Sunardi, namanya melejit karena jambu air deli hijau

Sunardi, namanya melejit karena jambu air deli hijau

Tebang kelapa sawit, tanam jambu deli hijau.

Tindakan Sunardi menebang 100 pohon kelapa sawit di lahan 7.200 m2 setahun silam sempat dianggap “gila” oleh warga kampung Sei Remban, Payaroba, Kota Binjai, Sumatera Utara. Musababnya tanaman berumur 6 tahun itu sudah berproduksi. Sunardi dapat menuai 2 tandan buah per pohon, berbobot total 10 – 15 kg setiap 2 pekan. Dengan harga Rp1.300 – Rp1.500 per kg, ia berpeluang meraup omzet minimal Rp3.000.000 per bulan atau 36-juta per tahun.

Nilai itu sangat cukup untuk kehidupan di Binjai. Apalagi sawit dapat berproduksi hingga 25 tahun. Artinya, pekebun tinggal menikmati hasil panen. Pantas jika warga Sumatera Utara menganggap tanaman anggota famili Arecaceae itu bak mesin anjungan tunai mandiri. Meski mendapat tanggapan negatif dari warga sekitar, Sunardi bergeming. Ia mantap dengan keputusannya, menebang pohon Elaeis guineensis.

Bersama Direktur Benih Kementrian Pertanian Ir Sri Wijayanti Yusuf MAgr Sc (kiri) bahas pengembangan jambu deli hijau

Bersama Direktur Benih Kementrian Pertanian Ir Sri Wijayanti Yusuf MAgr Sc (kiri) bahas pengembangan jambu deli hijau

Tiga ter

Sebagai pengganti kelapa sawit, Sunardi menanam 700 jambu air deli hijau dalam pot berjarak 3 m x 3 m. Keputusan ayah 3 anak itu mengganti sawit dengan jambu deli hijau bukan tanpa alasan. Berdasarkan hitungan analisis usaha, budidaya jambu air lebih menguntungkan. Tabulampot deli hijau panen perdana pada tahun kedua penanaman dengan rata-rata 6 kg per pohon per tahun. Dengan harga jual Rp25.000 per kg, omzet Sunardi Rp105-juta dari 700 pohon.

Artinya tamatan SMK Tunas Pelita, Binjai, jurusan otomotif itu menuai pendapatan hampir 3 kali lipat lebih tinggi daripada kelapa sawit. Pundipundi Sunardi kian meningkat seiring pertambahan umur tanaman. Pada tahun ke-3 dipanen 15 kg buah per pohon dan tahun ke-4, 30 kg/pohon. Sunardi menjatuhkan pilihan pada deli hijau melalui proses pengamatan lapang. Sebagai penangkar, ia memiliki beragam 17 varietas jambu air seperti: black diamond, cincalo, citra, deli hijau, kesuma merah, dan king rose.

Tebang kelapa sawit dan diganti tabulampot jambu deli hijau

Tebang kelapa sawit dan diganti tabulampot jambu deli hijau

Berdasarkan pengamatan lapang selama 10 tahun, Sunardi menilai tabulampot jambu madu deli lebih unggul daripada jambu air lain. Sedikitnya, “Ia memiliki 3 ter, yakni termanis, termudah berbuah, dan terlebat buahnya,” kata Sunardi. Analisis di laboratorium menunjukkan tingkat kemanisan buah 12,4o briks. Lantaran buah manis seperti madu, Sunardi mendaftarkan jambu air itu sebagai buah unggul lokal dengan nama madu deli (MD). Namun, karena alasan administrasi nama itu berubah menjadi deli hijau.

Baca juga:  Pasar Incar Kroton

Pemulung di pasar

Pada 2010 Sunardi mulai mengebunkan 200 jambu deli hijau secara komersial dalam polibag, lazimnya di tanah. “Tabulampot dipilih karena potensi buah jambu deli hijau muncul secara maksimal. Bila di tanah, rasanya kurang manis. Ditanam di pot pun, buahnya tetap lebat,” katanya. Berselang 9 – 10 bulan tabulampot jambu madu deli asal bibit sambung berbunga. Sekitar tiga bulan kemudian, buah dapat dipanen. Sunardi memanen buah perdana rata-rata 2 – 3 kg per pot atau total sekitar 500 kg.

Mendapat apresiasi dari Gubernur Sumatera Utara,     H Gatot Pujo Nugroho, AMd, ST, MSi

Mendapat apresiasi dari Gubernur Sumatera Utara, H Gatot Pujo Nugroho, AMd, ST, MSi

“Dalam satu tahun bisa 3 kali panen raya,” kata pemilik CV Mulia Tani itu. Produksi kian meningkat setiap tahun dan stabil pada tahun ke-4, yaitu 30 kg per pohon per tahun. Pada awal produksi, Sunardi membagikan buah kepada keluarga, tetangga, kenalan, dan anggota kelompok sekaligus promosi. Pada pembuahan ketiga, Sunardi mudah menjual karena masyarakat telah mengenal keunggulan deli hijau. Kini ia memiliki 2.000 pot jambu berumur minimal 2 tahun dan 1.000 pot umur 6 – 7 bulan.

Pria 44 tahun itu memiliki ide membuat deli hijau sebagai tanaman pertanian perkotaan ke Pemerintah Kota Binjai. “Binjai itu kota kecil, lahan pertanian terbatas, dan sebagian halaman perumahan telah ditutup paving block. Jambu air dalam pot layak diusahakan masyarakat karena sosoknya kecil, buah lebat, dan harga tinggi sehingga dapat memberikan pendapatan tambahan bagi warga,” jelas Sunardi.

Semula Pemulung

Sunardi memperoleh kesukseksan bukan tanpa aral. Tanpa modal, anak petani itu memilih sektor pembibitan tanaman hortikultura sebagai usaha 20 tahun silam. Untuk mendapatkan batang bawah, Sunardi tak segan mengorek tempat sampah di pasar Binjai untuk mencari aneka biji buah-buahan: durian, mangga, avokad, dan rambutan. “Kalau tidak begitu, bagaimana bisa mendapatkan biji untuk disemai,” ujarnya.

Dikenal luas sejak 2012, lewat P2FN di Medan.

Dikenal luas sejak 2012, lewat P2FN di Medan.

Biji-biji itu kemudian disemai di tanah hingga tumbuh. Sementara menunggu bibit bawah tumbuh, Sunardi membeli pohon induk unggul untuk disambungkan pada batang bawah yang sudah tumbuh. Ia membeli durian montong dan chanee dan diambil cabangnya untuk disambung ke batang bawahnya. Ia kemudian memindahkan bibit sambungan dan memasukkan ke polibag untuk dijual.

Baca juga:  Kelapa Dalam Semeter Panen

Perburuan entres unggul masih dilakukan hingga kini. Untuk mendapat jambu deli hijau jumbo, ia menukar dengan durian loved. Ada pula yang harus ditukar dengan jual jasa. Pemilik pohon unggul yang tidak bisa memperbanyak, meminta bantuan Sunardi untuk memperbanyak. Hasilnya, bibit yang telah diperbanyak dibagi bersama.

Kini di kebunnya di Sei Remban, Payaroba, Binjai Barat, menghampar belasan ribu bibit aneka jenis. Ada belasan jenis durian unggul lokal dan nasional, mangga, lengkeng, rambutan, avokad, sirsak, jeruk, pamelo, dan jambu air. Sebelum 2012, durian merupakan komoditas unggulan Sunardi. Namun setelahnya, jambu air deli hijau yang mengalami lonjakan permintaan hingga menjadi primadona baru CV Mitra Tani. “Nilai penjualannya telah menyamai atau bahkan melebihi pendapatan dari seluruh jenis bibit,” ujar Sunardi.

Pada 2013 Sunardi dan kelompok tani beranggota 36 orang menjual 60.000 bibit jambu madu ke berbagai kota seperti Pekanbaru, Bengkulu, Lampung, Padang, dan Balikpapan. Semua penjualan hasil produksi anggota kelompok dengan sistem manajemen satu pintu. Artinya, semua produksi bibit dan buah dari anggota kelompok disetor ke CV Mitra Tani untuk kemudian dijual. “Dengan menjual lewat 1 pintu, kualitas bibit dan buah dapat dipertahankan,” kata Sunardi.

Sunardi mewajibkan setiap anggota memiliki minimal 50 pohon induk bersertifikat. Mitra Tani menjual sebuah bibit setinggi 30 – 40 cm Rp25.000 dan buah, Rp25.000 – Rp45.000/kg tergantung mutu. Setiap hari kelompok itu menjual buah 30 – 50 kg. Bahkan pekan ke-3 Mei, 78 kg buah habis terjual dalam waktu 5 jam,” ujar Sunardi. Jambu deli hijau memang manis, manis di mulut, manis di mata, dan manis di kantong. Itulah yang Sunardi rasakan. (Syah Angkasa)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d