Demam Jambu Madu di Luar Sentra 1
Kualitas jambu madu deli hijau di luar sentra sama bagusnya dengan produksi di daerah asal, Sumatera Utara.

Kualitas jambu madu deli hijau di luar sentra sama bagusnya dengan produksi di daerah asal, Sumatera Utara.

Dalam dua tahun bermunculan kebun jambu madu deli hijau di berbagai kota. Pasar di luar sentra tetap mampu menyerap produksi.

Hasrizal Hasan SE MM berprofesi ganda. Pada Senin—Jumat ia menjadi pengajar di Universitas Islam Riau. Namun, pada akhir pekan ia menjadi petani yang mengebunkan 200 pohon madu deli hijau. Dosen Manajemen di Fakultas Ekonomi itu menanam pohon anggota famili Myrtaceae dalam drum plastik berdiameter 50 cm. Pohon berbuah susul-menyusul. Hasrizal memanen 2—4 kg buah per pohon setiap bulan.

Dari rata-rata produksi 600 kg per bulan, 50% masuk kualitas A, 20% kualitas B, dan 30% kualitas C. Hasrizal menjual buah kualitas A Rp40.000, kualitas B Rp35.000, dan C Rp25.000 per kg. Persentase kualitas A—berbobot 125—165 gram per buah, mulus tanpa gerekan serangga, dengan bentuk lonceng yang nyaris seragam – relatif tinggi karena perawatan intensif.

Kebun jambu madu deli hijau kian menjamur di luar Sumatera Utara.

Kebun jambu madu deli hijau kian menjamur di luar Sumatera Utara.

Tren di luar sentra
Di Wirokerten, Yogyakarta, Jaya Saputra juga membudidayakan 103 pohon jambu air madu deli hijau yang berbaris rapi berjarak tanam 2,5 m x 3 m. Sosok tanaman berumur 1,3 tahun itu seragam dengan tinggi rata-rata 1,5 meter. Di bawah tajuk setiap pohon terdapat kran air dari pipa polivinil klorida (PVC). Itu memudahkan Jaya Saputra, pemilik kebun, menyiram tanaman.

Dari pohon-pohon itu Jaya memetik 3—4 kg buah per pohon pada panen perdana, Februari 2015. Selain Jaya Saputra, pekebun lain yang jatuh hati pada jambu madu deli hijau adalah Isto Suwarno. Ia menanam 1.000 pohon pada pertengahan 2014. Pada akhir Maret 2015 jambu-jambu itu mulai berbunga. Isto memperkirakan buah siap petik pada Juni 2015.

Jambu madu deli hijau digemari pekebun karena berproduksi tinggi, gampang berbuah, citarasa buah manis.

Jambu madu deli hijau digemari pekebun karena berproduksi tinggi, gampang berbuah, citarasa buah manis.

Jika produktivitas buah mencapai, 3 kg per tanaman, maka pada panen perdana nanti Isto Suwarno menuai 3.000 kg. Pekebun di Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah, itu berencana mengembangkan agrowisata. “Nanti pengunjung bisa menikmati langsung buahnya di kebun,” ujar Isto Suwarno.

Ia tertarik menanam jambu madu deli hijau karena gampang berbuah, produktivitas tinggi, serta rasa buah sangat manis, dan renyah. Dengan tinggi maksimal 2—2,5 m, pekebun jambu madu deli hijau mudah memangkas, membungkus, dan memetik.

Hasrizal (berdiri paling kiri) menghasilkan jambu madu deli hijau 4 kg per tanaman pada panen perdana.

Hasrizal (berdiri paling kiri) menghasilkan jambu madu deli hijau 4 kg per tanaman pada panen perdana.

Unggul
Hasrizal di Riau, Jaya Saputra di Yogyakarta, dan Isto Suwarno di Jawa Tengah hanya beberapa pekebun yang mengembangkan jambu madu deli hijau di luar sentra. Di berbagai daerah kini memang bermunculan kebun jambu madu deli hijau. Sekadar menyebut beberapa pekebun lain, Bayu Ari Sidi di Bantul dan Timotius Yongkie di Sleman, keduanya di Yogyakarta.

Baca juga:  Kaktus Spiral Langka

Mereka menanam Syzigium samarangense itu pada 2013. Bayu menanam 2.000 pohon beragam umur sebanyak 150 pohon kini berumur 2,5 tahun, 250 pohon (1,5 tahun), selebihnya kurang dari 1 tahun. Adapun Yongkie menanam 300 pohon yang kini berumur 2 tahun. Alasan para pekebun membudidayakan jambu madu deli hijau itu relatif sama, yakni keunggulan buah yang sohor dengan sebutan tiga ter, yakni termanis, termudah berbuah, dan terlebat buahnya.

Soal citarasa, tingkat kemanisan jambu madu deli hijau mencapai 12,40 briks. Sudah manis, renyah pula sehingga sesuai dengan selera konsumen. Termudah berbuah? Para pekebun membuktikan bibit asal setek berproduksi perdana sembilan bulan setelah tanam. Bandingkan dengan jambu air jenis lain yang berproduksi rata-rata 24—36 bulan setelah tanam.

Pekebun gunakan pupuk kandang untuk memacu jambu berbuah terus-menerus.

Pekebun gunakan pupuk kandang untuk memacu jambu berbuah terus-menerus.

Artinya jambu madu deli hijau terbilang genjah alias cepat berbuah. Kelebihan lain adalah terlebat, pekebun menuai hingga 4 kg pada panen perdana. Kombinasi kelebihan-kelebihan itu menyebabkan banyak pekebun di luar sentra tertarik membudidayakannya. Apalagi permintaan buah di sentra itu juga sangat tinggi. Yang dimaksud sentra adalah wilayah Sumatera Utara.

Permintaan tinggi
Jambu berkulit hijau itu pertama kali dikebunkan oleh seorang pengusaha di Stabat, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara. Dari sanalah bibit deli hijau—sebutannya di sana—berkembang ke Kabupaten Binjai, Deliserdang, Medan, dan kota-kota lain di Sumatera Utara. Popularitas jambu madu deli hijau kian menanjak setelah Sunardi, warga Payaroba, Kabupaten Binjai, mendaftarkannya ke pemerintah sebagai varietas unggul nasional.

Jaya Saputra sengaja memilih bibit besar agar pohon cepat berproduksi.

Jaya Saputra sengaja memilih bibit besar agar pohon cepat berproduksi.

Setelah pemerintah merilis sebagai varietas unggul pada 2012, permintaan bibit terus membubung. Sunardi dan kelompok tani Mulia Tani memasarkan hingga lebih dari 150.000 bibit yang dikirim ke berbagai daerah di Indonesia. Itu setara 190 ha jika populasi mencapai 800 tanaman per ha. Sementara nurseri Kebun Buah terpaksa menerapkan sistem inden bagi calon pembeli bibit madu deli hijau. Di buku catatan nurseri di Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten, itu calon pekebun di Denpasar meminta kiriman 500 bibit, Riau (1.000), dan Makassar (2.000).

Diasumsikan penangkar besar dalam dua tahun terakhir bisa menjual 5.000—7.000 bibit setara 6,25 ha—8 ha. Artinya setahun pascatanam atau kira-kira pada Juni 2015 bakal bermunculan buah jambu madu deli hijau di pasaran sentra-sentra baru seperti Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Jika produksi rata-rata 3 kg per tanaman, maka saat panen diperoleh 15.000 kg buah per musim.

Ahli manajemen pemasaran dari Institut Pertanian Bogor, Dr Ir Arief Daryanto, menyatakan bahwa pasar mampu menyerap dan bertahan lama selama kualitas, kuantitas, dan ketersediaan dapat dipertahankan. Demikian pula bila ada unsur unik serta diferensiasi produknya. Oleh karena itu standar produksi harus dibuat sehingga parameter kualitas tidak menurun.

Baca juga:  Bayu Ari Sidi: Laba Manis Jambu Madu

Apalagi daya tahan buah (jambu air) relatif pendek. Masyarakat yang membeli buah tidak akan merasa harga mahal bila yang diperolehnya sesuai dengan harapan atau manfaatnya. Untuk itu, ia menyarankan untuk dilakukan semacam survei pasar untuk mengukur tingkat kepuasan masyarakat terhadap buah itu. Untuk produk baru, harus dibarengi dengan promosi sehingga dikenal secara luas oleh masyarakat.

Isto Suwarno membuat agrowisata memetik buah jambu madu deli hijau di Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah.

Isto Suwarno membuat agrowisata memetik buah jambu madu deli hijau di Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah.

Pekebun di Sepakatkulim, Pekanbaru, Provinsi Riau, Muhammad Rafi, semula rutin menuai 5—10 kg per hari dari 200 pohon yang kini berumur 2 tahun. Dalam setahun terakhir ia tak menghadapi masalah pemasaran buah. Bahkan ketika ia meningkatkan populasi menjadi 700 tanaman. Volume penjualan yang kini telah meningkat 40—50kg per hari, bahkan mencapai 70 kg tidak menemui kendala pemasaran, bahkan cenderung kekurangan.

Sebanyak 500 pohon merupakan milik 3 mitra binaannya. Semua produksi itu terserap pasar. Pria 33 tahun itu menjual jambu madu deli hijau Rp40.000—Rp50.000 per kg. Malahan Rafi tidak perlu repot mengantarkan buah ke pasar swalayan karena konsumenlah yang datang ke kebun. Mereka datang memetik atau mengambil sendiri buah jambu yang kini dikenal dengan jambu madu rafi.

Selain itu ada beberapa pesanan bibit secara daring atau online dari berbagai daerah di Indonesia. Menurut Bayu, sebagai daerah baru, peluang usaha madu deli hjau tetap lebih besar dibandingkan wilayah Sumatera Utara. Sebagai gambaran, di sana populasi deli hijau sudah lebih dari ratusan ribu batang. Namun, sampai sekarang serapan pasar untuk buahnya masih cukup tinggi.

“Di sana buah sering kosong, karena permintaannya lebih tinggi dibandingkan produksi. Apalagi di Jawa. Potensi pasarnya lebih tinggi karena yang menanam masih skala kecil. Masih sangat jauh dibandingkan di Sumatera,” ujarnya.

Muhammad Rafi, permintaan jambunya naik 4 kali lipat dalam setahun.

Muhammad Rafi, permintaan jambunya naik 4 kali lipat dalam setahun.

Prospek
Bayu melakukan panen pertama saat tanamannya berumur 1,5 tahun. Setiap pohon menghasilkan 3 kg. “Karena volume produksi masih rendah sehingga buah tidak dijual keluar, tetapi hanya untuk pengunjung yang datang. Kami belum sempat melayani permintaan pedagang,” ujar pria kelahiran 1981 itu. Meski demikian kualitas buah tetap dijaga, di antaranya dengan mempertahankan ukuran standar yaitu, 6—8 buah per kg.

Pengunjung yang datang ke kebun, boleh membeli buah dengan harga Rp30.000 per kg. Pada awalnya mereka menganggap harga Rp30.000 per kg terlalu mahal. Namun, setelah diberi tester, mereka malah minta 1—3 kg. Namun, jumlah pembelian mereka dibatasi, hanya 2 kg per orang agar semua pengunjung kebagian mencicipi buah. Selain membeli buah, pengunjung pun biasanya membeli 1—2 bibit. Bila ingin tanaman cepat berbuah, mereka pun membeli bibit ukuran 1—1,5 m.

Setelah panen pertama, panen berikutnya biasanya 4—5 bulan kemudian. Produksi baru stabil setelah pohon berumur di atas 2 tahun. Volume produksi pada tahun pertama berbuah yaitu 6—7 kg per pohon per tahun. Panen tahun kedua sampai tahun ketiga 10—15 kg per pohon setahun. Menurut Bayu, seandainya ada buah, permintaan pengepul buah sebulan adalah sebesar 300 kg. Itu membuktikan pasar merespons positif perkembangan jambu madu deli hijau di luar sentra. (Syah Angkasa/Peliput: Bondan Setyawaan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *