Bambang Ismawan

Bambang Ismawan

Beberapa dasawarsa lalu, daerah perdesaan pernah dibangun, untuk mencapai swasembada pangan nasional. Pembangunan perdesaan ini menyentuh dimensi fisik dan nonfisik. Untuk dimensi fisik, antara lain tercatat beberapa bendungan raksasa yang pernah dibangun beserta jaringan irigasinya, seperti bendungan Jatiluhur, Gajah Mungkur dan Kedung Ombo. Secara simultan dibangun pranata sosial ekonominya seperti Badan Usaha Unit Desa/Koperasi Unit Desa (BUUD/KUD), kelompok-kelompok swadaya masyarakat (KSM), serta lembaga penyalur kredit usaha tani. Alhasil, Indonesia pun mencapai swasembada pangan tahun 1984.

Namun, prestasi itu tak bertahan lama. Daerah perdesaan lambat laun mengalami kemunduran dengan menyusutnya skala usaha tani, hingga cukup banyak usaha tani yang tak bisa dipertahankan. Ketunakismaan muncul sebagai akibat terdepresiasinya secara terus-menerus lahan usaha tani. Tak hanya lahan sebagai modal natural untuk produksi pertanian yang terdepresiasi, aset kelembagaan, asset finansial, asset/modal manusia, dan asset fisik sarana dan prasarana mengalami deteriorasi, termasuk jaringan irigasi.

Kelembagaan koperasi seperti KUD yang pernah berfungsi sebagai rantai pasok produk pertanian pada masalalu, sebagian besar kemudian mati suri atau rontok. Meski masih ada sedikit yang terus bertahan hingga sekarang. Ratusan ribu KSM yang pernah berhasil dibangun pemerintah bersama Bina Swadaya, mengalami nasib serupa. Dari sisi finansial, modal finansial masyarakat perdesaaan mengalami kemunduran sejak medio 1980.

Sistem perbankan berhasil memobilisasi dana perdesaan, tetapi sebagian besar keluar sebagai capital flight. Warga terdidik ikut eksodus dari daerah perdesaan demi mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Fenomena itu dikenal sebagai braindrain atau human capital flight. Kemunduran perdesaan diperparah oleh marginalisasi ekologis akibat eksploitasi sumber daya alam secara masif yang selanjutnya memicu eskalasi bencana ekologis seperti banjir dan longsor.

Restorasi

Marginalisasi desa telah menempatkan daerah perdesaan sebagai sarang kemiskinan nasional dan pemasok pendatang urban marginal ke daerah perkotaan. Akibatnya, daerah perdesaan mengalami depopulasi akibat ditinggalkan oleh sebagian penduduknya untuk mengadu nasib ke daerah perkotaan.

Daerah perdesaan perlu direstorasi, antara lain untuk mengembalikan peri kehidupan dan rasa percaya diri warganya. Untuk itu perbaikan rerata skala usaha tani adalah mutlak. Lingkungan hidup daerah perdesaan juga perlu dipulihkan, setidaknya pada level yang meminimalisir atau meniadakan potensi destruktif bencana ekologis. Perdesaan perlu dipulihkan fungsinya sebagai penopang ketahanan pangan nasional dan penyedia daya beli untuk produk-produk industri.

Lahan menjadi modal mutlak bagi pengembangan pertanian di kawasan perdesaan.

Lahan menjadi modal mutlak bagi pengembangan pertanian di kawasan perdesaan.

Harapan terealisasinya restorasi desa mendapatkan titik terang ketika Undang-Undang Nomor 6/2014 tentang Desa terlahir dan pemerintah menggelontorkan sejumlah besar Dana Desa sejak 2015. Pemerintah kemudian meluncurkan program reforma agraria dan perhutanan sosial sejak akhir 2017. Hal itu dapat dipandang sebagai tonggak sejarah datangnya era restorasi desa. Gerakan Restorasi Desa (GRD) oleh Bina Swadaya merespons fenomena marginalisasi desa dan datangnya era restorasi melalui berbagai aksi. Kita paham bahwa restorasi desa bersifat multi dimensional. Ada dimensi ekonomi desa, yaitu pertanian rakyat dan ekonomi non usaha tani perdesaan, dimensi ekologis/lingkungan hidup perdesaan, dimensi sosial kelembagaan, dimensi keuangan masyarakat dan fiscal perdesaan, serta dimensi fisik sarana dan prasarana perdesaan.

Baca juga:  Johan di Kota Pahlawan

GRD untuk mewujudkan desa-desa yang mandiri dan modern, yakni desa-desa yang cerdas kehidupan warganya serta mampu memanfaatkan berbagai peluang yang ada secara swadaya. Dengan kemampuan itu diharapkan para warga bisa hidup sejahtera, dan menjaga kerukunan secara berkelanjutan dengan menghargai kesetaraan gender. Dengan kondisi dan situasi seperti itu, desa-desa akan berkemampuan menjaga dan melestarikan lingkungan hidup yang diyakini sebagai upaya mewariskan lingkungan yang baik bagi generasi mendatang.

Aksi nyata GRD pada tahap awal dilaksanakan melalui proyek percontohan di Batang (2016-2018), dengan komponen yang masih terbatas pada restorasi kelembagaan sosial ekonomi perdesaan, meliputi BUMDesa, koperasi, dan kelompok-kelompok swadaya masyarakat sebagai entry points. Kendati demikian, melalui pendekatan ini, GRD berhasil mengembangkan kegiatan ekonomi nonusaha tani perdesaan, yaitu kawasan wisata di beberapa lokasi. Tantangan ke depan adalah mengembangkan komponen aksi GRD secara lebih komprehensif.

Salah satu sistem nilai yang diangkat sebagai wisdom GRD adalah respek terhadap kearifan lokal yang senafas dengan azas subsidiaritas. Terkait ketahanan pangan, warga desa adat kasepuhan Cipta Gelar, Sukabumi misalnya, telah memberikan contoh bagaimana berswasembada pangan secara berkelanjutan, dalam arti ketersediaan pangan yang cukup dari waktu ke waktu sekaligus konservasi lingkungan. Demikian pula sistem Subak di Bali, memberikan contoh praktek terbaik bagaimana mengatur air untuk irigasi secara adil, mengurangi penggunaan pupuk dan pestisida kima serta sebagai wahana untuk memecahkan masalah bersama.

Isu ketahanan pangan mengemuka ketika akhir tahun lalu, Bulog berencana untuk mengimpor beras sebanyak 500.000 ton. Global Food Security Index 2017 hanya menempatkan Indonesia pada peringkat ke-69 dari 113 negara, jauh di bawah Singapura (peringkat ke-4) dan Malaysia (41), sementara Thailand dan Vietnam, negara utama asal impor beras kita, masing-masing berada pada peringkat ke-55 dan ke-64.

Baca juga:  Tanam Kurma Sekarang

Berbagai kebijakan pemerintah, termasuk penyeragaman pangan pokok (beras) cenderung mengabaikan potensi pangan lokal. Demikian pula, eksploitasi sumber daya alam secara masif dan kurang terkendali telah menyebabkan deforestasi dan merosotnya biodiversitas, termasuk berbagai jenis tanaman pangan.

Beberapa jenis tanaman pangan kini cukup sulit ditemukan seperti uwi Dioscorea spp, ganyong Canna edulis, gadung Dioscorea hispida, gembili Dioscorea esculenta, kentang hitam Plectranthus rotundifolius, talas Colocasia esculenta, suweg Amorphopallus paeoniifolius, dan garut

Untuk wilayah kawasan Indonesia timur, beberapa tanaman pangan pokok perlu dijaga dan dikembangkan melalui budidaya seperti sorgum Shorgum bicolor, dan sagu Metroxylon sagu. Pengembangan budidaya tanaman sagu di perdesaan Papua perlu didukung dengan pembangunan koperasi, kelompok-kelompok tani dan bantuan unit pengolahan sagu dari pemerintah untuk dikelola oleh koperasi.

Bersama dengan GRD, marilah berupaya merestorasi keanekaragaman hayati tanaman pangan untuk memperkaya variasi sumber karbohidrat dan mengembangkan bahan pangan pokok lokal non beras seperti sagu di Maluku dan Papua, untuk meningkatkan ketahanan pangan secara berkelanjutan.***

*) Pendiri Yayasan Bina Swadaya pada 1967, lembaga swadaya masyarakat yang antara lain fokus pada pengembangan masyarakat, keuangan mikro, dan pengembangan agribisnis.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Similar Posts

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments