Daya Saing Buah Lokal 1
Peningkatan kualitas dan promosi produk buah yang khas dapat mempertinggi peluang memenangkan persaingan di tingkat global.

Peningkatan kualitas dan promosi produk buah yang khas dapat mempertinggi peluang memenangkan persaingan di tingkat global.

Letak geografis dan kekayaan sumber daya alam tropis menjadikan wilayah Indonesia berpotensi besar untuk menghasilkan berbagai produk khas tropika. Salah satu jenis produk agro yang sangat penting dan strategis perannya adalah buah-buahan tropis. Komoditas buah tropika utama yang dikembangkan sejak lama oleh sebagian besar masyarakat tani antara lain manggis, mangga, pisang, durian, salak, pepaya, nanas, jambu, jeruk, melon, semangka, avokad, rambutan, belimbing, dan duku.

Data Sensus Pertanian pada 2014 menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kapasitas yang sangat besar untuk memproduksi berbagai buah-buahan tropika. Dari berbagai jenis buah tropika yang dapat dihasilkan dari berbagai wilayah Indonesia, terdapat setidaknya lima jenis buah tropika utama yaitu pisang dengan total produksi 6,27-juta ton, mangga (2,19-juta ton), jeruk (1,65-juta ton), durian (0,75-juta ton), dan manggis (0,14-juta ton).

Permintaan tinggi
Buah tropika Indonesia memegang peran penting karena memiliki dua fungsi utama yaitu memenuhi kebutuhan konsumsi nasional (domestik) dan memenuhi kebutuhan pasar internasional. Besarnya jumlah penduduk Indonesia mencapai lebih dari 250-juta jiwa merupakan pangsa pasar yang sangat potensial bagi pengembangan produk buah tropika. Berdasarkan data FAO pada 2013, standar kecukupan konsumsi buah sekitar 73 kg per kapita per tahun. Namun rerata konsumsi buah masyarakat Indonesia masih rendah, kurang dari 50 persen standar yaitu hanya sebesar 34,55 kg per kapita per tahun.

Selain memenuhi permintaan domestik, permintaan buah tropika untuk kebutuhan ekspor ke negara-negara konsumen juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Data Pusdatin Kementerian Pertanian pada 2013—2014 mencatat ekspor buah yang paling besar adalah nanas. Nilai ekspor nanas pada 2013 mencapai US$157,4-juta setara Rp2,125-triliun dan pada 2014 meningkat menjadi US$193,3-juta. Nilai ekspor manggis pada 2013 sebesar
US$5,7-juta dan meningkat menjadi US$6,5-juta pada 2014. Ekspor jeruk 2013 senilai US$1,1-juta dan pada 2014 sedikit menurun menjadi US$1,0-juta. Pada 2014 juga tercatat ekspor mangga dengan nilai yang cukup besar yaitu US$1,8-juta.

Nanas salah satu komoditas utama yang diekspor dengan volume dan total nilai yang cukup besar. Total ekspor nanas pada 2014 mencapai volume 192.315-ton dengan nilai US$193-juta. Negara tujuan utama ekspor nanas yaitu Amerika Serikat, Belanda, Spanyol, Argentina, dan Saudi Arabia. Ekspor manggis utamanya dengan tujuan Malaysia, Hongkong, dan Vietnam. Buah salak utamanya diekspor ke Tiongkok, Malaysia, dan Singapura. Adapun negara tujuan ekspor mangga adalah Singapura, Uni Emirat Arab, dan Malaysia. Secara umum, ditinjau dari negara mitra perdagangan komoditas internasional, Tiongkok merupakan negara pengimpor produk hortikultura Indonesia yang terbesar dengan total volume 28.477 ton senilai US$23-juta. Impor produk utama hortikultura itu antara lain pisang (17.650 ton), nanas (3,545 ton), dan salak (681 ton).

Baca juga:  Kopi Tepal: Kelezatan dari Puncak Ngeres

Untuk dapat memenangkan persaingan pasar internasional, buah tropika Nusantara harus bersaing dengan produksi buah negara-negara lain yang memiliki potensi sejenis baik di Asia, Afrika, maupun Amerika Latin. Selama ini mulai diterapkan beberapa inovasi pascapanen yang mendukung kelancaran ekspor buah Indonesia antara lain teknologi alami yang dikembangkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian seperti teknologi perendaman pada air panas (hot water treatment), teknologi antimikrobia alami (AMA), dan teknologi pelapisan lilin (waxing).

Meningkatkan kualitas
Pengembangan dan daya saing buah tropika nasional menghadapi berbagai kendala sehingga capaian kinerjanya belum optimal. Beberapa kendala utama dalam peningkatan daya saing buah tropika antara lain: (1) pengusahaan produksi buah kurang intensif dan skala kecil serta masih sebagai usaha sampingan, (2) rerata produktivitas buah masih rendah, (3) kualitas bibit buah sangat berviariasi, (4) produk sangat bervariasi dan tidak standar baik dari variasi ukuran, penampilan, dan rasa, (5) keterbatasan akses petani pada permodalan usaha, (6) masa panen produk buah sifatnya musiman, (7) penanganan panen dan pascapanen yang belum memadai (pengolahan produk masih terbatas dan belum bervariasi), (8) keterbatasan akses jaringan pemasaran, dan (9) preferensi konsumen lokal terhadap buah lokal belum menggembirakan.

Mendasarkan pada berbagai kendala dan kelemahan pada produksi buah tropika lokal, diperlukan berbagai langkah taktis dan strategis sebagai solusi yang antara lain. Langkah itu antara lain introduksi inovasi teknologi produksi misalnya penyediaan bibit unggul, pola pemeliharaan intensif serta rekayasa teknologi untuk menjamin kontinuitas panen sehingga problem musiman bisa diatasi, dan pengembangan klaster buah yang khas. Pengembangan kelembagaan produsen per petani buah dalam bentuk kelompok tani, gabungan kelompok tani, koperasi, dan asosiasi petani buah, selain itu langkah lain juga diperlukan penguatan jaringan pasar lokal, nasional, internasional, diversifikasi produk buah, (tidak hanya menjual produk segar tapi juga berbagai produk olahan yang akan menjadi solusi ketika musim panen raya saat buah berlimpah dengan harga sangat murah, integrasi pengembangan buah dalam pola agrowisata dan integrasi dalam pola pertanian terpadu kombinasi dengan tanaman pangan, kehutanan, dan peternakan. Langkah lain perintisan kemitraan petani dengan korporasi misalnya kebun buah BUMN dan perkebunan buah swasta nasional yang dapat menjamin inovasi teknologi produksi dan akses pasar, promosi serta sosialisasi branding buah lokal unggul pada konsumen dalam negeri, dan penyiapan regulasi oleh otoritas untuk memberikan perlindungan dan keberpihakan pada buah-buah tropika Nusantara.

Subejo, SP, MSc, PhD

Subejo, SP, MSc, PhD

Pada konteks pengembangan buah tropika, untuk dapat memenangkan persaingan regional dan global maka spesialisasi produk yang khas memegang peran penting. Jika suatu negara mampu memproduksi komoditas buah yang spesial maka peluangnya untuk memenangkan persaingan besar. Spesialisasi dapat terbentuk karena keunikan produk dan kualitasnya. Selain spesialisasi, efisiensi dan produktivitas tinggi menjadi kunci memenangkan persaingan. Tidak ada pilihan lain bagi Indonesia selain secara serius mendukung penuh produsen buah tropika dengan berbagai program yang mengarah pada efisiensi dan produktivitas tinggi. Efisiensi dan produktivitas buah tropika berkaitan erat dengan akses petani terhadap sumber daya produksi yaitu lahan, bibit, pupuk, dan air. Peningkatan akses mendesak untuk diperkuat dengan sistim pendanaan yang cukup dan birokrasi sederhana.

Baca juga:  Berjaya Bersama Boer

Hal yang tidak kalah penting dalam pengembangan buah tropika nusantara adalah akses informasi dan teknologi baru untuk mendukung produksi buah tropika. Pengaktifan kelompok dan asosiasi petani buah serta penyuluhan pertanian lapangan sebagai pendamping sangat diperlukan. Keterpaduan penelitian, pengembangan teknologi dan penyuluhan pertanian menjadi kebutuhan mendasar dalam program pengembangan buah tropika Nusantara.(Subejo, SP, MSc, PhD*)

*)  Subejo, SP, MSc, PhD, dosen Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian serta Sekretaris Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian  Universitas Gadjah Mada.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *