Dr Chaluay Khanjanong Miliaran Rupiah Untuk Anthurium 1
Dr Chaluay Khanjanong menyilangkan anthurium sejak 2010

Dr Chaluay Khanjanong menyilangkan anthurium sejak 2010

Jatuh hati karena si merah.

Mengendarai mobil Fortuner berwarna putih Dr Chaluay Khanjanong menerobos lalu lintas Bangkok—kota termacet nomor satu di dunia versi pembaca BBC pada 2012—selama 2 jam menuju Sainoi, Nonthaburi, Thailand. Rutinitas setiap hari itu demi merawat anthurium kesayangan.

Maklum, halaman rumahnya di Bangkok hanya bisa menampung sekitar 100 anthurium beragam ukuran. Ada yang kecil hingga tanaman remaja umur setahun,” kata Chaluay. Ribuan koleksi lain ia tempatkan di kebun 2.800 m2 di Nonthaburi. Jenisnya hookeri, black dragon, superbum, dan jenmanii. Ukuran tanaman pun bervariasi, mulai dari seedling berumur sebulan hingga tanaman dewasa berumur 4—5 tahun.

Pehobi tanaman hias sejak 10 tahun silam itu menata rapi anthurium-anthurium di atas meja asbes setinggi 50 cm dari permukaan tanah. Total jenderal ada 70 meja asbes berukuran lebar 1,2 meter dengan panjang sekitar 25 m. Chaluay meletakkan anthurium remaja, umur setahun, di bagian depan. Sementara tanaman muda, seedling, di bagian tengah. “Tanaman induk ada di bagian belakang,” katanya.

Nurseri seluas 2.800 m2 di Nonthaburi, Thailand

Nurseri seluas 2.800 m2 di Nonthaburi, Thailand

Induk terbaik

Keng—sapaan Dr Chaluay Khanjanong—tertarik pada anthurium sejak 8 tahun silam. “Dulu saya mengoleksi caladium dan aglaonema,” katanya. Ketertarikan pengusaha timah itu pada anthurium karena ketika itu di Thailand sedang tren. Selain itu, sosoknya menarik karena kokoh dan kompak.

`Kecintaan semakin mendalam karena ada inovasi pada tanaman anggota famili Araceae itu, yaitu berdaun merah. Lazimnya, anthurium berdaun hijau. Tak sekadar mengoleksi, Keng juga menyilangkan kerabat aglaonema itu untuk menghasilkan tanaman baru yang lebih menarik. “Impian saya menghasilkan anthurium bertangkai daun pendek sehingga sosoknya kompak dan daun muda hingga tua berdaun sama, merah,” ujar pria paruh baya itu.

Baca juga:  Mari Nikmati Olahan Teh

Oleh karena itu ia getol mengumpulkan tanaman induk dari penyilang, kolektor, dan kontes anthurium untuk mencari tanaman terbaik. “Anthurium yang menjadi juara kontes biasanya langsung dibeli,” kata Piya Subhaya Achin, pemain tanaman hias di Pathumthani, Thailand. Saat ini total jenderal Keng memiliki 1.000 induk terdiri dari hibrida anthurium berdaun variegata, hitam, dan merah.

Salah satu induk pewaris darah merah Keng peroleh dari Pramote Rojruangsang di Pathumthani. Pramote merupakan penyilang pertama yang menghasilkan hibrida anthurium berdaun merah. Untuk memperoleh induk berkualitas Keng pun rela merogoh kocek hingga jutaan rupiah. Satu tanaman induk merah berharga 100.000 baht setara Rp40-juta. Selain induk, investasi tinggi juga Keng keluarkan untuk membangun nurseri. Konstruksi tiang nurseri dan meja asbes terbuat dari cor. “Biaya konstruksi nurseri sebesar 1.500.000 baht,” katanya. Itu setara Rp600-juta.

1 : 1.000

Bermodal seribu induk itu hampir setiap hari Keng menyilangkan anthurium. Penyilangan dilakukan pagi hari sekitar pukul 06.00—08.00 atau malam pukul 21.00—22.00. Biji yang dihasilkan kemudian disemai di dalam wadah plastik berukuran 25 cm x 35 cm berisi media irisan sabut kelapa dan humus daun dengan perbandingan 2:1.

Selang 3 bulan Keng memindahkan biji yang tumbuh ke pot tunggal dan dirawat selama 2 bulan untuk kemudian diseleksi. “Dipilih yang berdaun merah dan variegata,” katanya. Tanaman terpilih kemudian dirawat kembali dalam pot tunggal selama 4—5 bulan. “Dari situ kemudian diseleksi kembali yang bentuknya bagus,” kata Keng. Pada tahap itu biasanya hanya terpilih sekitar 100 tanaman dari ribuan bibit.

Pemilihan belum berakhir sampai di situ karena 3 bulan kemudian Keng kembali melakukan seleksi. Kali ini seleksi berdasarkan warna dan penampilannya yang bagus, kompak. “Dari situ paling hanya dapat 5—6 tanaman yang bagus,” katanya. Untuk mengecek kestabilan warna dan bentuk, hibrida terpilih kembali dirawat selama 2—3 bulan. Hasilnya, “Biasanya cuma dapat 1 dari 1.000 tanaman,” ujar wakil presiden klub anthurium di Thailand itu. Meski begitu, Keng tak patah arang. Ia justru semakin tertantang berinovasi menghasilkan anthurium merah.

Baca juga:  Pemutaran Perdana Racing Extinction

Terbanyak

Menurut Piya, Keng merupakan satu dari 3 penangkar yang banyak memiliki anthurium merah di Thailand. Hingga Maret 2014 Keng sudah menghasilkan puluhan hibrida anthurium berdaun merah. Sebut saja hibrida anthurium berumur 3 tahun hasil silangan black dragon dengan hookeri variegata. Tangkai daun pendek sehingga penampilannya kompak. Keng juga memiliki anthurium bak pelangi dengan paduan warna kuning, merah, dan hijau dalam satu daun. Anthurium itu berumur 2 tahun asal biji. “Anthurium merah Keng juga sering mendapat juara di kontes untuk kelas hibrida baru,” kata Pic—sapaan Piya Subhaya Achin.

Agar anthurium tumbuh optimal, Keng merawatnya secara intensif. Ia memberikan pupuk lambat urai 15-15-15 setiap 3 bulan. Keng menyiram tanaman setiap 3—4 hari menggunakan sprayer. Pipa sprayer setinggi 130 cm itu terpasang rapi di salah satu sisi meja asbes. Pada satu meja terpasang 8 pipa sprayer dengan jarak antarpipa sekitar 3 m.

Lama penyiraman disesuaikan dengan ukuran tanaman. Sprayer menyala selama 10 menit untuk tanaman dewasa, sementara tanaman muda yang ditanam dalam pot tunggal ukuran 10 cm hanya 5 menit. Untuk atap Keng menggunakan jaring peneduh dengan kerapatan 70% sebanyak 2 lapis. Jarak antarjaring peneduh sekitar 30 cm. Dengan perawatan intensif anthurium Keng pun tumbuh prima. (Rosy Nur Apriyanti)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *