Dari Jepang Untuk Asia 1
Jepang mandiri dalam pemenuhan pangan, di antaranya beras

Jepang mandiri dalam pemenuhan pangan, di antaranya beras

Eri Otsu menutup sore pada Sabtu, 13 September 2014, yang emosional itu dengan kalimat yang penuh tekad, “Tugas kita untuk menyelamatkan desa. Buat kita, buat anak-anak kita.” Eri, perempuan 40 tahun alumnus magister sains dari Technical University of Munich, Jerman, memilih menyepi ke desa ketimbang bekerja di kota. Bersama suami, Kota Otsu, perempuan kelahiran Jerman itu mengelola 5 hektar sawah dengan budidaya secara organik.

“Di desa hidup kita kaya,” kata ibu 3 anak yang aktif menggerakkan peran perempuan petani di Jepang. Bagi Eri petani dan desa adalah sumber pangan dan energi yang dibutuhkan manusia. Oleh karena itu ia memilih berkarya di desa sebagai petani dan mengambil peran sebagai penghasil pangan dan—ini yang ia coba perkenalkan kepada masyarakat—energi terbarukan.

Sentra pertanian produktif berupa kebun pir terbaik di Aomori Prefektur. Pir salah satu dari tiga komoditas andalan selain apel dan ceri

Sentra pertanian produktif berupa kebun pir terbaik di Aomori Prefektur. Pir salah satu dari tiga komoditas andalan selain apel dan ceri

Eri Otsu salah satu pembicara yang dihadirkan pada acara Multicountry Observational Study Mission on Best Practices in Promoting Innovation and Productivity in Agriculture for Mass Media Practitioners pada 8—14 September 2014 di Jepang yang diselenggarakan oleh Asian Productivity Organization (APO).

APO, berkedudukan di Tokyo, Jepang, dibentuk pada 14 April 1961 yang ditandai dengan penandatanganan Konvensi APO oleh 8 pemerintah negara yaitu Cina, India, Jepang, Korea Selatan, Nepal, Pakistan, Filipina, dan Thailand. Tujuan APO meningkatkan produktivitas di negara-negara Asia melalui kerja sama timbal-balik. APO sebuah organisasi nonpolitik, nonprofit, dan tidak diskriminatif. Saat ini anggota APO terdiri atas 20 negara di Asia. Indonesia menjadi anggota APO pada 1968.

Baca juga:  Cinta untuk Tupai Gula

Secara teknis dan administratif, penyelenggaraan program dan proyek APO dikordinir oleh Sekretariat APO yang dipimpin oleh Sekretaris Jenderal—saat ini dijabat oleh Mari Amano, mantan duta besar di berbagai negara. Untuk penerapan program-program APO di setiap negara, Sekretariat APO berkoordinasi dengan National Productivity Organization (NPO) di masing-masing negara. Di Indonesia, NPO adalah Direktorat Produktivitas dan Kewirausahaan, Ditjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas, Kementerian Tenagakerja dan Transmigrasi. Direktur NPO Indonesia ialah direktur Direktorat Produktivitas dan Kewirausahaan, Estiarty Haryani.

Pemandangan di halaman depan kantor APO di Tokyo

Pemandangan di halaman depan kantor APO di Tokyo

NPO Indonesia murni pemerintah. Sementara anggota lain seperti Mongolia berbentuk lembaga swadaya masyarakat dan universitas di Fiji. Peran NPO antara lain menyebarluaskan upaya peningkatan produktivitas—berupa cara, metode, teknik, dan pendekatan-pendekatan—di masing-masing negara. Itu sejalan dengan salah satu tugas Direktorat Produksi dan Kewirausahaan yakni peningkatan kesadaran akan pentingnya peningkatan produktivitas, pengembangan dan penerapan alat, teknik, dan mentode peningkatan produktivitas, penciptaan budaya produktif, dan pengembangan kewirausahaan.

Kegiatan APO terfokus di 4 bidang dalam departemen administrasi dan keuangan, departemen industri, departemen riset dan perencanaan, serta departemen pertanian. Menurut direktur Departemen Pertanian, APO, Joselito Cruz Bernardo, dalam sesi pembukaan acara misi studi, pertanian menjadi salah satu perhatian karena memberikan kontribusi signifikan terhadap produk domestik bruto (GDP) di banyak negara anggota. PDB merupakan nilai pasar dari semua akhir barang dan jasa yang diproduksi di suatu negara pada tahun tertentu.

Produk olahan berupa garam bercitarasa aneka buah dan sayuran yang memberi nilai tambah, salah satu upaya peningkatan produktivitas

Produk olahan berupa garam bercitarasa aneka buah dan sayuran yang memberi nilai tambah, salah satu upaya peningkatan produktivitas

Selain itu pertanian juga memberi pekerjaan di area pedesaan, terutama untuk perempuan. Oleh karena itu kemandirian perempuan petani seperti yang dicontohkan Eri Otsu salah satu yang disasar APO. Peran lain pertanian yakni berkaitan dengan ketahanan pangan. Pantas bila negeri Matahari Terbit berkepentingan untuk mengembangkan kekuatan desa. “Jepang menginisiasi konsep one village one product (OVOP) yang kemudian diikuti oleh Thailand denga OTOP-nya serta Kamboja dan Laos,” kata Joselito. Jepang juga mampu 100% swasembada dengan beras produksi dalam negeri.

Baca juga:  Babak Baru Tanam Tin

Dalam mengegolkan misinya untuk mendukung pembangunan sosial ekonomi yang berkelanjutan di Asia melalui peningkatan produktivitas, APO menyelenggarakan berbagai kegiatan. Di antaranya misi studi untuk praktisi, akademisi, pengambil kebijakan, hingga media massa seperti yang Trubus ikuti. Pun kegiatan konferensi, pelatihan, lokakarya, promosi dalam bentuk pameran, dan riset. APO berharap dengan kegiatan-kegiatan itu akan lebih banyak orang muda seperti Eri Otsu yang kembali ke desa dan bertani. (Evy Syariefa)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments