Demi Moringa Bermutu Tinggi 1

Kiat menghasilkan tepung daun moringa bermutu tinggi untuk memasok pasar ekspor.

Moringa sebaiknya dibudidayakan secara organik.

Moringa sebaiknya dibudidayakan secara organik.

Ir. Ai Dudi Krisnadi mampu mempertahankan 18 jenis asam amino yang terkandung dalam tepung daun moringa produksinya. Sekadar menyebut beberapa, prolin sebanyak 9.867,28 ppm, lisin (13.945,55 ppm), dan ariginin (14.719,42 ppm). Komunitas moringa dunia mengenal produsen tepung daun moringa di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, itu sebagai penemu Moringa Nutrition Lock Methode atau metode pengunci nutrisi moringa.

Prosedur ketat berlangsung sejak budidaya. Dudi mensyaratkan bahan baku berasal dari tanaman moringa atau kelor hasil budidaya secara organik. Itulah sebabnya ia bermitra dengan Felix Bram Samora yang membudidayakan moringa secara organik di lahan 3 hektare. Kebun milik Bram—panggilannya—bahkan sudah tersertifikasi lembaga sertifikasi organik Certification of Environmental Standards (Ceres) yang berkantor pusat di Jerman.

Panen

Dudi menuturkan sertifikasi organik sangat penting bila hendak memasarkan produk berbahan dasar tepung daun moringa ke mancanegara, terutama negara-negara di Benua Eropa.

Selain itu Dudi juga berupaya mempertahankan nutrisi daun moringa dengan panen yang tepat. Ia memanen daun moringa secara manual menggunakan gunting setek, sabit, atau pisau tajam. Pria kelahiran Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, itu memanen daun moringa beserta ranting. Ia menggunting antara ranting ketiga dari tanah sampai batas ranting ketiga dari pucuk daun teratas. Ciri daun siap panen berwarna hijau gelap sampai terang, tebal, dan berbentuk daun sempurna.

Ia juga memamen dengan cara memetik daun dari pangkalnya. Menurut Dudi pekebun bisa saja memanen dengan meluruhkan daun langsung dari pohonnya mulai dari dasar tangkai daun. Cara itu memang lebih cepat, tapi merugikan tanaman karena menghambat pertumbuhannya. Kiat lain menghasilkan produk bermutu adalah menjaga kebersihan daun. Dudi memanen daun pada pagi atau sore hari. Sebelum panen, ia memastikan tidak ada embun di permukaan daun, terutama jika panen pada pagi hari.

Baca juga:  Peluang Bisnis 2016

Dudi menuturkan cara panen tergantung jarak antara lokasi kebun dengan pusat pengolahan. Bila jarak antara kebun dengan pusat pengolahan dekat, Dudi menyarankan untuk memotong cabang besar dan mengangkut seluruh bagiannya ke pusat pengolahan. Proses peluruhan daun dilakukan di pusat pengolahan.

Namun, bila jarak antara kebun dengan pusat pengolahan jauh, sebaiknya luruhkan daun dahulu dari cabangnya, kemudian angkut ke pusat pengolahan. Peluruhan daun dilakukan lebih dahulu agar menghemat ruang sarana pengangkutan sehingga bisa mengangkut hasil panen lebih banyak.

Segera diolah

Kecepatan pengangkutan dari kebun ke tempat pengolahan juga penting untuk menghasilkan tepung daun bermutu tinggi. “Daun moringa harus segera diolah maksimal 4 jam setelah panen,” ujar Dudi. Oleh sebab itu ia menyarankan sebaiknya membangun pusat pengolahan di dekat area kebun. Pada saat pengangkutan daun segar, gunakan wadah berventilasi baik seperti keranjang atau wadah plastik berlubang untuk pengangkutan jarak pendek.

Trubus Juni 2018 Highrest.pdf

Hindari pengangkutan menggunakan kendaraan terbuka, apalagi ditumpuk di bawah barang atau diduduki karena merusak kualitas daun. Saat pengangkutan tinggi tumpukan hasil panen tidak boleh lebih dari 20 cm. Pengangkutan sebaiknya dilakukan pada pagi, sore, atau malam saat cuaca tidak panas. Daun yang diangkut dalam jarak jauh wajib menggunakan kendaraan angkut berpendingin untuk menghindari kerusakan sebelum sampai di pusat pengolahan.

Sebelum pengolahan, Dudi menyeterilisasi hasil panen dengan mencuci daun dalam bak berisi air. Pria 56 tahun itu menyarankan mencuci daun moringa dengan air yang telah diozonisasi untuk mencegah kontaminasi bakteri atau cendawan penyebab penyakit pada daun yang hendak diolah. Menurut peneliti dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen di Kota Bogor, Jawa Barat, Drs. Dondy Anggono Setyabudi, M.Si., ozon merupakan zat disinfektan yang kuat.

Baca juga:  Burung Mirip Bunga

Beberapa hasil penelitian memperlihatkan bahwa hanya dengan konsentrasi ozon kurang dari 0,5 mg per liter sudah mampu membunuh mikroorganisme. Konsentrasi ozon yang biasa digunakan untuk proses disinfeksi air adalah 0,4—0,5 mg per liter. Menurut Dondy konsentrasi ozon 0,02 mg per liter dapat bersifat racun bagi bakteri Escherichia coli dan Streptococcus faecalis. Ozon bereaksi dengan protoplasma sel bakteri dengan berperan sebagai oksidator.

Setelah penanganan pascapanen selesai, lalu masuk proses pengeringan. Dudi mengeringkan daun di dalam ruang pengeringan yang steril dengan suhu ruang maksimal hanya 35ºC dan kelembapan maksimal 46%.

“Jika suhu terlalu tinggi dikhawatirkan merusak kandungan nutrisi,” tutur ayah 3 anak itu. Ia menghindari pengeringan dengan cara penjemuran di bawah sinar matahari langsung. Sebab, suhu tidak terkontrol. Pengeringan di tempat terbuka juga dikhawatirkan kurang higienis karena terpapar debu. (Imam Wiguna)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *