Rutin mengonsumsi daun stevia menurunkan risiko hipertensi dan diabetes

Rutin mengonsumsi daun stevia menurunkan risiko hipertensi dan diabetes

Cara enak konsumsi teh manis tanpa gula.

Ir H A Tisna Umaran MP mengambil beberapa daun kering dan meletakkan di dasar cangkir. Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten Bandung, Jawa Barat itu tak menambahkan gula sedikit pun sebelum menyeduhnya dengan air mendidih. Seketika air berubah menjadi kekuningan. Aromanya harum. Beberapa saat kemudian, tamu di rumah Tisna Umaran menyeruput seduhan daun itu. Ia mengatakan rasa manisnya melekat di lidah sangat berbeda dengan citarasa teh manis pada umumnya.

Tisna rutin mengonsumsi seduhan daun stevia itu sejak stahun lalu. Harap mafhum daun stevia merupakan pemanis alami nonkalori sehingga aman dikonsumsi setiap hari. Sejatinya stevia memang sejak 1977 digadang-gadang sebagai pemanis pengganti gula terutama untuk para penderita diabetes mellitus.

Daun stevia dapat diolah menjadi beragam produk seperti sirop, kue, dan mi

Daun stevia dapat diolah menjadi beragam produk seperti sirop, kue, dan mi

Diabetes mellitus
Para pekebun stevia saat itu—1977—lebih memilih memasok stevia ke perusahaan jamu dan rokok daripada mengolahnya menjadi panganan sehat. Padahal, di Jepang dan Amerika sutebia—sebutannya di sana—justru dikembangkan sebagai alternatif gula oleh industri penghasil makanan dan minuman. Bahkan, pada Desember 2008 Badan Pengawasan Obat dan Makanan Amerika Serikat (Food and Drug Administration, FDA) menetapkan stevia sebagai pemanis nonkalori dan aman dikonsumsi untuk penderita diabetes mellitus.

Itu membuat Busono Edi Setiawan SSi, pendamping pekebun stevia di Kelompok Tani Mulyasari Cibodas, Kabupaten Bandung, tertantang mengembangkan stevia. Bersama kelompok tani binaannya, Busono menghasilkan varietas stevia baru dari hasil seleksi dan diberi nama stevia cibodas manis 3 atau CM-3. Busono pun menjalin kerja sama dengan Koperasi Nusantara Kiat Lestari (Nukita) di Kabupaten Bandung untuk mengolah stevia varietas anyar itu.

Baca juga:  Kebaikan Okra

“Stevia CM-3 sudah disertifikasi aman untuk digunakan sebagai bahan baku makanan maupun farmasi,” ujarnya. Koperasi Nukita menghasilkan antara lain teh celup berbahan baku daun stevia. Menurut Dini Mardiani SP, ketua Koperasi Nukita, teh celup itu murni berasal dari daun stevia kering yang telah dihaluskan. “Satu kg simplisia stevia berasal dari 10 kg daun stevia segar,” ujar Dini.

Busono Edi Setiawan SSi (kiri) dan Dini Mardiani SP, membina Kelompok Tani Mulyasari Cibodas dalam penanaman dan pengolahan stevia

Busono Edi Setiawan SSi (kiri) dan Dini Mardiani SP, membina Kelompok Tani Mulyasari Cibodas dalam penanaman dan pengolahan stevia

Simplisia itulah yang kemudian dibungkus dengan kantong teh layaknya teh Camellia sinesis. Konsumen tak perlu repot menambahkan gula alami atau gula sintetis. Satu kantong stevia itu bisa untuk 2—3 kali penyeduhan masing-masing setara 200 ml. Pencinta teh dan penderita diabetes mellitus menggemari teh stevia yang kini tersedia dalam berbagai kemasan itu.

Sebagai gambaran berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar, Kementerian Kesehatan, prevalensi penderita diabetes mellitus mencapai 1,5% dari total penduduk Indonesia atau setara dengan 3.750.000 orang. Bahkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi penderita diabetes mellitus di Indonesia pada 2030 akan mencapai 21,3-juta orang. Tak heran jika teh stevia mulai diminati. “Padahal kami hanya memasarkannya ke toko-toko organik di Bandung dan Jakarta,” ujar Dini.

Diet
Busono dan Koperasi Nukita bukan hanya memproduksi stevia seduh. Beragam produk lain seperti sirop, mi, kue kering, dan bolu kukus. “Konsep kami membuat panganan sehat terutama untuk lanjut usia dan penderita autis,” ujar Busono. Menurut riset International Food Information Council Foundation, Amerika Serikat, stevia aman dikonsumsi oleh semua usia termasuk anak-anak, lansia, dan ibu hamil.

Untuk penganan bagi para lansia khususnya penderita hipertensi dan diabetes, saat ini Koperasi Nukita menjalin kerjasama dengan Rumahsakit Hasan Sadikin di Bandung. Stevia pun baik untuk diet bagi penderita autis sebagaimana pemanfaatan di beberapa negara seperti Tiongkok, Malaysia, Singapura, Korea Selatan, dan Thailand. Itu karena stevia tidak mengandung gluten dan bahan pemicu alergi.

Penanaman stevia di Indonesia masih sangat terbatas. Padahal stevia mempunyai potensi besar sebagai pemanis alami

Penanaman stevia di Indonesia masih sangat terbatas. Padahal stevia mempunyai potensi besar sebagai pemanis alami

Di negara-negara itu stevia  diolah menjadi minuman, permen, yogurt, es krim, kecap, dan bumbu makanan laut yang dikeringkan. Kini Koperasi Nukita membuat penganan untuk anak berkebutuhan khusus (ABK) hanya berupa mi, kue kering, dan bolu. “Seluruh bahannya bebas gluten dan antialergi,” ujar Dini. Untuk tepung, misalnya, ibu 1 anak itu memilih tepung sorgum atau tepung ganyong Canna discolor.

Baca juga:  Penyakit Padi : Bulir Kosong dan Patah Leher

“Seluruhnya diperoleh dari petani binaan di Bandung,” ujarnya. Alumnus Universitas Padjadjaran itu berencana memperbanyak variasi produk jika bahan baku memadai. Di Indonesia, perusahaan besar seperti Nutrifood membuat biskuit dan teh untuk anak berkebutuhan khusus. Menurut Dini Mardiani, stevia tidak rusak pada suhu tinggi seperti sakarin atau aspartam.

Dini mengatakan, “Stevia tahan pada pemanasan hingga 200 C sehingga dapat digunakan pada hampir semua resep makanan.” Selain itu saat ini aspartam, pemanis rendah kalori, yang banyak dikonsumsi pun mulai dilarang penggunaannya sehingga stevia memiliki potensi besar untuk dikembangkan.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d