Dokter di Kebun Buah

Dokter di Kebun Buah 1

 

Kolektor mangga mancanegara, pencinta kurma, dan penikmat semua buah-buahan. Kerry Kertosen menanam jambu air thab thin chan di lahan seluas 3 hektare di Kejayan, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur.

Di kebun 3 hektare itu, 67 pohon jambu air thab thin chan, 56 jambu air thong sam chi, dan 87 jambu air citra berjajar rapi dengan jarak tanam 6 m x 6 m. Kerry Ramlan Kertosen tangkas memangkas dahan-dahan kering yang mengganggu pertumbuhan tanaman.

Gerakan tangan kanannya yang memegang pisau terlihat lincah. Dokter spesialis kandungan itu bukan hanya piawai memegang pisau di ruang operasi.

Bahkan, di kebun buah pun Kerry Ramlan Kertosen pun piawai. Dokter spesialis kandungan itu setiap hari mengurusi tetek-bengek persalinan, ibu hamil, dan masalah kandungan lainnya di Rumah Sakit Islam Siti Hajar, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur.

“Kecuali hari Minggu, wajib bagi saya untuk ke kebun,” ujar lelaki yang membudidayakan ratusan tanaman buah di Kejayan, Pasuruan, Jawa Timur itu.

Panen selalu habis

Kerry Ramlan mengoleksi ratusan tanaman buah meliputi beragam jenis mangga, lengkeng, kurma, jambu, sawo, jeruk, anggur, dan tin. Bagi Kerry tanaman buah adalah pelepas penat setelah sepekan menghadapi pasien dengan penuh permasalahan. “Kalau tangan saya sudah tremor memegang pisau bedah, akan saya ganti dengan memegang cangkul dan gunting pemangkas dahan,” ujar dokter spesialis kebidanan dan kandungan itu.

Jeruk pamelo, salah satu koleksi kebanggaan dr. Kerry Ramlan Kertosen, Sp.OG.

Jeruk pamelo, salah satu koleksi kebanggaan dr. Kerry Ramlan Kertosen, Sp.OG.

Ia bukan sekadar berkebun. Kerry amat serius mengurus koleksinya hingga produktivitas tanaman pun terjaga. Lihat saja panen jambu thab thin chan yang berbobot rata-rata 110—150 gram per buah. Adapun jambu thong sam chi dan jambu citra berbobot 80—110 gram. Itulah sebabnya panen jambu air thab thin chan, 70% masuk pasar swalayan di Surabaya, Jawa Timur.

“Yang bisa masuk hanya jambu yang kondisinya mulus tidak pecah, tidak ada lubang, dengan bobot buah rata-rata 110—150 gram, tidak ada grade dan tidak ada persyaratan kadar briks,” ujarnya.

Di pasar swalayan harga jambu air koleksi Kerry Kartosen mencapai Rp80.000 per kg (th 2017). Sementara itu 30% buah yang tidak masuk pasar swalayan juga habis dibeli oleh para dokter dan masyarakat sekitar Pasuruan dan Surabaya dengan harga Rp40.000 per kg (th 2017).

Kerry membuktikan gairah bertani di lahan itu. Ia berupaya terus menambah koleksinya. Itulah sebabnya, “Setiap ke luar negeri selalu saya sempatkan membawa tanaman mangga. Minimal bijinya,” kata dokter kelahiran Merauke, Provinsi Papua, 23 Maret 1947 itu. Kini ia mengoleksi sekitar 30 jenis mangga dari berbagai daerah baik di Indonesia maupun luar negeri. Kerry paling berkesan saat menanam mangga asal Pantaigading.

Jambu papua koleksi dr. Kerry Ramlan Kertosen, Sp.OG, selalu berbuah lebat

Jambu papua koleksi dr. Kerry Ramlan Kertosen, Sp.OG, selalu berbuah lebat

Ia mendapatkan bijinya ketika ia reuni di Belanda pada 2000. Ia menanam biji mangga itu di lahannya dan tumbuh. Bahkan, “Mangga itu berbuah sepanjang tahun dan awet hingga 2 pekan pascapanen,” ujar Kerry Kartosen. Koleksi mangga lain Kerry yaitu iwen. Ukuran mangga iwen meraksasa, seukuran dua kepalan tangan orang dewasa.

Baca juga:  Cara Efektif Menanam Pohon Kapuk Randu dan Perawatannya

Bobot rata-rata 1,2 kg per buah. Bandingkan dengan bobot manalagi atau arumanis yang rata-rata 350 gram per buah. Tampilannya juga seronok, perpaduan antara hijau dan semburat merah kekuningan.

Rasa mangga asal Taiwan itu manis. Tingkat kemanisan iwen mencapai 20° briks. “Selain berbuah jumbo dan berwarna cantik, rasanya juga manis. Daging buah lembut dan tidak berserat,” kata dr. Kerry Ramlan Kartosen, Sp.OG yang menanam sembilan pohon mangga iwen pada 2008.

Pohon-pohon mangga iwen berjarak tanam 3—6 meter dan berjajar rapi dengan tinggi rata-rata 2,5 meter. Pada setiap pohon itu bergelayut 4—6 buah Mangifera indica.

Kerry memperoleh bibit iwen setinggi 50 cm dari Pusat Studi dan Pengembangan Agrobisnis Hortikultura (Puspa) di Lebo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Dokter alumnus Universitas Airlangga itu menanamnya juga secara intensif. Ia menanam iwen dalam lubang tanam berukuran 60 cm x 60 cm x 50 cm, dengan jarak tanam 6 m x 6 m. Ia membenamkan campuran 30 kg pupuk kandang dan 30 kg tanah sebelum penanaman.

Setiap 6 bulan ayah 4 anak itu rutin memberikan 200 g pupuk phonska per tanaman. Dua tahun setelah tanam iwen mulai berbuah. Tanaman anggota famili Anacardiaceae itu berbuah pada September—November. Dokter spesialis obstetri ginekologi itu memanen 12—20 buah per tanaman dalam sekali panen. Sebuah pohon menghasilkan 200 buah per tahun. Saat matang warna buah berubah dari hijau menjadi kuning kemerahan.

Mangga papua

Selain iwen, dr Kerry juga mengoleksi mangga lain yang tak kalah istimewa, yakni koniyom. Ia memperoleh mangga itu dari rekannya di Thailand pada 2008. Ketika itu ia hanya memperoleh dua bibit hasil okulasi berumur 4 bulan dan setinggi 1 meter. Menurut Kerry mangga koniyom di kebunnya dua kali berbuah. Mangga introduksi itu berbuah pertama kali pada 2011 ketika tanaman berumur 2 tahun.

Koleksi terawat dengan baik.

Koleksi terawat dengan baik.

Kerry memanen 15 mangga koniyom berbobot rata-rata 800—900 g per buah. Meski berukuran lebih kecil, rasa koniyom tak kalah lezat. Saat mengukur dengan refraktometer, ia mengetahui tingkat kemanisan daging buah koniyom mencapai 20° briks.

Sayangnya, daging buah koniyom agak berserat. Selain mangga luar negeri. Kerry juga mengoleksi mangga khas papua seperti mangga opong, mangga su’ud, mangga redjyo.

Penamaan itu berdasar nama pemilik pohon. Mangga opong rasa manis agak sedikit masam tapi segar. Redjyo bercita rasa manis, agak berserat daging lembut. Mangga su’ud rasa manis dengan daging buah halus.

Baca juga:  Jalan Manis Atasi Kista

Ia memetik mangga-mangga itu dari pohon yang berasal dari Desa Mopah, Kecamatan Merauke, desa kelahirannya. Pada 2007 ia mendatangkan 5 entres seukuran pulpen ke kediamannya di Sidoarjo, Jawa Timur.

Ia lantas menyambung entres dengan mangga madu umur 6—8 bulan. Pada Juli 2012, mangga itu mulai berbunga. Tiga bulan kemudian berbuah dengan warna buah hijau sedikit kuning, dan pada Agustus 2012, pertama kali ia mencicipi mangga asal kota kelahirannya itu di kebunnya sendiri di Jawa Timur. Saat panen pertama, per pohon menghasilkan 4—5 buah, dengan bobot rata-rata sekitar 300 g per buah.

Menurut Kerry rasa buahnya ketika belum matang sangat masam, tetapi ketika matang manis sekali. “Bentuk, warna, dan rasanya tidak berbeda dengan di sana (Merauke, red.),” tutur Ayah 4 anak itu.

Pilihan Kerry untuk menggembangkan mangga di Pasuruan, Jawa Timur, amat tepat. Menurut Prof Dr Roedhy Purwanto dari Pusat Kajian Hortikultura Tropika Institut Pertanian Bogor (PKHT IPB), Merauke maupun Pausuruan memang cocok untuk ditanami mangga, sehingga tidak memerlukan adaptasi yang lama.

Menurut Roedhy, kedua daerah itu memiliki musim kemarau yang sesuai dengan kebutuhan mangga. “Minimal musim kemarau 2—3 bulan untuk tempat penanaman mangga,” tutur doktor Fisiologi Tumbuhan dari Ehime University, Jepang, itu. Musim kemarau itu berguna untuk proses induksi bunga. “Apabila kurang dari itu, mangga masih memungkinkan berbuah, tetapi tidak seragam dan tidak serempak,” tutur Roedhy.

Koleksi kurma

Tanaman lain kesayangan Kerry Kartosen yaitu kurma. Ia bahkan menjadi anggota Indonesian Date Palm Association (IDPA). Pada Agustus 2016, bersama rombongan majalah Trubus, ia belajar membudidayakan kurma tropis di Chiangmai, Thailand.

Kini Kerry bersiap menanam lebih dari 500 pohon kurma dan ada sekitar 80 bibit kurma asal Inggris. Salah satu tujuan Kerry menanam kurma ingin membantah persepsi masyarakat yang masih banyak menganggap kurma tidak bisa berbuah di Indonesia.

Buah mangga redjo asal Merauke, Provinsi Papua.

Buah mangga redjo asal Merauke, Provinsi Papua.

“Saya sendiri juga memiliki 9 pohon kurma yang saya tanam sejak 12 tahun lalu, tetapi hingga kini belum berbuah,” ujarnya. Namun ia yakin, kurma tropis yang kini ia tanam yaitu jenis KL-1 akan berbuah dan memberinya kebahagiaan.

Untuk mengatur aktivitasnya sebagai dokter, Kerry optimis pertanian Indonesia akan bisa maju dan berkembang. “Tanah kita subur dan luas. Tidak kalah dengan Thailand atau Taiwan,” ujar Kerry.

Sumber daya manusia alias pfara peneliti di bidang pertanian juga banyak di Indonesia, maka menurut Kerry mereka harus didukung sepenuhnya oleh berbagai pihak.

Jika semua pihak baik petani, peneliti, pedagang, dan pemerintah bersama-sama untuk mengembangkan pertanian sekuat tenaga, maka pertanian Indonesia akan maju-semajunya. Salah satu yang harus kita kembangkan karena mayoritas rakyat Indonesia muslim, adalah tanaman kurma. dr Kerry Kartosen

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x