Derly Anwari: Omzet Besar dari Ayam Mungil 1
580-H040-1

Penangkar serama di Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, Derly Anwari.

Memutuskan berhenti bekerja agar fokus menangkarkan serama. Omzet Rp15 juta—Rp50 juta sebulan.

Penghasilan Derly Anwari sejatinya memadai, Rp6 juta per bulan. Karyawan perusahaan swasta di Jakarta itu berpenghasilan 2 kali lipat rata-rata upah minimum regional. Namun, pemuda 32 tahun itu kerap jenuh dengan kesibukan yang sama selama 3 tahun. Itulah sebabnya, Derly bertekad bulat menekuni hobi berternak ayam serama. Setahun berselang, pada 2013 pendapatan Derly melambung rata-rata Rp50 juta per bulan dari perniagaan serama.

Pendapatan itu jauh lebih besar daripada gajinya di perusahaan pemasaran berjenjang. Hasil itu berasal dari penjualan rata-rata 10 serama kualitas kontes. Harga seekor serama berkualitas kontes mencapai Rp5 juta. Pria  kelahiran Kabupaten Pandeglang, Banten, tahun 1986 itu menjual ayam serama berumur 3—4 bulan. Konsumen datang dari berbagai kota seperti Jakarta, Surabaya, dan Palembang. Ciri serama berkualitas kontes antara lain sehat, tubuh sempurna, dan mental bagus atau berani bergaya.

Seleksi induk

Menurut Derly dari sekali tetasan sebanyak 5 telur per induk betina rata-rata menghasilkan 1—2 serama bermutu kontes. Persentase itu sangat dipengaruhi induk. Menurut Derly idealnya induk serama harus berumur 5—6 bulan, sehat, dan sudah berahi. Syarat lain, minimal salah satu induk serama, baik jantan atau betina harus pernah juara di sebuah kontes. Induk juara cenderung melahirkan anakan juara.

Derly memanfaatkan lahan 10 m2 di sisi rumahnya di Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, untuk beternak serama. Saat ini ia mengelola 11 induk jantan dan 20 betina yang produktif. Dari indukan itu hasilnya rata-rata 30 serama kualitas kontes per bulan.

Serama-serama berkualitas hasil tangkaran Derly antara lain Ronin Jr, Terminator, dan Dek Ayu. Serama bernama Ronin Jr itu hasil persilangan antara induk jantan Ronin dan induk betina Dek Ayu. Ayam yang kini berumur 2 bulan itu malang-melintang di berbagai kontes seperti kontes piala ASEAN dan piala Surabaya. Derly memasarkan seramanya ke pehobi serama antarkomunitas.

580-H040-2

Serama dewasa bernama Ronin tangkaran Derly Anwari yang kini kerap menjadi jawara di berbagai kontes.

Menurut Derly serama yang tidak memenuhi kriteria kontes fisiknya kurang sesuai contohnya dada kurang busung atau kedudukan kepala kurang selam. Pada 2013 Derly berkolaborasi dengan rekan asal Jakarta untuk membeli indukan bagus. Tak tanggung-tanggung Derly membelanjakan Rp300 juta untuk indukan.

Baca juga:  Terarium Perekat Cinta

Derly juga mendatangkan indukan seperti Kink Dien dan Nying-nying dari Malaysia. Kedua serama jantan itu kerap merajai kontes nasional. Strategi membeli indukan baru menghasilkan keturunan berkualitas. Salah satu keturunan Nying-nying, misalnya, bernama Bento menjuarai kontes di piala Hasanuddin, Makassar.  Pantas jika Derly beromzet fantastis, hingga Rp50 juta per bulan. Derly mengatakan,  bisnis serama seperti bisinis lain, terkadang naik dan turun.

Permintaan turun

Derly mengatakan, pada 2016—2017 omzet penjualan serama turun 70%. Artinya, jika semula omzet Derly Rp50 juta anjlok hanya Rp15 juta sebulan. Penyebab omzet turun karena harga ayam yang turun. Seperti hukum ekonomi pada umumnya, makin banyak barang harga pun turun. Jika dahulu harga anakan Rp5 juta, kini hanya Rp1,5 juta. Faktor lain yakni ekonomi dan seleksi anakan.

580-H041-1

Derly Anwari saat mengikuti kontes serama Kemenpora pada Desember 2017.

580-H041-2

Profil Derly Anwari

Derly mencontohkan, satu indukan jantan dan 3 indukan betina berkualitas kontes rata-rata menghasilkan 5 anakan per betina. Maka total 15 anakan. Dari 15 anakan itu rata-rata anakan yang layak jual dan kualitas kontes hanya 6 ekor. Di tanah air sisa anakan kurang bagus masih ada permintaan. Namun, harga anakan nonkualitas kontes murah, yakni Rp400.000—Rp1 juta per ekor. “Sementara di Malaysia, anakan kurang bagus dipotong dan tidak diperjualbelikan,” paparnya.

Jika anakan yang kurang bagus itu dijadikan indukan, persentase keturunan juga jelek. “Anakan yang kualitas kontes dari indukan kurang bagus dijual murah, karena anggapan penjual sudah untung dengan harga murah,” kata Derly yang menjabat ketua Seramania Depok Bogor (Serdebo). Hal itulah yang menyebabkan turunnya harga serama. Menurut Derly untuk meramaikan kembali serama dengan menggelar kontes baik regional maupun nasional.

Baca juga:  Lokakarya Internasional Agriturisme

Alumnus Jurusan Ekonomi Syariah, Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta itu mengatakan, “Jika biasanya dalam setahun 2 kali kontes di Jakarta dan sekitarnya, mungkin pada 2018 akan berlangsung 3—5 kali kontes.” Makin banyak pehobi baru tentunya membuat permintaan serama makin tinggi. Dampaknya harga ayam yang bersosok mirip Sri Rama itu kembali stabil di tanahair. (Muhamad Fajar Ramadhan)

580-H041-3

Mencari Serama, Mendapat Katai

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *