Dato Syed Elias berkeliling dunia untuk mencari varietas tin.

Dato Syed Elias berkeliling dunia untuk mencari varietas tin.

Memburu beragam varietas tin di seantero dunia. Koleksinya ribuan varietas.

Dato Syed Elias jatuh cinta pada cecapan pertama. Ia mencicipi buah tin untuk kali pertama di Kota Ankara, Turki, pada tujuh tahun lalu. “Rasanya enak, manis, dan dagingnya lembut dan beraroma, seolah menikmati es krim,” ujar Elias mengenang. Ia penasaran dengan sensasi rasa buah anggota famili Moraceae itu.

Pengusaha lampu Light Emitting Diode (LED) di Kualalumpur, Malaysia, itu kemudian berkunjung ke Tunisia, Afrika utara. Di situlah ia menemukan pohon idaman setinggi 5 meter. Sebagian cabangnya merunduk sehingga dengan mudah Syed Elias memetik buah. Sejak itulah ia makin tertarik menanam tin di Malaysia.

Varietas tin super jumbo andalan Dato Syed Elias.

Varietas tin super jumbo andalan Dato Syed Elias.

Seribuan varietas
Kegiatan berkeliling dunia mencari tin dilakukan Dato Syed Elias sejak 7 tahun silam. Dato Elias mengumpulkan beragam varietas tin dari seluruh dunia. Ia mengunjungi semua negara penghasil tin di dunia. Perburuan varietas tin itu dari Izmir dan Bursa, keduanya di Turki. Di negeri persimpangan dua benua itu Dato mengenal varietas simena.

Menurut Syed Elias daerah itu mempunyai blastofaga alias serangga khusus yang menyerbuki tin. Daerah itu juga memiliki sarilop, varietas untuk tin kering. Tidak kurang 200 varian tin tumbuh di negeri yang kini dipimpin Recep Tayyib Erdogan itu. Pencariannya berlanjut ke Monserrat, Spanyol, salah satu produsen tin terbesar. Selain itu Elias juga mengunjungi Italia dan Suriah.

Kolektor tin itu juga memburu varietas tin ke Amerika Serikat, Australia, Afrika, Jepang, Taiwan, Indonesia, dan Thailand. Di Indonesia, ia berkawan baik dengan Fauzi Effendi kolektor tin di Jakarta Selatan. Hasil perburuan pohon kerabat nangka itu, kini Syed Elias mengumpulkan lebih dari 900 varietas tin yang telah teridentifikasi. Sementara lebih 100 varietas lainnya belum terdentifikasi. Pria murah senyum itu salah satu kolektor tin terlengkap di dunia.

Salah satu koleksi tin terlengkap di dunia ada di Kualalumpur, Malaysia.

Salah satu koleksi tin terlengkap di dunia ada di Kualalumpur, Malaysia.

Bahkan ia sangat antusias dan terobsesi menjadikan kebunnya di Ampang, Kualalumpur menjadi lahan konservasi tin kelas dunia. “Koleksi tin Dato Syed Elias paling lengkap di Malaysia,” kata Mohd Syahmi bin Salleh, mahasiswa program doktor di Universitas Islam Malaysia yang memanfaatkan kebun itu untuk penelitian disertasi. Beberapa varietas istimewa yang tumbuh di kebun Elias adalah dalmatie dari Kroasia. Buah varietas itu mampu bertahan 14 hari setelah panen. Bandingkan dengan varietas tin lain yang rata-rata hanya mampu bertahan 2—5 hari pascapetik.

Baca juga:  Trik Mengatasi Lalat Buah

Jenis langka
Koleksi lain yang cukup istimewa ialah luv, varietas kuno dan langka. Karena paling langka, harga varietas yang menghasilkan buah berwarna biru gelap itu RM2.000 setara Rp6-juta untuk sebuah bibit setinggi 30 cm. Elias juga mengoleksi varietas langka pasudda rossa dan jurupa. Semula pria 54 tahun itu menanam semua koleksi di lahan terbuka di belakang rumah di kawasan elite Kualalumpur.

Itu meniru cara budidaya tin di Turki dan Afrika. Pada 3 tahun silam ia mulai membudidayakan tananam anggota famili beringin-beringinan itu dalam wadah beton setinggi 60 cm. Ayah 4 anak itu juga menanam di keranjang plastik yang biasa dipakai di pasar swalayan. Elias menutup seluruh permukaan tanah dengan plastik untuk mencegah gulma tumbuh.

Luv, varietas tin langka dengan harga termahal.

Luv, varietas tin langka dengan harga termahal.

Ia pun memasang jaringan fertigasi untuk menyiram dan memupuk seluruh tanaman. Namun, tin tidak tahan serangan penyakit karat daun yang muncul saat curah hujan tinggi. Akibatnya daun rontok sehingga tanaman hampir gundul. Pembentukan buah pun tidak bisa optimal. Ukuran buah kecil dan kualitas rendah. Untuk mengatasi masalah itu Dato Syed Elias membangun 4 greenhouse masing-masing berukuran 60 m2 senilai Rp100-juta—Rp150-juta.

Keempat greenhouse itu mempunyai fungsi berbeda. Ada rumah tanam untuk penelitian pembuahan yang khusus meneliti 4 varietas, yaitu jumbo, misui douphine, super jumbo, dan super red hybrid. Ada pula rumah khusus riset varietas baru untuk melihat daya adaptasi dan cara membuahkan. Pemilik Coffe Mania di Kualalumpur dan Bangkok itu mengunjungi kebun tin hampir setiap hari.

Saat matahari baru muncul di ufuk timur, ia mengitari kebun tin seluas 2.000 m2 dari lahan seluas 1,5 ha. Dato Elias memeriksa kondisi tanaman terutama di greenhouse mini untuk pembibitan. Di situ kolektor ratusan jenis bromeliad itu mengamati kondisi ratusan bibit yang baru ditanam dalam polibag di lantai beralas plastik. Selain bibit yang baru dipanen, juga ada varietas baru, misal molignana del cilento, petrovatch, fonnole, vico di meda, dan lain-lain.

Rasa manis, lembut, citarasa khas buah tin.

Rasa manis, lembut, citarasa khas buah tin.

Super jumbo
Di greenhouse lain ia menanam jenis unggul, seperti super jumbo (SJ), rimada, lunga de isto, irak 1, dan dalmatie. Dari pohon-pohon itulah pemilik nurseri Fig Malaysia itu memetik 5—30 kg buah tin per hari. Interval panen untuk sebuah pohon 1—3 hari. Varietas super jumbo unggul karena berbuah besar, mencapai 150—160 g, warna merah kekuningan. Saat digigit, dagingnya lembut, citarasa manis terasa kuat di lidah, lezat seolah berlumuri keju meleleh.

Baca juga:  Analisis Usaha Tin

Kini Dato Syed Elias mulai menyebarkan aneka vareitas bibit ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Kegiatannya di kebun tin biasanya berakhir pada pukul 10.00—11.00, setelah itu ia bersiap untuk mengawasi kegiatan bisnis yang lain. (Syah Angkasa)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d