Demi Panen Maksimal 1
Penambahan pupuk nitrogen tingkatkan produksi bawang

Penambahan pupuk nitrogen tingkatkan produksi bawang

Tepat pupuk dan strategi cegah hama dan penyakit kunci meningkatkan produksi bawang merah.

Panen bawang merah di kebun Saddam Thamrin di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, pada Desember 2013 tidak seperti biasanya. Lazimnya ia hanya memanen 3,5 ton bawang merah dari lahan 0,5 ha. Kini ia memanen 4,5 ton. Biaya produksi justru lebih rendah 15%.

Bagaimana cara Saddam meningkatkan produksi bawang merah? Ia menambahkan pupuk nitrogen dalam proses budidaya. Biasanya ia memupuk dengan NPK dan 2 jenis pupuk daun.  Setelah menggunakan pupuk nitrogen, kebutuhan pupuk daun hilang sehingga biaya lebih hemat.  Petani bawang secara turun-temurun itu mengencerkan 500 ml pupuk nitrogen ke dalam 20 liter air, lalu menyemprotkan ke tanaman. Untuk lahan 0,5 ha ia menghabiskan 60 liter larutan pupuk. Aplikasi penyemprotan pada sore hari, selang sehari sebelum dan sesudah pemupukan rutin. Saddam memupuk  dengan pupuk NPK sebanyak 4 kali selama masa budidaya 2 bulan. Yakni pada umur 10 hari pascatanam, 25 hst, umur 35 hst, dan terakhir 45 hst.

Darmawan Sandi Susilo, “perlakuan pratanam terhadap benih mencegah serangan moler”

Darmawan Sandi Susilo, “perlakuan pratanam terhadap benih mencegah serangan moler”

Lebih cepat

Pascapenyemprotan pupuk nitrogen pertumbuhan tanaman menjadi lebih cepat 1 cm dari biasanya, daun tampak lebih segar, dan tanaman tahan hingga umur 61—62 hari. Tanpa pemberian pupuk nitrogen, pada umur 58—59 hari ujung daun mengering. Proses pembesaran umbi pun terhenti.

Pertumbuhan tanaman yang lebih cepat itu juga diiringi meningkatnya produksi umbi. Dari 500 kg bibit yang ditanam, ia menuai hasil 4,5 ton. Lebih tinggi 1 ton daripada budidaya konvensional. “Hasil panen juga lebih bersih,” ujarnya. Kulit terluar bawang merah biasanya ikut tercabut saat panen. Namun, dengan pemakaian pupuk nitrogen kulit terluar yang mengering tidak ikut terpanen dan tertinggal di dalam tanah.

Seluruh hasil panen masuk  dalam mutu 1. Rata-rata diameter umbi 2,5 cm; sebelumnya 1,5 cm. Standar Nasional Indonesia menyebut bawang merah mutu 1 jika tua, keras, dan diameter minimal 1,7 cm. Mutu II cukup tua, keras, dan diameter minimal 1,3 cm. Hingga kini pekebun berusia 23 tahun itu dua kali melakukan budidaya dengan penambahan pupuk N.

Baca juga:  Awet Tanpa Rayap

Menurut ahli pupuk di Jakarta, Ir Yos Sutiyoso, nitrogen membentuk protein dan penyusun protoplasma yang berperan dalam proses fotosintesis dan metabolisme tanaman.  Nitrogen diserap dari dalam tanah berbentuk ion nitrat atau amonium. Di dalam tumbuhan zat itu bereaksi dengan karbon membentuk asam amino, selanjutnya berubah menjadi protein. Protein inilah yang digunakan sebagai sumber metabolisme dan respirasi tanaman.

Peran lainnya, mempercepat  pembentukan tunas dan tinggi tanaman. Metabolisme yang berjalan lancar nantinya juga berpengaruh dalam pembentukan umbi. Namun, Dr Ir  Diah Setyorini MS, periset di Balai Penelitian Tanah mewanti-wanti, beberapa zat nitrogen kompleks bisa bersifat toksik, sehingga pemakaiannya harus hati-hati.

Untuk meningkatkan produksi umbi bawang merah, Yos menyarankan menambahkan pupuk tinggi K seperti kalium nitrat. “Pupuk tinggi K mengatur percepatan pembentukan karbohidrat, sehingga pembentukan umbi menjadi lebih besar,” ujarnya. Untuk memperkuat aroma, Yos menyarankan menambahkan pupuk tinggi sulfur seperti kalium sulfat. Dosis pemberian masing-masing 2 kuintal per hektar. Pemberiannya cukup satu kali saat masa pertumbuhan vegetatif tanaman (1—2 minggu pascatanam).

Cara lain meningkatkan produksi bawang merah dengan penambahan pupuk Urea hayati dan NPK. Itu seperti hasil riset Rini Rosliani di Balai Penelitian Tanaman Sayuran di Lembang, Kabupaten Bandung. Dalam percobaannya, pemberian pupuk Urea hayati 1 liter/5 liter air per ha dan NPK (15-15-15) 50 kg/ha menghasilkan umbi berbobot 372 gram/tanaman. Bandingkan dengan kontrol (tanpa perlakuan), 204 gram/tanaman.

Bawang merah rentan terkena serangan hama dan penyakit

Bawang merah rentan terkena serangan hama dan penyakit

Hama penyakit

Produksi bawang merah juga dipengaruhi serangan hama dan penyakit. Oleh karena itu,  petani harus mewaspadai kehadirannya. “Serangan penyakit saat musim hujan menurunkan produksi 30—70%. Bahkan, jika serangan berat menyebabkan gagal panen,” kata Agus Pratomo SP dari Balai Pengembangan Sumberdaya Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Timur.

Baca juga:  Khasiat Besar Biji Mini

Penyakit yang banyak menyerang bawang merah adalah moler karena serangan cendawan Fusarium dan lodoh (Peronospora). Sementara hama yang banyak menyerang ulat, anjing tanah, dan trips. Untuk mengatasi serangan fusarium, Saddam menyemprotkan campuran fungisida berbahan aktif iprodion 2,5 gram/liter, flasher 2,5 ml/liter dan mankozeb 5 gram/liter. Penyemprotan ia lakukan mulai umur 15—30 hari.

Untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan mengantisipasi serangan hama dan penyakit, Brand Manager PT Bina Guna Kimia (FMC Agricultural Product), Darmawan Sandi Susilo,   menyarankan perlakuan pestisida mulai dari persiapan benih hingga menjelang panen. Pada fase persiapan benih misalnya. Celupkan benih ke dalam fungisida, konsentrasi 0,5 ml/liter air selama satu menit. Lalu, kering anginkan. Cara lain campurkan 25 kg benih ke dalam 100 gram insektisida berbahan aktif abamektin. “Kedua cara itu efektif menghalau penyakit 80—90%,” papar alumnus jurusan Hama dan Penyakit Universitas Brawijaya itu.

Pada fase persiapan lahan, petani  membenamkan insektisida berbahan aktif karbofuran atau karbosulfan. Pemberiannya  setelah aplikasi pupuk dasar. Perlakuan pada benih dan persiapan lahan berlaku wajib karena seperti imunisasi agar benih sehat di lapang.

Adapun pada fase vegetatif, gunakan kombinasi fungisida untuk mengurangi serangan  penyakit. Jika serangan kompleks, kombinasi terdiri atas 2 jenis fungisida kontak dan 1 sistemik. Fungisida kontak cara pengendaliannya cepat, sedangkan sistemik sebagai pencegahan. Perbandingan ketiganya 1:1:1. Dosis sesuai anjuran di kemasan. Frekuensi penyemprotan 3 hari sekali di musim hujan dan sepekan sekali di musim kemarau.

Dr Widodo, pakar hama dan penyakit tanaman di Departemen Proteksi Tanaman IPB sepakat. Pemberantasan hama dan penyakit sebaiknya tidak hanya menggunakan 1 jenis bahan aktif yang sama secara terus-menerus. “Tujuannya mencegah timbulnya resistensi pada hama atau penyakit target,” kata Widodo. Sementara Dr Suryo Wiyono, pakar hama dan penyakit di Departemen Proteksi Tanaman, Institut Pertanian Bogor, menganjurkan untuk meningkatkan kandungan organik dan kesuburan tanah. Lingkungan tumbuh yang subur membuat tanaman lebih tahan terhadap serangan penyakit. Hama dan penyakit teratasi ditambah pupuk tepat, produksi bawang merah pun menjulang. (Desi Sayyidati Rahimah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments