Domba Lokal 180 Kg 1
Daya adaptasi luas mulai ketinggian 1—3.000 dpl

Daya adaptasi luas mulai ketinggian 1—3.000 dpl

Dengan bobot 125—150 kg, domba waringin jantan terberat di Indonesia.

Bobot seekor domba jantan rata-rata hanya 25—40 kg. Namun, domba waringin bagai raksasa karena berbobot hingga 150 kg. Itu 3 kali lipat bobot domba biasa. Potensi bobot domba waringin bahkan hingga 180—200 kg. Bobot itu dicapai ketika domba berumur 3,5 tahun. Domba waringin koleksi Tista Waringin Sitompul di Stabat, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, berbobot 184 kg. Artinya ukuran domba waringin setara rekor domba terberat dunia saat ini, yakni domba lincoln yang berbobot 180 kg. Namun, secara umum, bila pemeliharaan sistem umbar, maka bobot hanya berkisar 80—100 kg, dan bila dipelihara intensif berbobot 125—150 kg.

Domba waringin, dengan bobot jantan 123—150 kg, terberat di Indonesia

Domba waringin, dengan bobot jantan 123—150 kg, terberat di Indonesia

Persentase karkas atau bagian yang dapat dikonsumsi—minus jeroan juga membubung, yakni 55%. Artinya dari seekor domba waringin, peternak dapat memperoleh 55—82,5 kg daging. Sementara persentase karkas domba pada umumnya hanya 13—22 kg. Sudah begitu citarasa daging domba waringin enak. Kandungan lemak rendah, hanya 2—3% dan serat daging lebih halus dibandingkan dengan domba lain. Namun, bila diberikan pakan ampas tahu yang banyak, lemak melonjak jadi 15—20%. Namun, daging berlemak ini disukai masyarakat Aceh. Daya adaptasi tinggi, yaitu dapat hidup baik mulai ketinggian 1 m hingga 3.000 m di atas permukaan laut. Ia pun tahan terhadap serangan penyakit atau parasit internal (cacing-cacingan).

Tanpa tanduk
Perkembangbiakannya cepat karena bersifat prolifik atau beranak banyak, 2—4 ekor per kelahiran. Sosok domba waringin amat khas, bertubuh bongsor, tanpa tanduk, dan mempunyai bercak cokelat di wajah atau kaki. Tubuhnya panjang. Saat kenyang, perut tampak membulat sehingga domba jantan mirip betina hamil. Penemuan domba unggul itu mengejutkan dunia. Beberapa ilmuwan dari Norwegia, Malaysia, dan Australia datang untuk membuktikan keunggulan waringin.

Percak di wajah dan kaki, ciri khas waringin

Percak di wajah dan kaki, ciri khas waringin

Menurut mereka, “Ini bukan sekadar perbaikan genetis, tetapi sudah dihasilkan bangsa baru,” tutur Tista Waringin menirukan ucapan mereka. Menurut para ilmuwan untuk membuat bangsa baru perlu paling cepat 35 tahun. Tista Waringin menemukan waringin hanya dalam 13 tahun. Semula Tista menyilang-nyilangkan domba hanya untuk memperbaiki sifat genetik ekor tipis. Yang menarik, perkawinan antara betina waringin dan garut jantan menghasilkan anak jantan bersosok lebih besar daripada induk jantan dan bertanduk.

Baca juga:  Atasi Diare Landak Mini

Namun, Tista Waringin kurang menyukainya karena bisa menjadi domba adu. Tista memang berhasrat memperoleh domba tanpa tanduk. Keinginan memperoleh domba unggul itu muncul ketika Tista Waringin berkunjung ke Malaysia dan mengetahui bobot domba ekor tipis yang dipelihara masyarakat di bawah standar ekspor. Bobot yang diinginkan yaitu 40 kg per ekor domba jantan dan 25 kg untuk betina. Pada 1990, Tista pun tergerak memperbaiki sifat genetik domba ekor tipis agar bisa diekspor.

