Dari Rimba ke Rumah 1
Mundar asal biji mulai berbuah umur 5—6 tahun

Mundar asal biji mulai berbuah umur 5—6 tahun

Melihat sosok mundar Dr Ir Mohamad Reza Tirtawinata, MS bak jatuh cinta pada pandangan pertama. Mundar Garcinia forbesii seukuran bola pingpong yang merah terang. Reza pertama kali melihat mundar pada 1996 pada sebuah ekshibisi. Ketika itu paviliun Provinsi Kalimantan Selatan memajang  perahu kayu berisi buah-buahan khas daerah sana. “Satu keranjang diisi buah merah cerah mirip manggis,” kata Reza. Ternyata benar, buah itu memang masih satu kerabat dengan manggis.

Usai menyaksikan pameran itu, Reza bersama rekan, Gregori Garnadi Hambali, pergi ke Banjarbaru, Kalimantan Selatan, demi mendapat bibit. Di sana mereka menemukan pohon mundar di ladang dekat sungai kecil. Sayang, ketika itu tak mendapatkan buah karena musim sudah lewat. Doktor Pertanian alumnus Institut Pertanian Bogor itu  meminta pada penduduk di sana untuk mengirimkan buah pada musim panen berikutnya. Setahun kemudian Reza mendapat kiriman 3.000 buah mundar. “Karena perjalanan lama sehingga sebagian besar buah busuk,” kata Reza.

Batang gitak madu

Batang gitak madu

Ia menyeleksi biji dan memeperoleh 250 biji berbobot rata-rata 1—2 gram per biji yang tumbuh menjadi 200 bibit. Tanaman itu sebagian besar ditanam di Taman Wisata Mekarsari dan sisanya di kebun Reza dan Greg Hambali. Reza menanam mundar dalam pot karena keterbatsan lahan. Selang 5—6 tahun mundar asal biji itu berbuah.

Kini untuk menikmati mundar ahli manggis itu tak perlu bersusah-payah ke belantara Kalimantan. Ia cukup memetik buah kerabat manggis itu dari pohon di belakang rumah. Reza menuturkan ketika itu mundar dikatakan sebagai tanaman domestikasi, yaitu tanaman asal hutan yang ditanam di kebun. Reza belum memperbanyakan mundar secara serius. Maklum, perbanyakan dengan cangkok dan setek sulit. “Perbanyakan dari biji pun sulit karena jumlahnya sangat sedikit. Dari 100 buah hanya ada 5 biji,” katanya.

Baca juga:  Gama Melon Parfum Mampu Usir Nyamuk

Reza serius mengembangkan mundar setelah khasiat xanthone asal manggis terungkap. Menurut Reza, mundar memiliki kandungan antioksidan tinggi. Reza pernah menghidangkan manggis dan mundar pada para tamu dari Belanda, Jerman, dan Brasil. Ketiganya mencicipi. Hasilnya, ketiga orang asing itu lebih menyukai mundar daripada manggis. “Kalau harus menilai maka mereka memberi mundar nilai 8, sementara manggis 7,” ujar Reza.

Gitak madu bercita rasa campuran manggis, sirsak, dan susu

Gitak madu bercita rasa campuran manggis, sirsak, dan susu

Menurut ketiga tamu itu mundar rasa asamnya pas dan warnanya cantik. Sementara manggis dari luar dilihat tidak menarik sementara jika dibelah memang cantik. Oleh karena itu menurut Reza mundar yang dahulu hanya tanaman hutan mempunyai potensi untuk dikembangkan. Selain mundar, Reza juga menanam 10 tanaman kerabat manggis lain seperti Garcinia porecta, G. dulcis, dan G. selebica. Ketiga kerabat manggis itu berasal dari biji yang ditanam dalam polibag sekitar 16—17 tahun silam. Kini tanaman itu menghias halaman rumah Reza.

Selain kerabat manggis, Reza juga menanam gitak madu Willughbeia angustifolia asal biji. Buah itu disebut-sebut sebagai buah terenak karena cita rasanya kombinasi manggis , sirsak, dan susu. Sayang, hingga saat ini tanaman berumur 6 tahun asal Barito, Kalimantan Selatan, itu belum berbuah. Reza menduga di hutan gitaan tumbuh berbarengan dengan pohon rambatannya sehingga ketika pohon sudah tinggi, gitaan pun mengikuti tinggi pohon itu sehingga masih mendapat sinar matahari untuk memproduksi buah. Sementara Reza menanam gitak madu di bawah pohon asam yang memang sudah besar sehingga kurang mendapatkan sinar matahari.

Tabulampot mundar berbuah lebat di kebun M Reza Tirtawinata

Tabulampot mundar berbuah lebat di kebun M Reza Tirtawinata

Menurut Greg menanam tanaman hutan itu perlu kesabaran. Musabnya karakter tanaman belum begitu diketahui sehingga perlu diteliti lebih dahulu. “Kalau pun mau memberikan pupuk, harus diteliti dulu berapa banyak pupuk yang dibutuhkan dan pupuk apa,” kata alumnus Universitas Birmingham itu. Oleh karena itu, biasanya tanaman yang baru didatangkan dari hutan itu dibiarkan saja tumbuh seadanya tanpa dipupuk terlebih dahulu.

Baca juga:  Faedah Okra di Mancanegara

Greg menuturkan domestikasi tanaman sangat penting. Sebab, keberadaan beragam buah hutan itu terancam oleh perluasan pemukiman penduduk, pembakaran, pembalakan liar, dan ekspansi perkebunan kelapa sawit. Greg masih mudah menjumpai buah kemeluku Nesphelium cuspidatum di pinggir hutan dan di pekarangan penduduk ketika berkunjung ke Mansalong, Kabupaten Malinau. Kalimantan Utara, pada 2000. Namun, “Ketika kembali lagi ke sana pada 2012 kemeluku sudah sulit dijumpai karena banyak ditebang orang untuk perluasan pemukiman,” kata Greg.

Kemeluku kini semakin langka

Kemeluku kini semakin langka

Padahal, menurut Greg buah kemeluku berpotensi untuk dikembangkan karena buahnya bagus dan menarik. “Buah mirip rambutan, warnanya merah cerah, bulunya halus dan rapat,” katanya. Pemerintah bertanggung jawab untuk menyelamatkan buah-buah itu. Tanggung jawab itu berupa memberi batas jelas di setiap cagar alam, penyadaran masyarakat, dan mengatasi pembalakan liar yang merajalela. Kementerian Kehutanan mencatat kerusakan hutan mencapai lebih dari 1,08 juta hektar per tahun.

Menurut Greg domestikasi tanaman hutan juga sebaiknya diseleksi terlebih dahulu. “Pilih jenis dengan nilai hortikultura tinggi seperti durian hutan. Dan ada kaitan dengan tanaman budidaya yang sudah ada. Misalnya sumber batang bawah seperti Baccaurea angulata,” kata Greg. Selain itu, bisa juga memilih jenis tanaman hutan yang sudah ditanam oleh penduduk lokal. Penduduk lokal biasanya menanam tanaman buah yang sudah ada nilainya. Buahnya pun dipilih yang bagus, seperti daging buah lebih tebal, kulit lebih tebal, dan rasanya manis. (Rosy Nur Apriyanti)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *