Eka Budianta*

Eka Budianta*

Tidak ada kebun kopi, cokelat apa lagi teh di Singapura.  Namun, warga negeri itu dan siapa pun yang berada di sana bisa minum kopi, teh, cokelat, maupun susu dan madu sepuas-puasnya.  Begitu juga penikmat nasi dan kentang.  Semua tersedia dari yang paling murah sampai yang paling bergengsi. Termasuk ikan terbaik, daging sapi, domba, bebek, babi, kodok, dan lobster kelas satu!

Apakah itu tandanya berkedaulatan pangan?  Padahal, Singapura tak punya peternakan, persawahan, ladang jagung, apa lagi kentang! Jadi apa yang terjadi? Betul. Singapura berdaulat pangan tapi tidak swasembada. Begitu jawabnya.

Swasembada pangan? Ketahanan pangan, daulat pangan, surplus pangan, atau jenuh pangan? Kita sudah belajar tentang krisis pangan, teknologi pangan, bisnis pangan dan politik pangan.  Yang penting bagaimana kita mengelola pangan di kampung halaman. Boleh di Probolinggo, Jawa Timur, Purbalingga di Jawa Tengah, maupun Purbolinggo di Lampung Timur.  Semua perlu bijak pangan.

Awal 2018 ini saya ditugaskan di Lampung Timur.  Seperti di desa-desa sebelumnya, fokusnya pada komoditas.  Majalah Trubus membiasakan bicara topik demi topik berbasis produk. Pantaslah kalau kita disuapi informasi tentang jeruk, ayam, buah naga, pisang, jagung, singkong, tiram, dan bermacam jenis padi.  Di Purbolinggo sudah siap 30 orang petani padi.

Padi sakral
Tiga puluh orang itu tentu sudah tahu ada tujuh pilar daulat pangan.  Secara turun temurun kita dilatih memanfaatkan kearifan tradisional.  Itulah awal dari tujuh pilar daulat pangan yang diakui oleh FAO–organisasi pangan dan pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).  Pilar pertama adalah pangan untuk manusia. Ini sejalan dengan prinsip kedaulatan pangan, bahwa setiap bangsa berhak mendefinisikan pangan sendiri, mulai dari pengadaan sampai pengolahannya.

Pangan pokok saja bagi bangsa Indonesia jelas sangat beragam.  Mulai dari beras, sorgum, jagung, ikan, sampai sagu. Prinsip pengadaan dan pengolahannya pun sangat bersifat khas, kekeluargaan.  Makanya kita punya soto betawi, soto lamongan, soto padang, madura, makassar, sokareja, dan ratusan kampung lainnya.  Sebelum jadi soto pun kita perlu menghormati padi.  Lebih dari sekadar komoditas, tapi sakral.

Baca juga:  Nutrisi Tanaman Hias

Itulah pilar kedua kedaulatan pangan. Lebih dari konsumsi, lebih dari komoditas, tapi sakral.  Kita memandang dengan hormat semua makanan pokok setiap bangsa.  Masyarakat internasional menerima dan menghargai nilai-nilai pada setiap makanan pokok.  Sedangkan kita, dengan takzim perlu membela 1001 jenis beras: rojolele, cianjur kepala, solok, delanggu, selain beras merah, beras hitam, beras cokelat, gogorancah, padi laut, dan seterusnya.

Padi bukan hanya top kualitas gabah dan padinya, tapi juga hasil sampingan dan turunannya. Arsitektur sawah pun merupakan produk yang memberikan berkah penghasilan.  Dunia mengakui sistem subak dan sawah bertingkat sebagai  pusaka kemanusiaan.

Padi bukan hanya top kualitas gabah dan padinya, tapi juga hasil sampingan dan turunannya. Arsitektur sawah pun merupakan produk yang memberikan berkah penghasilan.  Dunia mengakui sistem subak dan sawah bertingkat sebagai pusaka kemanusiaan.

Pilar ketiga adalah terampil dan berilmu. Kalau setiap pangan diperlakukan suci dan historis, masing-masing membawa ilmu pengetahuan dan teknologi.  Bukan hanya aspek ekonomi dan agrikultura, tapi juga budaya.  Makanya ada etnologi padi yang mencakup ritual, peralatan tradisional, festival, bahkan spiritualitasnya.  Demikian juga pangan yang lain, baik minyak zaitun maupun delima.  Kalau ahli mengupas delima dan mengukir semangka, anda pun bisa menjadi narasumber dan berkeliling dunia.

Maka, di Lampung Timur pun, penghormatan pada padi perlu ditegakkan. Pengadaan benih diawali dengan berjejaring.  Sebebas-bebasnya, seluas-luasnya. Bisa dengan Lamongan, Semarang, Banyuwangi, maupun Cikarang. Petani biasanya cerdas dan dekat dengan alam semesta.  Inilah pilar keempat daulat pangan, yaitu optimasi kontribusi alam.  Kalau lahannya kering, biarlah desa kita menghasilkan padi kering terbaik.  Kalau lahannya basah, semoga panennya paling top.

Bukan hanya top kualitas gabah dan padinya, tapi juga hasil sampingan dan turunannya. Di lahan basah ada bebek, ikan, belut, dan keong darat yang bisa dipanen. Tepung berasnya berkualitas prima, dedak, bekatul, dan jeraminya pun bernilai tinggi.  Bahkan arsitektur sawahnya pun merupakan produk yang memberikan berkah penghasilan.  Dunia mengakui sistem subak dan sawah bertingkat—terasering—sebagai pusaka kemanusiaan. Tidak kalah dengan sawah laba-laba di Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Baca juga:  Kokedama Tumbuh di Bola Lumut

Hak ulayat
Prinsip kelima dalam daulat pangan adalah menghormati hak pengelolaan.  Kalau urusannya padi, maka kita tentu mendukung doktrin sawah abadi.  Setiap petak sawah memerlukan upaya berkesinambungan, kerja keras, dan sepenuh hati dari generasi ke generasi.  Maka untuk setiap pangan utama diperlukan ahlinya.  Produk pertama setiap komoditas adalah tenaga ahli yang muncul bersama hasilnya.

Sawah kita harus melahirkan ahli-ahli irigasi, pengendali hama, eksportir, peneliti, pemasaran beras, ahli cicip nasi, bahkan perancang rice cooker yang cocok dengan karakter beras kita, agar tidak hilang aromanya.  Jadi pilar keenam daulat pangan adalah menghormati dan memberi apresiasi tinggi terhadap pangan yang diunggulkan.  Termasuk juara cukur domba, bila pangan utama di daerah anda lemak domba. Persis, seperti jagoan pemburu ikan paus di Lamalera, kalau sakralitasnya adalah minyak ikan.

Jadi, kedaulatan pangan perlu ditopang oleh tata agraria, undang-undang pertanahan yang kuat dan dipahami oleh masyarakatnya.  Secara umum hukumnya terletak pada kepemilikan ulayat.  Tidak boleh sepetak sawah diubah begitu saja menjadi lapangan tenis, perumahan, atau pom bensin.  Demikian pula untuk lahan penggembalaan, ladang mutiara, petak-petak rumput laut, dan sumber-sumber air yang akan diteruskan oleh generasi masa depan.

Prinsip ketujuh, menjaga kedekatan.  Wewenang pengelolaan tanah dan air untuk sawah tidak boleh dikuasai oleh pemilik yang jauh nun di sana.  Kita tahu, banyak sawah di Malang, Jawa Timur, Cianjur (Jawa Barat), dan Solok (Sumatera Barat), dimiliki oleh orang Bandung, Jakarta, dan Surabaya, yang berjarak sangat jauh dari tempatnya.  Daulat pangan juga menjamin tidak perlu ada makanan yang harus didatangkan dari ribuan kilometer hanya untuk dikonsumsi.

Mengapa dua keping ikan kakap putih dari Selat Sunda, bisa laku US$14 di Vancouver, Kanada?  Ya, karena potongan ikan itu harus diterbangkan dengan pesawat jet sampai lebih dari 12.000 kilometer dari kerambanya di Banten.   Sama seperti kalau kita di Plaza Senayan makan ikan salmon kiriman dari Skandinavia.  Padahal, kenikmatannya baru sempurna setelah digabung dengan nasi pulen, beras lokal. Semoga anak-cucu kita kembali bernyanyi lantang, “Serumpun padi mengandung janji, harapan Ibu Pertiwi ….” ***

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d