Eka Budianta

Eka Budianta

“Desaku yang kucinta – pujaan hatiku!”  Lagu itu menggema tanpa henti.  Padahal, bus sudah masuk kota.  Desa yang dinyanyikan sudah lama menghilang.  Meskipun, “Tak mudah kulupakan, tak mudah bercerai. Selalu kurindukan desaku yang permai!” Pertanyaannya, adakah desa yang bertahan di “jaman now” ini? Kalau ada, bagaimana gambaran desa modern yang kita inginkan?  Ada beberapa pilihan.  Pertama adalah kampung-kampung baru yang menerapkan konsep “go green”.

Kita bisa mengunjungi kampung-kampung hijau, bahkan di tengah perkotaan. Daftarnya bisa dipilih dalam situs Jaringan Kampung (Japung) Nusantara. Di sana ada kampung-kampung yang hidup berbasis alam. Mereka memanfaatkan sinar matahari dan air hujan.  Dusun-dusun itu menjadi hijau dan memproduksi sayur, buah, air bahkan udara dan energi untuk hidup sehat.  Konsepnya sangat fundamental, kampung sebagai lumbung ide untuk membangun negeri. Sumbernya bukan hanya pertanian, peternakan, tapi juga modalitas budaya, termasuk sejarah, legenda, dan ketrampilan warganya.

Kedua, desa-desa yang memilih produk unggulan di antaranya ada desa sutra, dusun stroberi, desa mandiri energi, sentra domba, burung puyuh, dan perhutanan terpadu. Itulah konsep “one village one product” yang dipromosikan oleh Morihiko Hiramatsu di Jepang pada 1980, dan menyebar ke seluruh dunia. Ada desa jamur, desa daging sapi, desa buah kesemak, desa murbai, dan seterusnya. Desa Sugihmukti, kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung, adalah satu contoh kampung halaman yang berbasis stroberi.

Dusun abadi

Tentu bukan hanya di Jawa Barat, tapi ada juga di lereng Merapi Merbabu, Jawa Tengah; dan di Batu, Jawa Timur.  Desa-desa stroberi mulai muncul di sejumlah wilayah pegunungan, hampir di semua Kepulauan Indonesia. Di bagian timur Pulau Bali, ada desa tradisional yang hidup mandiri.  Desa Tenganan, namanya.  Luasnya 9,5 km2 dengan warga sekitar 4.000 jiwa. Tenganan adalah satu di antara tiga desa kuno yang paling terkenal di Bali. Dua lainnya adalah Trunyan dan Sembiran.

Ketiga desa itu dipercaya telah bertahan ratusan tahun dalam budaya Bali Aga.  Mereka hidup turun-temurun sebagai petani, perajin, dan kini menjadi desa tujuan wisata. Di Flores, juga ada Desa Waerebo yang hidup dari perkebunan kopi. Desa itu memiliki arsitektur rumah yang khas. Meskipun sedikit jumlah warganya, mereka mampu mengharumkan Indonesia karena gaya hidup yang ramah lingkungan dan setia.

Baca juga:  Duta Pangan Nusantara 2015

Contoh-contoh lain yang serupa dapat kita lihat di Pegunungan Tengger, di Tanatoraja, Nias, Mentawai, bahkan di Desa Kanekes, kawasan Badui yang hanya beberapa kilometer dari ibukota Jakarta Raya. Produknya: madu badui, keranjang kulit kayu, dan pisang tanduk. Pelajaran apakah yang dapat kita petik dari desa-desa abadi itu? Apa yang membuat agrikultur dan peradaban mereka terus berkelanjutan? Kesan pertama adalah bakat atau keahlian yang dimiliki warga desa.

Kita disadarkan bahwa produk utama kampung halaman adalah anak bangsa yang sehat, cerdas, dan berdaya. Tentu yang paling penting adalah dukungan manajemen produksi sehingga desa dapat hidup mandiri.

Agrowisata

Stroberi ternyata bisa menjadi contoh bagaimana desa-desa di pegunungan tinggi hidup dengan agrowisata.  Di Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur,  ada tiga macam stroberi siap panen dengan harga Rp40.000 setiap kilogram.  Tiga macam stroberi itu adalah cherly yang besar dan manis, california yang banyak airnya, dan holibert yang teksturnya keras.  Di Jawa Barat ada juga desa stroberi. Tepatnya Desa Barudua, Kecamatan Cipeudeuy, Kabupaten Garut.

Menghidupkan desa dengan mengembangkan komoditas tertentu seperti stroberi, jamur, madu, dan udang yang khas di desa itu.

Menghidupkan desa dengan mengembangkan komoditas tertentu seperti stroberi, jamur, madu, dan udang yang khas di desa itu.

Penghasilan utama desa itu benar-benar dari stroberi, karena hampir seluruh masyarakatnya menanam stoberi. Varietas yang disukai di sana adalah stroberi  kellybert. Serupa holibert, dengan tekstur keras dan tahan lama. Bisa dijual jauh sampai ke Pontianak, Kalimantan Barat. Sulawesi Selatan juga punya desa stroberi, yaitu Bontomarannu  di Kecamatan Uluere, Kabupaten Bantaeng. Penanaman stroberi dan apel dilakukan sejak 2007 setelah mendapat pelatihan dari Batu, Jawa Timur.

Desa-desa di Bantaeng termasuk ideal untuk kebun stroberi berkat ketinggiannya di atas 1.000 meter di atas permukaan laut. Pulau Bali juga punya sentra di Kabupaten Singaraja, Kecamatan  Sukasada, desanya Pancasari. Petani di sana memanfaatkan curah hujan yang tinggi untuk menanam stroberi Fragaria sp. itu. Jadi hampir setiap tempat di Indonesia bisa memiliki desa stroberi.  Kota-kota besar seperti Semarang, Bandung, Medan, Surabaya, bahkan Manado pun punya destinasi desa stroberi, yaitu Desa Rurukan di Kecamatan Tomohon.

Baca juga:  Tepung Batang Naga

Masalahnya tentu bagaimana membuat produksi stroberi berkelanjutan.  Rata-rata yang menjadi desa stroberi itu sebelumnya produsen sayur-mayur dan buah-buahan. Kita bisa mencatat, sebelum menjadi kota stroberi, Batu adalah kota  apel, dan pada 1950-an kota jeruk. Prinsip penting yang perlu disebarkan adalah menemukan keistimewaan desa.  Desa stroberi hanya contoh sederhana yang dapat ditemukan di dataran tinggi.

Spesialisasi

Bagaimana dengan dengan dataran rendah?  Kita menemukan desa-desa yang dominan dengan produk singkong, pisang, nanas, mangga, salak, dan berbagai jenis ikan. Ada desa menjadi sentra produksi belut dan ikan lele.  Ada juga desa dengan tambak ikan bandeng yang luas sampai cakrawala.  Sidoarjo di Jawa Timur adalah desa ikan bandeng. Cirebon di Jawa Barat punya desa udang, desa batik, desa perajin tembaga, dan seterusnya.  Desa-desa terpencil pun bisa menyumbangkan kain tenun dan ukiran yang menggetarkan dunia.

Minahasa dianggap tempat asal-muasal pohon aren Arenga pinnata yang menghasilkan kolang-kaling, buah istimewa di bulan puasa.  Jadi bisa juga dikembangkan desa kolang-kaling yang sulit dicari tandingannya. Apa lagi bila disertai pengolahan yang bertaraf internasional.  Namun, kita tidak boleh lupa dengan desa bawang merah di Brebes, Jawa Tengah, desa susu sapi, desa-desa penghasil durian, yang dengan bangga bisa mengadakan festival durian setiap tahun.

Sudah waktunya para petani dan peternak Indonesia mendapatkan penghargaan dan menikmati keuntungan karena pandai menemukan dan mengembangkan spesialisasi. Namun, keistimewaan itu tidak akan berlanjut tanpa didukung pengembangan keahlian warga desa, baik dalam budidaya, pengolahan, pemasaran, dan terutama pembenihan. Di atas semuanya adalah kesetiaan, konsistensi untuk selalu bangga dengan “Desaku yang kucinta!” ***

*) Budayawan,kolumnis Trubus sejak 2001, aktivis Tirto Utomo Foundation dan kebun organik Jababeka, Cikarang.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d