Di Atap Rumah Berkebun Buah 1

Lahan di perkotaan kian terbatas. Para pehobi bersiasat berkebun buah di atap rumahnya.

Bagian atap rumah Willy Wong di kawasan Sunter, Jakarta Utara, terlihat rimbun oleh puluhan tabulampot, seperti mangga, jambu air, sawo, ara, anggur, dan putsa di atap rumahnya. Dari total luas 400 m2, separuhnya dipenuhi deretan tabulampot.

Aneka jenis tanaman buah itu ia tanam dalam pot berdiameter 50—100 cm. Kehadiran puluhan tabulampot itu membuat suasana di dak rumah tampak asri. “Biasanya sebelum berangkat kerja saya naik ke dak rumah untuk jogging,” ujar pengusaha elektronik itu. Usai berolah raga, Willy mengamati satu per satu tabulampot. Begitu melihat ada bagian tanaman yang terkena serangan hama atau penyakit, ia langsung memangkasnya.

Willy Wong bersama tabulampot mangga manalagi yang sedang berbuah.

Willy Wong bersama tabulampot mangga manalagi yang sedang berbuah.

Budidaya organik
Willy juga rutin memangkas tunas air yang tumbuh dan ranting-ranting kering setiap pekan. Yang istimewa, Willy membudidayakan tabulampot secara organik. “Saya menghindari pemakaian pupuk dan pestisida kimia karena buahnya untuk konsumsi sendiri,” ujar Willy.

Sebagai sumber nutrisi ia hanya mengandalkan pupuk kotoran sapi yang sudah terurai. Ia mencampur pupuk organik bersama media tanam berupa arang sekam dengan perbandingan sama. Ia tidak menambahkan tanah agar bobot pot ringan. “Kalau pot terlalu berat khawatir dak rumah tidak kuat menampung puluhan tabulampot,” jelas Willy. Penyiraman sekali sehari.

“Jika sedang berbuah, penyiraman bisa dua kali sehari, tergantung kondisi media tanam,” kata mantan penangkar anjing jenis chowchow itu. Meski Willy membudidayakannya secara organik, seluruh tabulampot miliknya tumbuh baik dan berbuah. Willy pernah memanen buah pamelo hingga 14 buah sekali panen. Saat Trubus berkunjung, beberapa tanaman lain seperti mangga manalagi, putsa, anggur, dan jambu air juga tengah memamerkan buah.

Sebagian koleksi tabulampot Willy Wong yang ia letakkan di lantai empat rumahnya.

Sebagian koleksi tabulampot Willy Wong yang ia letakkan di lantai empat rumahnya.

Pada saat mulai berbuah, Willy membungkus buah. Beberapa jenis buah memang sangat rentan serangan lalat buah, seperti mangga dan jambu air. “Untuk mangga pembungkusan dilakukan sejak buah seukuran jempol,” tuturnya. Ancaman lain adalah kelelawar. Willy pernah kehilangan hampir seluruh buah matoa karena alpa membungkusnya. Padahal, itu adalah buah perdana. “Dari 14 buah yang muncul, hanya mencicip sebuah,” sesalnya.

Atasi stres
Untuk memastikan ketersediaan hara cukup, Willy rutin mengganti media tanam setahun sekali. Dengan begitu cadangan nutrisi dari pupuk organik yang berkurang karena diserap tanaman kembali terisi. Mengoleksi tabulampot sebetulnya bukan hobi baru Willy. “Pada 2000 saya mulai mengoleksi tabulampot untuk melepas stres,” tuturnya. Sejak itu Willy rajin mengunjungi pameran pertanian yang menjajakan tanaman buah dalam pot. Sambil mencari koleksi tabulampot terbaru, ia juga rajin berkonsultasi dengan para penangkar tanaman buah untuk menimba ilmu teknik perawatan tabulampot.

Atap rumah Willy Wong tampak rimbun oleh koleksi tabulampot miliknya.

Atap rumah Willy Wong tampak rimbun oleh koleksi tabulampot miliknya.

Willy menempatkan tabulampot di dak rumah karena halaman hanya untuk taman. Bagi Willy kepuasan memelihara tabulampot adalah ketika memanen buah. “Hasil panen saya konsumsi sendiri dan sebagian saya bagikan kepada tetangga dan rekan-rekan di gereja,” ujarnya.

Baca juga:  Rahasia Jeruk Juara Nasional

Beberapa rekan bahkan tertarik mengikuti jejak Willy memelihara tabulampot. “Terutama memelihara buah ara,” katanya. Maklum, buah itu disebutkan dalam Alkitab sebagai salah satu buah suci. “Selama ini mereka hanya mengonsumsi buah ara yang telah dikeringkan sebagai oleh-oleh dari Israel. Dengan merawat sendiri, mereka bisa mengonsumsi buah ara segar,” tuturnya.

Nutrisi
Menurut penangkar tanaman buah di Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Eddy Soesanto, memelihara tabulampot dengan cara organik seperti Willy sangat mungkin dilakukan. “Namun, tergantung jenis buah yang ditanam,” ujar pemilik nurseri Tebuwulung itu. Jenis tanaman buah tertentu memang mudah berbuah meski tanpa tambahan pupuk kimia, seperti jambu air, jambu biji, dan putsa.

Pada lengkeng itoh sulit membuahkan secara organik karena perlu perangsangan buah terutama kalium nitrat (KNO3). Eddy menuturkan idealnya pehobi tabulampot organik tetap memperhatikan kebutuhan nutrisi tanaman sesuai fase pertumbuhan.

Tabulampot lemon koleksi Keng Effendy yang sedang berbuah.
Tabulampot lemon koleksi Keng Effendy yang sedang berbuah.

Menurut Eddy pupuk kotoran sapi paling banyak mengandung unsur nitrogen (N). “Unsur itu diperlukan untuk pertumbuhan daun dan tunas baru,” ujarnya. Sementara ketika berbuah unsur fosfor (P) lebih banyak dibutuhkan. “Sebagai sumber fosfor bisa menambahkan pupuk kotoran walet atau guano (kotoran kelelawar, red),” tutur pria kelahiran 12 Desember 1965 itu.

Tabulampot tin dapat menjadi pilihan karena berbuah sepanjang tahun.

Tabulampot tin dapat menjadi pilihan karena berbuah sepanjang tahun.

Penggantian media tanam disertai pemangkasan akar juga menjadi kunci utama dalam memelihara tabulampot. Interval penggantian minimal setahun sekali. Dengan pemangkasan, tanaman terangsang untuk menumbuhkan perakaran baru. Pada saat yang bersamaan akar baru akan menyerap nutrisi lebih optimal.

Pengatur waktu
Di kawasan Jelambar, Jakarta Barat, Keng Effendy juga mengoleksi tabulampot di lantai keempat rumahnya. Pengusaha walet itu mengoleksi tabulampot untuk menciptakan ekosistem agar lebah klanceng Trigona itama yang ia pelihara betah menetap dan mendapatkan makanan cukup. “Bunga tanaman buah sumber nektar dan serbuk sari yang menjadi makanan utama lebah,” ujarnya.

Untuk menciptakan ekosistem itu pada Juli 2014 Keng menyulap dak rumahnya menjadi “belantara”. Ia memborong aneka jenis tabulampot yang berbuah sepanjang tahun seperti belimbing, jambu biji, dan jeruk lemon. “Saya menghabiskan biaya sekitar Rp30-juta,” ujarnya.

Baca juga:  Mangga Gui Fei dan Vicaris yang Enak di Mata & Lezat di Lidah

Untuk perawatan Keng hanya memberikan pupuk NPK berimbang setiap bulan. Dosis disesuaikan dengan ukuran pot. Untuk pot kecil berdiameter kurang dari 50 cm cukup 15 g per pot. Untuk pot lebih dari 50 cm maksimal 30 g per pot.

Ia memasang alat pengatur waktu yang dihubungkan dengan pompa air. Keng mengatur waktu agar pompa beroperasi pada pagi dan sore masing-masing selama 30 menit. Pompa itu mendorong air agar mengalir ke pipa-pipa yang ujungnya terdapat nozel. “Untuk menyiram seluruh tanaman saya memasang sekitar 100 nozel,” katanya.

Keng Effendy mengoleksi tabulampot sebagai sumber nektar bagi lebah Trigona itama yang ia pelihara.

Keng Effendy mengoleksi tabulampot sebagai sumber nektar bagi lebah Trigona itama yang ia pelihara.

Memiliki kebun buah juga menjadi impian Herman Ho. Namun, apa daya pria asal Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, itu tidak memiliki lahan luas. Untuk mewujudkan impiannya itu ia memanfaatkan lantai 3 rumahnya yang berukuran 10 m x 20 m untuk “berkebun” buah. Di sana ia meletakkan sekitar 300 tanaman buah yang ditanam dalam pot dan polibag, seperti jambu air, mangga, miracle fruit, lengkeng, dan jeruk.

Herman Ho membudidayakan tabulampot tak kalah intensif. Pada masa pertumbuhan vegetatif, ia rutin memberikan satu sendok makan pupuk NPK per pot sebulan sekali. Ketika tak ada lagi tunas baru—pertanda tanaman siap berbunga—ia mengganti NPK dengan pupuk yang mengandung P tinggi seperti SP-36 berdosis sama. Ia juga menyiram media tanam dengan 200 ml pupuk organik cair yang diencerkan dengan seliter air bersih.

Harus intensif
Menurut peneliti di Pusat Kajian Tanaman Hortikultura Tropika (PKHT) Institut Pertanian Bogor (IPB), Sobir PhD, tabulampot dapat menjadi solusi bagi masyarakat yang menginginkan suasana asri dengan menanam tanaman buah. “Di perkotaan luas lahan terbatas,” kata Sobir. Namun, perawatan tabulampot lebih intensif.

Keng Effendy menyiram tabulampot secara otomatis melalui nozel yang ia pasang pada setiap pot.

Keng Effendy menyiram tabulampot secara otomatis melalui nozel yang ia pasang pada setiap pot.

Pendapat senada disampaikan ahli fisiologi tumbuhan dan kultur jaringan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Ir Edhi Sandra MSi. Pemilik nurseri kultur jaringan Esha Flora itu mengatakan, “Di dak rumah suhu lebih tinggi, angin lebih kencang, sinar matahari lebih terik sehingga laju transpirasi lebih cepat.”

Akibatnya laju fotosintesis tanaman serta penyerapan unsur hara dan air cenderung lebih cepat. Oleh sebab itu para pehobi jangan sampai terlambat menyiram dan memberi pupuk agar pertumbuhan tanaman tetap optimal. Eddy menuturkan pemangkasan tajuk juga tak kalah penting. Karena lahan terbatas, pehobi ingin mengoleksi sebanyak-banyaknya tanaman.

Mereka mengabaikan jarak antartanaman sehingga jarak antarpot terlalu rapat dan tajuk saling menutupi. “Untuk menyiasatinya pehobi harus rajin memangkas tajuk agar sinar matahari diterima merata oleh seluruh tanaman,” kata Eddy. Jika rambu-rambu itu diperhatikan, maka menikmati buah di halaman rumah bukan sekadar impian.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *