Sudarto awalnya hanya seorang pengemudi lepas di Kabupaten Bangka Tengah. Penghasilannya memang tidak seberapa. Namun, berkat tekad dan kerja keras mengembangkan budidaya buah naga, ia berhasil menjadi petani sukses.

Semua itu tidak ia peroleh secara instan. Kurang lebih tiga tahun lamanya menjadi masa-masa  sulit bagi pria berumur 45 tahun itu. Warga sekitar rumahnya yang terletak di Desa Penyak, Kecamatan Koba, Bangka Tengah mencibir Sudarto karena menanam buah naga di lahan tandus.

Namun, itu tidak membuat Sudarto patah semangat. Ia terus tekun mempelajari budidaya buah naga. Modal awalnya cuma uang sebesar 300 ribu Rupiah, serta bibit dari dua batang pohon buah naga yang sebelumnya telah ditanam sendiri di halaman depan rumahnya.

“Saat itu saya bekerja sendiri. Mulai dari menggali lobang dan mencari kayu untuk penunjangnya. Pokoknya tekad kuat harus,” ujar Sudarto pada Sabtu, 18 April 2015 lalu.

Tantangan pun langsung menghadang petani berpenampilan sederhana tersebut. “Ada saja satu dua orang bilang, kenapa berkebun di lahan tandus dan berpasir? Tidak akan berhasil. Tapi, saya nekat saja,” tuturnya.

Hasil kerja keras Sudarto kemudian berbuah manis. Kini kebun buah naga Sudarto tumbuh dengan baik dan terawat. Dia bahkan telah dapat mempekerjakan empat pegawai untuk perawatan kebun.

Tahun pertama, kebun buah naga milik Sudarto berhasil mengembangkan sekitar 150 batang pohon. Itu menambah kepercayaan diri Sudarto bahwa budidaya buah naga memang menjanjikan masa depan yang cerah.

Ia pun kemudian belajar lebih dalam mengenai cara bercocok tanam buah naga. Tak tanggung-tanggung, dari Bangka ia langsung terbang ke Bogor, Jawa Barat untuk menemui seorang pakar buah naga bernama Ir. Sinatra.

Baca juga:  Manfaat, Contoh dan Pengertian Tanaman Hias

Hasilnya sudah dapat dipastikan lebih manis. Berkat pengetahuan dari seorang pakar, ia mampu mengembangkan pohon buah naga lebih baik lagi. Jumlahnya meningkat drastis hingga mencapai 5.000 pohon di atas lahan seluas 3,5 hektar.

“Rencana akan terus saya kembangkan, karena lahan saya ada 12 hektar,” ungkapnya.

Buah naga di kebun milik Sudarto sendiri dipanen dua kali dalam sebulan. Setiap satu kali panen sedikitnya 700 kilogram buah dapat dihasilkan. Dengan begitu, dalam satu bulan Sudarto mampu mengantongi omzet lebih dari 20 juta Rupiah.

Untuk distribusinya sendiri, Sudarto biasanya menjualnya ke luar daerah. Namun, tidak sedikit pula pedagang yang langsung menghampirinya ke Bangka Tengah.

“Saya tanam jenis Super Red dan Red Dragon. Saya juga sedang mengembangkan buah naga kuning yang sedang dalam tahap pembibitan,” tambah Sudarto.

Selain mengembangkan budidaya buah naga, Sudarto juga melakukan pembibitan dan menjual bibit secara langsung. Harganya pun bervariasi antara 10 ribu sampai 30 ribu Rupiah.

Ke depannya sendiri, Sudarto berencana merangkul warga sekitar untuk memiliki usaha serupa. Ia pun telah membentuk kelompok tani buah naga yang telah memiliki anggota sekitar 30 orang.

“Insya Allah, kalau kita berusaha dan yakin, Allah akan memberi jalan. Tidak ada yang tidak mungkin,” kata Sudarto yang kini pantas disebut petani teladan itu optimis.

Sumber : t r i b u n n e w s . c o m