Deddy Ganda: Berlabuh di Kumbung

Deddy Ganda: Berlabuh di Kumbung 1
Deddy Ganda membeli bibit jamur untuk mengurangi risiko gagal

Deddy Ganda membeli bibit jamur untuk mengurangi risiko gagal

Alasan Deddy Ganda membudidayakan jamur tiram mudah memasarkan dan margin besar.

Tiga orang itu senantiasa datang ke sebuah saung di Desa Cipayungdatar, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, setiap hari. Dua orang datang pada pagi hari sementara satu lagi siang, sekitar pukul 12.00. Mereka datang antara lain untuk menyerahkan uang kepada Deddy Ganda yang menjual jamur tiram. Setiap hari Deddy memanen rata-rata 300 kg jamur tiram. Seorang pengepul membawa 50—150 kg jamur Pleurotus ostreatus yang dikemas dalam plastik transparan berbobot masing-masing 5 kg.

Itu hasil panen dari 100.000 baglog jamur tiram. Deddy membudidayakannya di 2 kumbung berukuran masing-masing 11 m x 30 m. Ia mengatur produksinya sehingga mampu panen jamur setiap hari. Ayah dua anak itu menuturkan harga jamur tiram fluktuatif. “Paling rendah Rp3.000 per kilogram dan paling tinggi Rp9.800 per kilogram. Kalau dirata-rata harganya Rp7.800 per kilogram,” kata Deddy. Dengan demikian pemilik Farm Giga itu meraih omzet rata-rata Rp2.340.000 per hari atau     Rp70,2-juta per bulan.

Pemberian perangsang meningkatkan produksi dari semula 0,8—0,9 kg menjadi 1—1,1 kg per baglog

Pemberian perangsang meningkatkan produksi dari semula 0,8—0,9 kg menjadi 1—1,1 kg per baglog

Hormon

Deddy memperoleh omzet itu tanpa harus membawa jamur ke pasar. Para pengepul itu berebut jamur hasil panen di kumbung Dedi karena jamur berkualitas tinggi. Jamur tampak kekar, tidak lembek, kering, dan warnanya putih bersih. Deddy mengatakan jamur dikemas dalam kantung plastik itu mampu bertahan 2—3 hari pada suhu kamar. Jamur bermutu tinggi karena dalam proses budidaya Deddy menambahkan hormon atau zat perangsang tumbuh yang mengandung mikroorganisme. Konsentrasi penyemprotan 100 cc per 15 l air.

“Untuk satu kumbung berisi 50.000 baglog biasanya menghabiskan 7 saset perangsang,” kata Syamsudin, penanggungjawab kumbung di Farm Giga. Harga satu saset hormon berisi 100 cc hanya Rp3.000. Dengan demikian penambahan biaya hanya Rp8,4 per baglog. Pemberian perangsang dengan teknik pengabutan itu dilakukan setiap 3 hari. “Pemberian hormon setelah panen pertama,” ujar Deddy.

Baca juga:  Seri Walet (242): Sentra Walet Pasangkayu

Maklum, biasanya seiring waktu hasil produksi pun kian menurun. Oleh karena itu ia menambahkan hormon perangsang agar hasil produksi tetap baik. Terbukti, dengan perangsang hasil panen ke-4 masih bisa diperoleh 100—200 gram jamur per baglog. Artinya, produksi per baglog pun meningkat. Deddy memanen rata-rata 1 kg jamur tiram dari baglog berbobot 1,5 kg. Artinya, nilai BER (Biological Efficiency Ratio) mencapai 66,7%.

Padahal nilai BER rata-rata petani jamur tiram 40%. Deddy menuturkan pemberian perangsang meningkatkan produksi dari semula 0,8—0,9 kg menjadi 1—1,1 kg per baglog. Dengan begitu keuntungan Deddy pun meningkat. Deddy memilih strain jamur yang dapat tumbuh optimal di kebunnya yang berketinggian 400 m dpl. “Saya pakai strain pari,” kata alumnus Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor itu.

Produksi 1.200 baglog per hari

Produksi 1.200 baglog per hari

Rugi ratusan juta

Deddy berniat menambah kumbung produksi karena budidaya jamur tiram menguntungkan. Apalagi dengan pemanfaatan hormon perangsang, produksi kian membubung sehingga laba pun melonjak. Maklum, pasar masih terbuka lebar. Menurut Deddy, masih banyak pengepul yang minta pasokan jamur. Sayangnya produksi masih terbatas. Pehobi sepeda itu pun menjatah para pembelinya. “Salah satu pengepul hanya saya beri 50 kg, padahal dia minta 200 kg,” ujarnya. Sejatinya total permintaan tiga pengepul mencapai 500 kg per hari.

Namun, Deddy tak begitu saja meraih sukses di kumbung jamur. Semula ia menjalin kerja sama dengan teman-temannya yang mengumpulkan dana untuk membantu petani sayuran. “Waktu di Tasikmalaya saya lihat petani jamur itu rugi,” katanya. Akhirnya pada 2011 Deddy dan rekan berinvestasi bersama untuk membudidayakan jamur tiram. Sayang, ketika itu usaha tak berjalan mulus. Dua komando dalam operasional jamur membuat bisnis tak berkembang.

Baca juga:  Berpadu Makin Manjur

Bahkan, “Selama setahun itu duit saja yang keluar terus tapi tidak ada hasilnya,” ujar Deddy. Ia pun rugi hingga ratusan juta rupiah. Kondisi itu membuat Deddy mengundurkan diri dari kerja sama itu. Namun, bukan berarti ia kapok membudidayakan jamur tiram. Setelah berdiskusi dengan istri, Deddy akhirnya membuka usaha jamur sendiri. Dengan begitu, “Kalau rugi tidak menyalahkan orang lain dan kalau untung buat sendiri,” kata pekebun berusia   54 tahun itu.

Deddy lantas menjual sebidang tanah di Dramaga, Kabupaten Bogor, untuk modal usaha jamur tiram yang dirintisnya pada 2012. Dalam setahun Deddy mendirikan rumah karyawan untuk menginap, dapur, ruang inokulasi, inkubasi, rumah produksi 1, dan produksi 2. “Rumah produksi 2 berdiri akhir tahun pertama,” ujarnya. Sejak terjun dalam bisnis jamur tiram, Deddy selalu membeli bibit untuk diinokulasi sendiri. “Itu karena penyedia baglog berisi bibit jamur di daerah Cipayung rata-rata menjual baglog dengan kondisi maksimum miselium tumbuh 50% sehingga risiko gagal tinggi,” katanya.

Kalau perlakuan seperti suhu dan kelembapan di tempat penjual baglog dan petani pembesar berbeda, bisa jadi jamur tidak tumbuh. “Itu hal yang tidak disadari petani sehingga banyak yang rugi,” ujar pria berkacamata itu. Sebelum terjun ke jamur tiram berbagai usaha pernah Deddy jalani. Mulai dari konsultan, trading kopi, hingga bisnis daging sapi. Menurut Deddy bisnis daging sapi itu memerlukan modal kuat. “Sapi harga tinggi tapi keuntungan tipis. Jadi kalau mau main harus dalam jumlah besar, modal besar sehingga untung besar,” ujarnya. Beda dengan jamur tiram. “Meski harga jual tidak tinggi, tapi marjinnya besar, bisa 50%,” kata ayah 2 anak itu. (Rosy Nur Apriyanti)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x