Tanaman Karnivora

Tanaman karnivora baru Dionaea muscipula dengan beragam varian eksotis.

Koleksi Dionaea milik Jarwoto.

Koleksi Dionaea milik Jarwoto.

Dione putri cantik yang melahirkan dewi cinta, Aphrodite. Kisah dalam mitologi Yunani itu menginspirasi ahli Botani, John Ellis, untuk mengabadikan namanya menjadi genus tanaman bersosok mirip kerang, Dionaea sp. Salah satu spesies yang baru masuk ke Indonesia adalah Dionaea muscipula—dari bahasa Latin berarti penjebak tikus. Pehobi tanaman hias di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Jarwoto Ratmoko, jatuh hati pada Dionaea muscipula.

Di halaman rumahnya tumbuh 25 jenis tanaman karnivora termasuk Dionaea yang tumbuh di pot-pot berdiameter 10 cm. Ketika Trubus mengunjungi rumah Jarwoto tampak seekor lalat terbang rendah mendekati pot-pot kecil itu. Belum juga sampai di permukaan pot, lalat itu menyentuh rambut tanaman. Secara refleks, katup kerang itu bergerak menutup. Lalat pun terjebak dan tak mampu meloloskan diri. Tiga puluh menit kemudian mati.

Sumber nutrisi

Angel wings, daun terbuka ke bawah.

Angel wings, daun terbuka ke bawah.

Putri cantik Dionaea itu menjebak lalat. Tanaman karnivora memanfaatkan serangga sebagai nutrisi. Jarwoto menempatkan beragam varietas dionaea di beberapa tempat, antara lain di dekat kolam ikan, di atas dinding bata, di atas meja kecil, dan di ruang tamu. Di setiap tangkai dionaea terdapat dua daun perangkap yang unik berbentuk kerang. Perangkap itu mempunyai rambut-rambut sensitif  yang dapat mendeteksi keberadaan serangga.

Saat serangga seperti semut, lalat, dan nyamuk menyentuh rambutnya, penangkap bergerak aktif. Rambut dionaea saling mengatup ketika perangkap menutup, sehingga serangga tidak bisa keluar. Perangkap venus fly trap  memproduksi cairan masam yang dapat mengurai jaringan hidup menjadi bentuk yang dapat dimakannya. Ketika proses pencernaan selesai, perangkap akan membuka kembali, dan menyisakan struktur rangka serangga.

Cross teeth, rambut menyilang dan rapat.

Cross teeth, rambut menyilang dan rapat.

Jika rambutnya disentuh tanpa ada serangga, maka daun dapat membuka dan menutup lagi selama 7 kali. Dionaea  berbentuk roset, ukuran relatif kecil. Tangkai sepanjang 10–25 cm menopang setiap daun berukuran sekitar 2 cm. Perangkap merupakan modifikasi dari daun, berwarna hijau dan tumbuh dari dasar. Bagian dalam daun berwarna merah cerah. Dionaea mempunyai bunga berwarna putih.

Baca juga:  Musik untuk Puyuh

Bunga-bunga memiliki lima sepal dan lima kelopak yang sama, panjang sekitar 12 mm. Jarwoto mengoleksi berbagai Dionaea muscipula dengan bentuk perangkap yang berbeda. Koleksi dionaea Jarwoto berumur 6 bulan hingga 2 tahun. Beberapa koleksinya adalah dionaea royal red, spider, cross teeth, wacky traps, dan angel wings. Royal red hampir seluruhnya berwarna merah. Tipe perangkap royal red setengah menutup.

Sayap malaikat

Wacky traps, daun bergerigi, tanpa rambut.

Wacky traps, daun bergerigi, tanpa rambut.

Spider memiliki ciri tersendiri yaitu tangkai tinggi dan menangkap mangsa lebih cepat. Ia memperoleh spider dari Indra, temannya di Institut Pertanian Bogor. Jenis berikutnya yaitu cross teeth mempunyai rambut perangkap lebih rapat. saling silang, dan lebih panjang. Cross teeth berasal dari Tiongkok. Dionaea itu terlihat perbedaannya jika dibandingkan dengan wacky traps yang ompong, daun bergerigi, tanpa rambut.

Jarwoto memperoleh wacky traps dari Fly Trap Store (FTS) di Amerika. Koleksi lainnya adalah angel wings yang berasal dari Tiongkok. Disebut angel wings karena daun terbuka ke bawah. Penampilannya mirip sayap. Jarwoto memperbanyak dionaea dengan setek atau biji. Ia menggunakan media antara lain lumut, moss, oregon moss, perlite, dan spagnum moss. Media lumut khusus untuk penyemaian.

Royal red, berwarna merah, daun setengah menutup.

Royal red, berwarna merah, daun setengah menutup.

Tanaman anggota famili Droseraceae itu disemai dalam lumut di wadah plastik besar. Selanjutnya ayah dua putri itu menyungkup wadah, agar kelembapan lebih stabil. “Kelembapan ideal untuk dionaea sekitar 65 – 80%. Total zat padat terlarut atau Total Dissolved Solids (TDS) tidak boleh tinggi, harus kurang dari 100, sedangkan pH air sebaiknya netral,” ujar Jarwoto.

Pria asal Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, itu memakai air hujan dan air tampungan pendingin ruangan untuk menyiram. Pemberian air dua kali sepekan atau berdasarkan kondisi media masih basah atau kering. Tanaman jangan sampai tergenang karena dapat menyebabkan busuk akar dan akhirnya mati. Menurut pehobi dionaea di Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat, Slamet Bagyo, ukuran daun perangkap dapat dipengaruhi oleh cahaya, kelembapan, dan pertumbuhan sistem akar.

Spider, tangkai tinggi, cepat menangkap mangsa.

Spider, tangkai tinggi, cepat menangkap mangsa.

Sebelum menanam, Slamet mengaduk spagnum moss supaya gembur serta sirkulasi udara memadai. Daun perangkap yang kuat akan terbentuk setelah tanaman berbunga. Dionaea juga mengalami dorman atau berhentinya pertumbuhan tanaman untuk sementara. Di Indonesia, dorman sering terjadi pada musim hujan. Saat masa peralihan itu, pertumbuhan dionaea lambat dan tidak segar.

Baca juga:  Babak Baru Tanam Tin

Untuk mengatasinya, Jarwoto memasukkan tanaman penjebak itu—bersama pot—ke dalam kulkas selama 2 —3 bulan. Tujuannya untuk memperbesar perakaran. Setelah itu Jarwoto mengeluarkan dionaea dan meletakkannya di tempat teduh yang terkena sinar matahari pagi untuk beradaptasi dengan suhu lingkungan. Menurut pengawas tanaman greenhouse dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cibodas, Jawa Barat, Mukhlis Abraham, dionaea dapat beradaptasi dari dataran tinggi hingga dataran rendah. Penggunaan lampu sering kali sebagai sumber cahaya buatan, jika dionaea diletakkan dalam rumah. Selain itu, sinar lampu dapat memperkuat warna menjadi cerah. (Marietta Ramadhani)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d