Kepulauan Maluku memang terkenal dengan hasil rempah-rempahnya yang berkualitas. Salah satunya pala. Tanaman tersebut bahkan mampu mengubah kehidupan seorang petani di Desa Dokulamo, Kec. Galela Barat, Kab. Halmahera Utara bernama Dominggus Nones.

Pria berusia kepala empat itu berhasil mengembangkan pala organik bersama kelompok taninya. Hasilnya, ia mampu meraup omzet hingga Rp 31,5 miliar.

Omzet sebesar itu didapat dari 300 ton biji pala yang dihasilkannya dalam setahun. Harga pala organiknya pun tercatat stabil.

Jika harga pala lokal turun, pala organik tidak akan ikut turun. Sementara jika harga pala lokal naik, pala organik malah akan ikut naik juga.

Bersama Kelompok Tani Tarakani yang dipimpinnya, Dominggus telah berhasil mengangkat nilai biji pala organik asal Halmahera Utara. Tercatat, Kelompok Tani Tarakani kini memiliki 3.505 petani sebagai anggota.

Jumlah anggota sebesar itu tidak didapatkan Dominggus begitu saja. Awalnya ia hanyalah petani pala biasa yang meneruskan tradisi petani di desanya. Tradisi itu adalah penggunaan pupuk dan pestisida kimia.

Pengelolaan pun sederhana. Dominggus hanya menjemur biji dan fulinya di bawah terik matahari sampai kering. Jika cangkang biji pala telah pecah, biji bagian dalam dan fulinya kemudian dijual ke pengepul atau tengkulak di desanya.

Sudah jelas, harganya pun tidak pernah pasti. Kadang tinggi, tapi seringkali rendah. Jika sudah dibeli dengan harga rendah, biasanya petani menjadi malas memanen biji pala dan membiarkannya membusuk.

Namun, semua itu berubah sejak Dominggus ditawari menyuplai biji pala organik oleh lembaga sertifikasi produk organik di Jakarta. Pelan tapi pasti, ia mengumpulkan sejumlah petani di desanya untuk maju bersama-sama.

Hasilnya memuaskan. Biji pala organik hasil Dominggus bersama kelompok taninya berhasil lolos pengujian organik. Sertifikat pun bisa didapatkan dengan mudah. Dominggus kini bisa langsung membuat kesepakatan pembelian pala organik langsung dengan eksportir.

Baca juga:  Mengenal Kegiatan Fitoremediasi

Harganya pun dipatok hingga Rp 105 ribu per kilogram. Angka tersebut didasarkan pada permintaan pala organiknya yang mencapai 800 ton per tahun. Suatu total permintaan yang mengagumkan bagi seorang Dominggus yang hanya lulusan kelas lima SD.

Kabupaten Halmahera Utara tempat Dominggus bermukim memang jadi salah satu produsen pala terbesar di Maluku. Saat ini angka produksinya mencapai 24,45% dari total keseluruhan produksi pala di sana.

Dominggus patut menjadi salah satu contoh, pertanian organik dapat menjadi satu pilihan yang menjanjikan untuk dijalankan. Apalagi tanah di Halmahera sendiri sudah tergolong subur sehingga pohon pala sering kali tumbuh begitu saja dan berbuah lebat.

Kementerian Pertanian pun terus meningkatkan mutu pala organik di Indonesia, sehingga nasib para petani dapat berubah menjadi lebih baik seperti Dominggus Nones. 

Sumber : t r i b u n n e w s . c o m