Di Bawah Lindungan Liliput

Di Bawah Lindungan Liliput 1
Melon nan ranum terhindar dari serangan embun bulu

Melon nan ranum terhindar dari serangan embun bulu

Tiga mikrob ampuh menahan gempuran penyakit embun bulu.

Dua puluh satu tahun berkebun melon, baru kali ini Lutfi Bansir menyerah pada embun bulu. Padahal, ia berpengalaman mengendalikan musuh bebuyutan melon itu. Apalagi gejala serangan embun bulu lazimnya muncul 50 hari setelah tanam sehingga Lutfi tetap dapat memetik Cucumis melo. Buah kerabat mentimun itu siap panen pada hari ke-70 setelah tanam. Namun, penanaman melon pada Desember 2013—Januari 2014 itu musuh menghabisi melon sejak berumur 21 hari. Pertumbuhan buah pun mandek sehingga Lutfi gagal panen.

Itu kisah sedih Lutfi mengebunkan 7.500 melon di Bulungan, Kalimantan Utara.. Ia telah memasang beragam penghalau untuk melindungi 4 varietas—apollo, golden langkawi, dan amara—dari amukan cendawan Psuedoperonospora cubensis itu. Namun, semua nihil. “Saya semprot 3 macam fungisida bergiliran, tapi tidak mempan,” kata doktor buah alumnus Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, itu. Sebut saja fungisida berbahan aktif heksakonazol, mankozeb, dan difekonazol.

Berkat makhluk liliput kebun Anton panen 240 ton melon

Berkat makhluk liliput kebun Anton panen 240 ton melon

Cara biologis

Hujan yang mengguyur Tanjungselor, Bulungan, nyaris setiap hari membuat serangan embun bulu menggila. Data Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kalimantan Timur, merilis curah hujan di Tanjungselor sepanjang Desember 2013—Januari 2014 di atas 200 mm per bulan dengan intensitas tinggi. Akibat gempuran hujan dan kelembapan udara tinggi maka daya tahan tanaman melon lemah. Sebaliknya kekebalan cendawan meningkat. “Saya menyerah, perlu teknik lain yang lebih ampuh,” kata pioner melon kotak di Kalimantan itu.

Kondisi serupa sejatinya terjadi di Pontianak, Kalimantan Barat. Istri Gubernur Kalimantan Barat Frederika Cornelis juga hampir menyerah mengelola kebun Tim Penggerak PKK Kalimantan Barat itu. “Tiga bulan lalu saya dan ibu juga frustasi hadapi embun bulu,” kata Subejo yang merawat kebun itu. Namun, musim kali ini Subejo—atas saran Anton Kamarudin—berhasil melawan embun bulu dengan bantuan “makhluk halus” yang disemprotkan ke pupuk kandang. Itu berupa serbuk yang mengandung Streptomyces sp, Trichoderma sp, dan Geobacillus thermoglucosidasius.

Gejala serangan embun bulu biasanya muncul pada umur 50 hari

Gejala serangan embun bulu biasanya muncul pada umur 50 hari

Menurut guru besar mikrobiologi tanah di Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya, Prof Dr Ir Nuni Gofar MS, ketiga mikrob itu tergolong mikroorganisme baik yang dapat merombak bahan organik sekaligus menekan pertumbuhan mikroorganisme jahat. “Mereka mendapat energi dengan mengurai bahan organik. Saat proses itu berlangsung mereka melepas enzim atau senyawa yang bermanfaat,” kata Nuni.

Baca juga:  Festival Buah Surga

Kepala Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) Institut Pertanian Bogor,  Sobir PhD,  mengatakan sejatinya pengendalian embun bulu dapat dilakukan secara kimiawi dan biologis. Yang pertama dengan fungisida berbahan aktif chlorothalonil. Sementara yang kedua dengan yeast alias cendawan baik. Cara yang terakhir lebih efektif bila didukung dengan plant growth promoting rhizobacteria (PGPR) saat perkecambahan untuk mendongkrak daya tahan tanaman.

Tiga mikroba

Sepekan sebelum tanam Anton melarutkan 100 g serbuk yang mengandung 107—109 cfu per gram mikrob dalam 1 liter air bersih. Ia mendiamkan larutan itu selama 6 jam dan mengencerkan kembali dengan 50 l air. “Larutan itu saya semprot ke bedengan atau ke 1—2 ton pupuk kandang. Mirip membuat pupuk bokashi,” kata Anton. Bedanya pada bokashi, pengolah menutup pupuk kandang yang telah disemprot mikrob dengan plastik atau terpal. Sebab, bakteri perombaknya tergolong anaerob atau tidak butuh udara.

Gara-gara serangan embun bulu pada hari ke-21 pertumbuhan buah melon mandek

Gara-gara serangan embun bulu pada hari ke-21 pertumbuhan buah melon mandek

Kali ini Anton membiarkan pupuk kandang terbuka karena 3 bakteri itu tergolong mikrob aerob.  Ia memanfaatkan pupuk kandang itu sebagai media tanam melon. “Bila melon telanjur ditanam, larutan disemprotkan ke bedengan dan perakaran tanaman yang terserang,” kata Anton. Selain itu Anton juga memberikan imunisasi bakteri endofit alias bakteri baik yang dapat hidup dalam jaringan tanaman.

Contohnya Klebsiella sp, Bacillus endophiticus, dan Acinetobacter sp yang mampu menambat nitrogen dan menghasilkan fitohormon IAA. Contoh lain Pseudomonas sp yang dapat melarutkan fosfat. Beberapa strain bakteri baik tersebut juga antagonis terhadap cendawan jahat. Saat ini bakteri endofit tersebut dikemas dalam bentuk tablet seukuran tablet effervescent. Rendam 1 tablet dalam air 100 mg lalu didiamkan 3—6 jam. Larutan lalu disemprot ke 100 tanaman.

Baca juga:  Tinggi Berkat Guano

Benar saja daya tahan 5.500 melon lebih kuat menahan gempuran embun bulu. Hingga umur 50 hari daun melon masih hijau tanpa gejala serangan. Pertumbuhan buah pun normal hingga siap petik pada umur 60—70 hari setelah tanam. Dengan rata-rata setiap tanaman menghasilkan 1,8 kg melon, pada Desember 2013 Anton memetik  240 ton melon dari lahan seluas sepertiga ha.

Menurut Nuni, agen hayati mengandung cendawan Trichoderma sp—yang sebetulnya perombak selulosa—mampu menekan pertumbuhan cendawan jahat seperti Psuedoperonospora cubensis penyebab embun bulu. Pun bakteri Streptomyces sp yang mengurai lignin dan protein juga melepas senyawa streptomycin. Di dunia pertanian streptomycin kerap digunakan sebagai antibakteri, anticendawan, dan antialga yang ampuh. Pun bakteri  Geobacillus sp mampu menekan pertumbuhan cendawan merugikan.

Gubernur Kalimantan Barat, Drs Cornelis dan Frederika Cornelis

Gubernur Kalimantan Barat, Drs Cornelis dan Frederika Cornelis

Inovasi baru

Beragam enzim yang dilepas agen hayati, menurut Nuni, juga menambah daya tahan tanaman sehingga tidak mudah terserang hama dan penyakit. “Prinsipnya hama dan penyakit lebih sulit menyerang sel tanaman yang sehat. Mereka lebih memilih sel tanaman yang lemah,” kata Nuni. Dengan demikian konsumsi pestisida pun dapat berkurang.

Menurut Nyoman Sukarata, pekebun melon di Tapos, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, teknik mengebunkan melon ala Anton menjadi alternatif baru bagi pekebun. Musababnya, selama ini pekebun menganggap berkebun melon mustahil tanpa pestisida sintetis. “Pekebun melon sudah seperti pekebun cabai dan tomat. Penyemprotan pestisida seminggu 2—3 kali selang seling,” kata Lutfi. Maksudnya, bergantian antara insektisida, fungisida, dan bakterisida.

Lantaran itu hadirnya agen hayati, menurut Lutfi, juga menguntungkan pekebun karena memangkas biaya pestisida. “Biaya pestisida mencapai 30% dari keseluruhan biaya produksi,” kata Lutfi. Biaya yang terpangkas hanya dialihkan sedikit untuk konsumsi agen hayati yang jumlahnya hanya sepertiga dari biaya pestisida. (Ridha YK, kontributor Trubus)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x