Tista Waringin Sitompul menghasilkan domba waringin dengan menyilangkan 4 bangsa domba pada 1990, yaitu domba lokal ekor tipis, suffolk dari Inggris, saint croix, domba afrika yang didatangkan dari Australia, dan barbados blackbelly dari Karibia. Ia memilih keempatnya melalui penelusuran matriks domba. Dengan menelusuri matriks dan menentukan tujuan yang akan dicapai, Tista bisa menghemat biaya karena hanya mendatangkan domba yang akan dipakai untuk penyilangan. Bukan sekadar coba-coba atau memanfaatkan yang ada.

Domba betina bersifat prolifik, sekali melahirkan 2—4 ekor anak

Domba betina bersifat prolifik, sekali melahirkan 2—4 ekor anak

Maklum, untuk mendatangkan 3 domba suffolk perlu Rp11-juta. Pada 1990 itu, harga domba hanya Rp70.000 per ekor. Ia memanfaatkan domba ekor tipis yang banyak terdapat di Stabat sebagai induk betina. Keunggulan ekor tipis tahan perasit internal (cacing-cacingan), cepat berkembang-biak, serta bercitarasa enak. Kelemahannya, bertubuh kecil dengan bobot hanya 25—40 kg. Tista “menghilangkan” gen sifat badan kecil itu dengan mengawinkan dengan induk jantan bersosok besar, yakni suffolk. Hasil persilangan keduanya disebut F1S.

Irit pakan
Selanjutnya, untuk mendapatkan sifat tahan hidup di dataran rendah, alumnus Fakultas Peternakan, Universitas Sumatera Utara, itu mengawinkan barbados blackbelly jantan dan betina ekor tipis. Hasilnya, disebut F1B. Karena ingin menghasilkan domba dengan anak lebih dari 2 ekor, Tista mengawinkan pejantan saint croix dan betina ekor tipis. Anakannya disebut F1C. Karena selalu memanfaatkan domba betina lokal maka darah ekor tipis mencapai 50% dari domba yang ingin diciptakan.

Sebanyak 80% dari 800.000 domba di Kab Langkat mewarisi darah waringin

Sebanyak 80% dari 800.000 domba di Kab Langkat mewarisi darah waringin

Tista kemudian menyilangkan keturunan F1B dengan keturunan F1C sehingga sifat barbados belly dan saint croix terhimpun dalam satu domba. Hasilnya, diperoleh domba yang tahan hidup di dataran rendah dengan darah lokal 50%. Domba itu kemudian disilangkan dengan keturunan F1S (suffolk x ekor tipis). Pada 2003, lahirlah domba waringin, hasil perkawinan kedua domba itu. Tista menyebutnya domba waringin untuk mengabadikan nama pada karyanya.

Baca juga:  Kefir Atasi Hipertensi

Menurut peneliti di Balai Peneltian Ternak (Balitnak) Prof Dr Ir Mohammad Winugroho, bobot domba di atas 100 kg itu tidak lazim. Menurutnya domba rata-rata di Indonesia, hanya 25—40 kg. Namun, bobot istimewa itu perlu dibuktikan dengan melakukan penimbangan ulang. Tista waringin mengatakan domba paling cocok bagi masyarakat karena 80% pakannya berupa rumput yang banyak tersedia. Apalagi domba waringin tidak pilih-pilih makanan. Ia menyukai semua jenis rumput dan konsentrat.

Tista Waringin Sitompul, ciptakan waringin dalam 13 tahun

Tista Waringin Sitompul, ciptakan waringin dalam 13 tahun

Menurut Tista rasio konversi pakan domba waringin (FCR) 3,1—3,2. Artinya untuk menghasilkan 1 kg daging menghabiskan 3,1—3,2 kg konsentrat setara Rp10.000. Harga konsentrat di Stabat Rp3.200 per kg. Namun, dengan harga daging Rp70.000 per kg, usaha domba waringin sebagai hewan pedaging masih sangat menguntungkan. Saat ini populasi domba di Langkat mencapai 800.000 ekor. Sebanyak 80% merupakan domba waringin atau keturunannya domba waringin. (Syah Angkasa).

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *