Dekopon dari Nipon ke Ciwidey 1
Pohon jeruk dekopon belajar berbuah pada umur 1,5 tahun.

Pohon jeruk dekopon belajar berbuah pada umur 1,5 tahun.

Menikmati jeruk dari Jepang yang manis menyegarkan.

Dompolan buah berwarna kuning kejinggaan itu menggelayuti pohon setinggi 2 m. Tiang-tiang bambu menopang keempat sisinya karena tajuk sarat buah. Itu bukan hanya satu atau dua pohon, tapi ratusan pohon yang berbaris rapi dengan jarak 5 m x 5 m. Penampilan jeruk di Desa Lebakmuncang, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, itu berbeda dari buah sejenis.

Pangkal buah Citrus sinensis menggembung menyerupai pir. Pengelola kebun, Ir Irwan Margono, memetik buah matang, membelahnya hingga tampak daging buah yang jingga seronok. Rasanya manis sedikit masam menyegarkan. Yang paling istimewa tidak ada biji satu pun di dalam daging. Itulah jeruk dekopon.

Konsumen menyukai dekopon karena bercitarasa manis dan tanpa biji.

Konsumen menyukai dekopon karena bercitarasa manis dan tanpa biji.

Jeruk mahal
Menurut periset jeruk di Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro), Ir Arry Supriyanto MS, jeruk dekopon termasuk baru di Indonesia. “Saya belum pernah mencicipi jeruk itu,” kata alumnus Institut Pertanian Bogor itu. Arry menduga dekopon hibrida dari ponkan Citrus reticulata dan jeruk manis Citrus sinensis. Ciri ponkan terlihat pada buah, sementara daun dekopon mirip daun jeruk manis.

Praktikus pertanian di Sukabumi, Jawa Barat, Syamsul Asinar Radjam, menyatakan dekopon hasil silangan antara kiyomi dan ponkan. Nama dekopon berasal dari gabungan kata deko—berarti cembung—dan pon dari kata ponkan, salah satu induknya. Dekopon satu-satunya jeruk yang dipanen saat musim semi. Unshui—jeruk dalam bahasa Jepang—itu berbuah pada Februari saat musim jeruk di Negeri Sakura usai.

Wajar saja jika harga dekopon paling mahal di antara buah sejenis. Saat Trubus berkunjung ke kebun di Lebakmuncang berketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut sebanyak 100 tanaman tengah berbuah lebat, 100 lainnya belum berbuah karena masih kecil. “Kami akan panen dekopon pada awal Mei 2015,” ucap Irwan. Itu adalah panen kali ketiga di lahan seluas 7.000 m2.

Rahmat mendapat bibit dekopon dari kenalan orang Jepang.

Rahmat mendapat bibit dekopon dari kenalan orang Jepang.

Sebuah toko swalayan di Jakarta berniat membeli hasil panen dekopon kelas tiga berdiameter 8,8—9,5 cm Irwan seharga Rp55.000 per kg. Sementara harga jeruk kelas satu berdiameter 10,2—10,7 cm mencapai Rp75.000; kelas dua berdiameter 9,5—10,2 cm, Rp65.000.

Baca juga:  Irwan Margono: Dekopon Bekal Pensiun

Itu harga beli jeruk paling mahal di tanahair. Bandingkan dengan harga jeruk soe paling berkualitas, di tingkat pekebun Rp25.000 per kg. Sementara harga jeruk medan Rp12.000 per kg. Menurut Irwan harga dekopon lebih mahal karena konsumennya masyarakat Jepang di Indonesia.

Dataran tinggi
Irwan membudidayakan dekopon sejak 2013 di lahan milik seorang kawan. Semula lahan itu menganggur, lalu ditanami sayuran dan stroberi. Ia memilih dekopon karena harga jual tinggi dan cocok di dataran tinggi. Pada awalnya masyarakat setempat ragu Irwan berhasil membudidayakan jeruk di tempat itu.

Musababnya mayoritas lahan berbatu. Selain itu pernah ada yang menanam jeruk di wilayah itu tapi gagal. Irwan bergeming dan ternyata berhasil. Kuncinya pada pemupukan. Ia menggunakan pupuk racikan sendiri. “Pupuk harus mengandung nutrisi berimbang. Unsur makro dan mikro pun mesti komplet,” kata pria kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah, itu.

Populasi saat ini 200 tanaman terdiri atas berbagai umur. Rencananya Irwan menanam 400 dekopon di lahan itu. Bibit dekopon berasal dari Rahmat, penangkar jeruk di Lembang, Jawa Barat. Saat itu Irwan menggunakan bibit setinggi 1 m seharga Rp75.000 per batang. Rahmat mendapatkan bibit dari kenalan orang Jepang. Sebab ia punya kenalan di The Organization for Industrial, Spiritual, and Cultural Advancement (OISCA) Jepang. Sang kenalan membawa lima bibit dekopon setinggi 50 cm pada 2005.

Rahmat lalu menyambung bibit itu dengan batang bawah jeruk lokal. Setahun berselang 5 bibit itu bertambah banyak menjadi 1.000 batang. “Saya memperbanyak bibit dengan okulasi,” kata pria berumur 52 tahun itu. Kini ia menjual bibit setinggi 50 cm seharga Rp50.000. Hingga April 2015 ia melepas 5.000 bibit dekopon ke pekebun di Bandung, Purbalingga, dan Bali.

Baca juga:  Kini Turun Gunung

Rahmat menuturkan jeruk dekopon cocok dikembangkan di daerah dengan ketinggian tempat lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut (m dpl). Sebab pada ketinggian itu suhu pada siang rata-rata 23—27ºC dan suhu pada malam berkisar 13—17ºC. Menurut Arry jika jeruk itu ditanam di bawah 1.000 m dpl warna jingga tidak muncul, warna daging buah juga kurang cerah, dan berkulit tipis.

Ir Irwan Margono membudidayakan dekopon sejak 2013.

Ir Irwan Margono membudidayakan dekopon sejak 2013.

Menyebar
Itulah yang dialami Rahmat saat menanam dekopon di daerah Subang, Jawa Barat, berketinggian medium 600 m dpl. Hasilnya warna jeruk hijau, bukan jingga. “Citarasanya legit dan manis. Mungkin cocok untuk pasar lokal,” kata ayah dua anak itu. Arry mengatakan konsumen Indonesia menghendaki jeruk bercitarasa dominan manis, tanpa biji, dan berukuran seperti bola tenis.

Rahmat mengatakan dekopon mulai berbuah saat berumur 1,5 tahun. “Sebaiknya buahkan tanaman saat berumur 4 tahun karena memang sudah siap berbuah,” kata mantan konsultan perkebunan nanas itu. Berdasarkan pengalaman Rahmat tanaman berumur 3,5 tahun menghasilkan 200 jeruk dengan bobot rata-rata 600 g. Buah berwarna kuning kejinggaan berbobot 560 g siap panen setelah 12 bulan pascaberbunga. Dekopon berproduksi hingga berumur 20 tahun. Penelusuran Trubus menunjukkan sejak 2007 Anwar Pulukadang mengebunkan dekopon di Kecamatan Sukanagara, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Saat itu ia mengebunkan 500 dekopon dan jeruk jenis lain di lahan 22 ha. Kini dekopon bukan hanya ditanam di Jepang. Selain Indonesia, Brasil dan Australia juga mengembangkan dekopon. Rahmat mengatakan populasi dekopon di kedua negara itu masing-masing sekitar 20-juta dan 10-juta tanaman. Sementara di Indonesia populasi dekopon di Indonesia kurang lebih 40.000 tanaman. “Oleh karena itu Jepang belum menganggap Indonesia sebagai produsen dekopon,” kata Rahmat. (Riefza Vebriansyah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *