Suhu tinggi menyebabkan baglog kering sehingga tiram gagal tumbuh.

Suhu tinggi menyebabkan baglog kering sehingga tiram gagal tumbuh.

Pemakaian sabut kelapa di dinding kumbung meningkatkan produksi jamur tiram.

Harapan M. Ario Prabowo memanen jamur tiram untuk kali keempat sirna sudah. Dari total 2.500 baglog, sebanyak 1.000 di antaranya mengering. Tak satu pun tudung buah jamur muncul. Padahal, dari setiap baglog itu Ario semestinya bisa panen rata-rata 500 g jamur tiram. Artinya, potensi panen jamur tiram dari 1.000 baglog
mencapai 500 kg. Dengan harga jual Rp8.000 per kg, maka Ario kehilangan potensi pendapatan hingga Rp4-juta.

Baglog kering karena beberapa hari sebelumnya pengelola kumbung alpa mengabuti seluruh baglog pada siang hari. Maklum, lokasi kumbung di Desa Cipacing, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, merupakan dataran rendah. Pada siang hari suhu kumbung seluas 6 m x 8 m itu mencapai 32°C. Ketika kumbung panas, maka udara dalam kumbung menjadi kering.

Guyup Mahardian Dwi Putra, dosen Universitas Mataram.

Guyup Mahardian Dwi Putra, dosen Universitas Mataram.

Sabut kelapa
Menurut ahli jamur, Ir NS Adiyuwono, jamur tiram tumbuh optimal pada suhu 18—25oC dan kelembapan 60—80%. Untuk menjaga suhu dan kelembapan kumbung, pekebun biasanya melakukan penyiraman, baik berupa kabut atau penyiraman biasa. “Penyiraman di dataran rendah bisa dilakukan 3—4 kali sehari dan memperhatikan higrometer (alat pengukur kelembapan udara, red),” katanya.

Untuk menjaga kelembapan kumbung, Ario sebetulnya sudah menginstruksikan kepada pengelola kumbung untuk melakukan pengabutan tiga kali sehari yaitu pada pagi, siang, dan sore. Namun, dalam beberapa hari terakhir pengelola mengabaikan instruksi itu. Apalagi Ario juga tidak setiap hari datang ke lokasi kumbung untuk memantau karena kesibukannya sebagai mahasiswa. Ia baru mengetahui kejadian itu empat hari kemudian.

Tragedi itu tidak akan terjadi seandainya Ario menerapkan teknik yang dilakukan Guyup Mahardian Dwi Putra STP MSi, dosen Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri, Universitas Mataram, dan Hunaepi SPd MPd, dosen Program Studi Pendidikan Biologi, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Mataram. Untuk menjaga kelembapan kumbung di daerah dataran rendah yang bersuhu tinggi, mereka memodifikiasi bangunan kumbung.

Evaporate pad alias bantalan berisi sabut kelapa pada dinding kumbung.

Evaporate pad alias bantalan berisi sabut kelapa pada dinding kumbung.

Mereka menambahkan bantalan di dinding kumbung. Bantalan terbuat dari dua lapis jaring yang bagian tengahnya berisi sabut kelapa. Guyup memasang bantalan itu seperti jendela di dinding kumbung. Tinggi bantalan 90 cm dan panjang disesuaikan dengan panjang dinding kumbung. Pada bagian atas bantalan terdapat pipa polivinil  klorida (PVC) berdiameter 0,75 inci yang bagian bawahnya dilubangi. Pipa itu untuk mengalirkan air.

Baca juga:  Cara Membuat Bibit Jamur Tiram

Air keluar melalui lubang sehingga membasahi bantalan sabut kelapa. Pada bagian bawah bantalan terdapat talang drainase untuk mengalirkan air dari pipa ke penampungan. Dari penampungan air dipompa lagi melalui pipa, begitu seterusnya. Bantalan sabut kelapa berperan menahan air. Udara panas nantinya menguapkan air yang tertahan pada sabut kelapa. Uap air itulah yang membuat udara dalam kumbung menjadi lembap dan lebih sejuk.

Produksi meningkat
Hasil penelitian Guyup dan Hunaepi menunjukkan penggunaan bantalan sabut kelapa di dinding kumbung dapat meningkatkan hasil panen hingga 24,60%. Itu terkait dengan penurunan suhu dalam kumbung yang rata-rata 27,33°C dan kelembapan berkisar 92,15%. Padahal, suhu lingkungan mencapai 29,65°C dengan kelembapan rata-rata 84,95%. Hasil itu lebih optimal untuk pertumbuhan jamur tiram dibandingkan dengan kontrol (tanpa menggunakan bantalan sabut kelapa), dengan suhu rata-rata 29,52°C dan kelembapan rata-rata
82,63 %.

Menurut Guyup biaya untuk membuat bantalan sabut kelapa berukuran 90 cm x 390 cm kurang dari Rp300.000. Yang mahal adalah biaya tambahan untuk membeli pompa. Pompa diperlukan agar air dapat mengalir terus-menerus sehingga bantalan selalu basah. Guyup menuturkan, pemakaian bantalan sabut kelapa itu ekonomis
bila pekebun memiliki 3—4 kumbung berukuran 5 m x 4 m.

Setiap kumbung menampung 500 baglog. Jumlah investasi untuk membuat 4 kumbung berukuran 5 m x 4 m, 4 set bantalan sabut kelapa, satu set pompa, biaya pembuatan sumur, dan pembelian 2.000 baglog mencapai Rp26-juta. Jika rata-rata per baglog menghasilkan 500 g jamur tiram, maka sekali panen pekebun mendapatkan 1.000 kg
dari total 2.000 baglog. Dengan harga jual Rp8.000 per kg, maka omzet sekali panen Rp8-juta.

Setiap baglog bisa panen hingga 4 kali. Dengan jumlah omzet itu, maka modal investasi kembali pada panen ke-4. Guyup menuturkan sejak panen hingga panen berikutnya perlu waktu 80 hari. Jadi, total waktu untuk mengembalikan modal investasi adalah 320 hari. Hasil penelitian Guyup dan Hunaepi, produksi rata-rata setelah
menggunakan bantalan sabut kelapa mencapai 1.000 g per baglog. “Jadi, masa pengembalian modal lebih singkat,” kata Guyup.

Hunaepi, dosen IKIP Mataram.

Hunaepi, dosen IKIP Mataram.

Bahan lain
Menurut Guyup pekebun bisa mengganti sabut kelapa dengan bahan lain yang mudah didapat. “Bisa juga menggunakan spon, kain, jerami, gabus, atau bahan lain yang dapat menahan air,” kata ayah satu anak itu. Guyup dan Hunaepi memilih sabut kelapa karena bahan itu merupakan limbah. Kelebihan lain, sabut kelapa berdaya
tahan lebih lama jika terkena air dibandingkan dengan bahan lain.

Baca juga:  Pasar Walet Bergairah

“Bantalan sabut kelapa bisa tahan hingga tiga tahun,” tutur pria kelahiran Yogyakarta itu. Artinya, bantalan dapat digunakan hingga 13—14 kali panen jamur tiram. Menurut Adiyuwono untuk menjaga kelembapan kumbung bisa juga menggunakan terpal yang dipasang menyelimuti dinding kumbung. Siram terpal dengan air. Air yang tertahan di terpal akan menjaga kelembapan kumbung. Dengan begitu, tak perlu resah lagi membudidayakan jamur di dataran rendah. (Muhamad Fajar Ramadhan/Peliput: Imam Wiguna)

VEL GABUNG.pdf

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Similar Posts

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments