahiran Malang, Jawa Timur, itu. Mula-mula Yogi menyemai benih sayuran selama sepekan, lalu memindahkannya ke media tanam berupa rockwool.

Jarak tanam antarsayuran 25 cm dengan kepekatan nutrisi 1.600 part per million (ppm) untuk pakcoy, kangkung, dan selada. Keunggulan sayuran hidroponik kreasi Yogi adalah masa simpan yang relatif lama yakni sepekan. Saat itu sayuran masih hijau meski agak layu. Syaratnya konsumen mesti menyimpan sayuran itu dalam lemari pendingin.

Cita rasa sayuran produksi Yogi juga tidak langu dan pahit. Apa rahasianya? “Saya meracik sendiri nutrisi hidroponik AB mix,” kata pemuda kelahiran Malang, 14 Juli 1995 itu. Anak pasangan Edy Cahyono dan Koessetyanti itu meningkatkan unsur seng (zinc) dan sulfur serta menambahkan pupuk organik cair (POC) berisi daun kipait dan daun jeruk pada nutrisi hidroponik untuk mencegah serangan hama. Selain itu kipahit kaya fosfor yang diperlukan tanaman,

Petugas membersihkan sayuran sebelum dikemas.

Petugas membersihkan sayuran sebelum dikemas.

Menurut Yogi POC memberikan aroma sayuran sekaligus mengusir hama. Bungsu tiga bersuadara itu menyemprotkan 2 ml POC yang dilarutkan ke dalam 5 liter air sepekan sekali. Kini ia membudidayakan sayuran di 1.700 lubang tanam di lahan 100 m². Populasi tanaman itu lebih tinggi ketimbang kali pertama Yogi berhidroponik pada 2015, yakni hanya 400 lubang tanam.

Baca juga:  Berpadu Atasi Tuberkulosis

Yogi tertarik menekuni hidroponik lantaran peluang bisnis komoditas pangan masih besar. “Saya juga senang berbisnis sejak di sekolah menengah pertama,“ kata pria kelahiran 14 Juli 1995 itu. Padahal, ia tidak memiliki latar belakang pendidikan formal bidang pertanian. Saat ini Yogi menempuh pendidikan strata 1 Jurusan Hukum, Universitas Islam Kediri, Jawa Timur. Ia mengenal hidroponik dari sang ibu yang menonton acara di televisi pada 2014.

Pengusaha muda itu belajar hidroponik dari informasi di dunia maya alias otodidak. Sepanjang 2014 ia tekun mempelajari semua hal tentang hidroponik seperti penyemaian benih, penanaman, dan perawatan tanaman sayuran. Ia juga pernah mencoba berbagai media tanam agar perkecambahan lebih cepat. Pada 2015 Yogi mengikuti seminar hidroponik di Kediri dan langsung membudidayakan sayuran di 400 lubang tanam.

Jus sayuran
Saat ini Yogi kewalahan memenuhi permintaan konsumen meski kapasitas produksi meningkat menjadi 1.700 tanaman. Oleh karena itu, ia bekerja sama dengan petani hidroponik lain di Jawa Timur seperti dari Kediri (8 petani), Malang (4 petani), dan Surabaya (4 petani). Semua mitra menerapkan standar operasional budidaya bikinan Yogi. Menurut Yogi pemasaran salah satu kunci sukses berhidroponik.

Penambahan wadah hidroponik untuk persiapan display wisata edukasi hidroponik.

Penambahan wadah hidroponik untuk persiapan display wisata edukasi hidroponik.

Pada awal berhidoponik Yogi sulit memasarkan produknya. Ia lalu memanfaatkan momen hari bebas kendaraan atau car free day (CFD) di Kediri. Hasilnya dagangan Yogi ludes terjual. Sejak saat itulah masyarakat Kediri mengenal sayuran hidroponik dan semangat Yogi memasarkan produknya ke semua masyarakat makin membara. Pada pengujung 2016, seorang ibu rumah tangga meminta Yogi mengirimkan sayuran hidroponik ke rumah makan.

Sayur kale hidroponik ala Yogi Pamungkas Nugroho.

Sayur kale hidroponik ala Yogi Pamungkas Nugroho.

Sejak saat itu makin terkenallah sayuran hidroponik produksi Yogi. Pesanan juga datang dari dua hotel di Malang pada 2017. Tiga konsumen di Surabaya berupa pusat belanja modern dan hotel pun mencari produk Yogi. Puncaknya hotel ternama di Kediri meminta pasokan. “Kuncinya kami memberikan manfaat-manfaat kepada para konsumen itu. Misalnya kami bantu untuk membuat iklan-iklannya,” kata Yogi.

Jus sayuran hidroponik inovasi Yogi Pamungkas Nugroho.

Jus sayuran hidroponik inovasi Yogi Pamungkas Nugroho.

Kini semua permintaan pasar terpenuhi berkat kerja sama yang baik dengan para mitra. Jika ada tambahan permintaan, ia mendapatkan sayuran dari mitra yang kelebihan produksi. Selain menjual sayuran segar, ia pun menyediakan jus sayuran hidroponik sejak 2017. Yogi menjual 800-an botol jus sayuran hidroponik seharga Rp20.000—Rp30.000 per bulan. Inovasi itu salah satu sumber pendapatan Yogi karena menghasilkan laba sekitar Rp6 juta—7 juta sebulan.

Daun poko atau mint produksi Yogi Pamungkas Nugroho.

Daun poko atau mint produksi Yogi Pamungkas Nugroho.

Kini Yogi juga tengah mengembangkan naget sayuran plus wisata edukasi sayuran hidroponik dan organik. Kesuksesan dan kesungguhan Yogi berhidroponik berbuah manis. Selain mendulang untung puluhan jutaan rupiah, Pemerintah Daerah Kabupaten Kediri menobatkan Yogi sebagai Pemuda Pelopor 2017. Selain sukses secara pribadi, ia juga mampu menyukseskan orang lain.

Baca juga:  Merah Merona Jeruk Darah

Buktinya Yogi memperkerjakan 19 orang dari berbagai latar belakang pendidikan dan pergaulan, termasuk karyawan bertato banyak yang semula susah mendapat pekerjaan. “Yang penting memiliki integritas,” kata Yogi yang bermoto mampu memberi manfaat kepada siapa pun. Dari belajar sendiri, Yogi membuktikan bahwa pemuda juga sukses berbisnis sayuran hidroponik. Bahkan, ia membuka lapangan pekerjaan bagi belasan orang. (Bondan Setyawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d