Debut Perdana Eragon 1
Eragon menyabet gelar grand champion di penampilan perdananya

Eragon menyabet gelar grand champion di penampilan perdananya

Pertama kali mengikuti kontes, Eragon menyabet gelar grand champion.

Nama Eragon belum pernah terdengar sebelumnya di kontes lou han. Harap mafhum, ketika itu sang empunya, Reyfan Cliff, belum percaya diri untuk menurunkannya di kontes. “Masih perlu dilatih dan menguatkan karakternya,” ujar Reyfan Cliff. Ia mengikutkan Eragon pada kontes yang berlangsung 27—31 Agustus 2014 atas dorongan rekan setimnya di SSL. Namun, siapa sangka penampilan perdananya di Indonesia Lou Han Competition Liga 4 itu menjadi awal prestasinya. Keelokkan Eragon mampu memikat juri sehingga merebut gelar grand champion (GC).

Cointreu meraih young champion untuk ketiga kalinya

Cointreu meraih young champion untuk ketiga kalinya

“Penampilan Eragon di atas rata-rata peserta kelas A,” ujar Miat Talim, juri asal Jakarta. Penampilan impresif serta stamina yang stabil membuat Eragon mampu mengalahkan 41 pesaingnya. Warna tubuh merah terang bertabur mutiara di sekujur tubuh membuat cinhua berumur setahun itu tampak semakin bersinar ketika juri menyematkan bintang di akuariumnya.

Bertahan
Reyfan tidak merawat Eragon secara khusus menjelang kontes. “Pakannya hanya pelet dan udang,” kata ayah 1 anak itu. Ia memberikan 5—10 butir pelet yang mengandung spirulina 3 kali sehari. Tujuannya untuk memoles warna tubuh agar lebih mencolok. Pehobi di Jakarta Barat itu memberikan 10 udang setiap 3 kali seminggu. “Udang membuat bentuk tubuh Eragon padat berisi,” ujar Reyfan Cliff. Latihan rutin pun hanya dilakukan sekali sehari masing-masing selama 5 menit dengan parrot sebagai lawannya.

Ia tidak menyangka klangenannya itu mampu meraih gelar champion. “Saya pikir hanya masuk 5 besar saja,” ujar Reyfan. Itu sebabnya Reyfan menawarkan ke rekannya di RVC Flower Horn yang membeli Eragon sepekan sebelum kontes. Meskipun dijual, Reyfan masih merasa bangga dan senang. Sebab, sejak pendaftaran hingga kontes berakhir Eragon masih di bawah perawatannya. “Artinya saya tidak mengecewakan pembeli,” katanya.

Cinhua C milik Thompson Ong meraih baby champion

Cinhua C milik Thompson Ong meraih baby champion

Di partai bergengsi lain, young champion (YC), Cointreu menjadi juara bertahan. Itu kali ketiga Cointreu meraih gelar. “Bentuk kepala dan tubuhnya semakin sempurna,” kata Hady Sanjaya, juri dari Bandung, Jawa Barat. Menurut juri kontes, ada peningkatan kualitas dan jumlah peserta yang signifikan di kelas B. Namun, lou han asal penangkar Thailand itu tetap tidak tertandingi.

Baca juga:  Dongkrak Panen Tiram

“Makin tua makin jadi itulah Cointreu,” ujar Hatta Gunawan, sang empunya. Kalimat itu langsung terlontar saat Hatta ditanya rahasia jitu Cointreu. Pakan yang diberikan hanya udang dan cacing beku. Menjelang kontes Hatta memberikan 3 jangkrik dan pelet mengandung spirulina serta karetonoid untuk memacu warna. “Latihannya 5—10 menit sehari,” kata pehobi di Jakarta Barat yang tergabung dalam Tim Stars itu.

Para pehobi memanfaatkan kontes sebagai ajang silaturahmi

Para pehobi memanfaatkan kontes sebagai ajang silaturahmi

Ternak
Prestasi luar biasa yang diraih Cointreu membuat Hatta berkeinginan untuk menernakannya. “Jika berhasil, Cointreu akan berhenti sementara untuk kontes,” kata Hatta yang berkeinginan mencetak anakan lou han yang mewarisi gen unggul Cointreu itu. Hal itu menjadi harapan baru kemajuan lou han Indonesia di tengah penurunan kualitas anakan lou han yang saat ini sedang terjadi. Miat Talim memperkirakan penurunan kualitas itu karena para peternak gagal menangkarkan.

Penurunan kualitas anakan itu ternyata berdampak pada jumlah peserta kontes di kelas C. “Peserta di kelas C menurun 10% daripada biasanya,” ujar Ridwan Saleh, anggota panitia kontes. Sedikitnya peserta di kelas C membuat cinhua milik Thampson Ong melenggang meraih gelar baby champion meskipun sempat tertinggal 601 poin dari kampiun cencu C pada penilaian 10 besar. Namun, di penilaian akhir lou han yang menempati akurium bernomor 147 itu mampu mengungguli pesaingnya.

Di luar cinhua dan cencu, persaingan di kelas free marking terbilang ketat. “Kualitas free marking kali ini lebih baik daripada kontes sebelumnya,” ujar Miat. Di kategori bonsai, lou han milik Gun Solo masih menjadi kampiun. Lomba adu cantik-cantikkan lou han yang digelar di WTC Manggadua, Jakarta Utara, itu diikuti 230 lou han. Uniknya, pehobi perseorangan yang biasanya lebih dari 20 orang kini menurun menjadi 13 orang. Kebanyakan pehobi baru memilih langsung bergabung dalam tim. Tim Stars menjadi juara pada kontes itu. (Rizky Fadhilah)

Baca juga:  Pakan Kering Terbaik

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *