Cuncun Wijaya rutin menanam padi di lahan 60 hektare meski penuh tantangan.

Membudidayakan padi masih menguntungkan.

Membudidayakan padi masih menguntungkan.

Mengamati tanaman padi yang tumbuh dan menyaksikan angin semilir membelai malai menguning, cukup bagi Cuncun Wijaya untuk jatuh cinta pada padi. Itulah yang menyebabkan sampai kini Cuncun, nama panggilan Cuncun Wijaya—tetap menanam padi. Ia membudidayakan tanaman anggota famili Poaceae itu sejak 2008 ketika usianya 32 tahun. Kini ia menanam padi di lahan 60 hektare.

Petani di Lagoon, Lhokglumpang, Acehjaya, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, itu dua kali menanam padi setiap tahun. Penanaman pertama pada Mei, sedangkan penanaman kedua pada September. Lahan Cuncun tersebar di beberapa lokasi. Ia mengatakan, lahan siap tanam seluas 30 hektare itu di Desa Padang, Acehjaya berketinggian 50 meter di atas permukaan laut. Sisanya di Simpangjami, Aceh Timur.

Varietas beragam
Di pasaran terdapat beragam varietas padi. Namun, Cuncun menanami lahannya dengan berbagai macam varietas padi, seperti inpari 32, inpari 30, dan inpari 22. Pemilihan varietas padi itu mendapat perhatian khusus lantaran terkait waktu produksi. Ada varietas yang panen pada umur 90 hari, 110 hari, bahkan 120 hari. Namun, ia memilih varietas yang tidak terlalu singkat, yaitu 120 hari.

Cuncun Wijaya dua kali menanam padi per tahun.

Cuncun Wijaya dua kali menanam padi per tahun.

“Pengalaman menunjukkan, varietas-varietas yang genjah alias cepat panen biasanya hasilnya kurang dan bulir padi lebih kecil sebab waktu pengisiannya pendek,” kata Cuncun. Ia menerapkan sistem budidaya jajar legowo alias jarwo. Itulah sebabnya ia menyemai benih padi di dapog atau tray berukuran 30 cm x 60 cm. Cuncun memindahkan bibit berumur 6—8 hari ke sawah.

Umur bibit itu relatif mudah dibandingkan dengan kebiasaan petani lain yang menanam bibit berumur 20—30 hari. Cuncun menanam bibit dengan mesin penanam alias transplanter. Pengaturan jarak tanah pun dengan mesin conveyable untuk mencegah bibit tumpang tindih dan lubang kosong. Cuncun menghabiskan 300 kg pupuk per hectare terdiri atas 60—70 kg Urea, 100—150 kg SP-36, dan 100 kg KCl.

Baca juga:  Tingkatkan Produksi 300%

Pemupukan tiga kali, yakni pada 3—4 hari setelah tanam, 20 hari setelah membersihkan rumput, dan terakhir ketika tanaman berumur 40—45 hari. “Ketika tinggi dan warna tanaman sudah tercapai, ia menghentikan pemberian Urea. Pemakaian pupuk sumber nitrogen berlebihan membuat warna daun cenderung hijau gelap, bukan hijau muda. Tanaman lebih rentan terserang hama atau penyakit.

Pestisida alami

Mekanisasi di lahan padi sangat efisien.

Mekanisasi di lahan padi sangat efisien.

Dua tahun terakhir curah hujan tinggi mencapai 3.500—4.000 mm per tahun. Kondisi itu membuat kemarau hanya dua bulan dalam setahun. Ketiadaan kemarau membuat tanaman padi terserang penyakit kresek dan blast. Untuk mengatasinya Cuncun memperdalam parit pengendaliaan banjir. Itu dimaksudkan untuk mencegah berkembangbiaknya tikus lantaran saat parit dialiri air, lobang sarang akan terendam.

Semula Cuncun tidak mempercayai organik untuk mencegah hama padi. Ia memakai beberapa macam pestisida berbahan aktif sipermetrin dan dimenipo. Namun, penyemprotan hingga lima kali menyebabkan tanaman padi tidak tahan dan berubah menjadi kuning. “Padi tidak boleh terlampau banyak disemprot pestisida. Bukannya jadi bagus padi malah bisa mati. Saya pernah menyemprotkan sepuluh kali, sampai padinya mati,” katanya.

Ïa pernah mencoba bermacam-macam pestisida, jumlahnya bisa mencapai puluhan merek tetapi tak ada yang sembuh. Bahkan menyebabkan tanaman mati. Ternyata tanaman sembuh berkat Corynebacterium diphtheriae dan trichoderma,” tururnya. Corynebacterium diphtheriae menjaga daun dan leher padi, sedangkan trichoderma menjaga batang. Ia juga menggunakan musuh alami berupa cendawan Beauveria bassiana dan metarhizium untuk mengatasi hama gigit isap.

Cuncun Wijaya selama 8 tahun terakhir fokus kembangkan padi.

Cuncun Wijaya selama 8 tahun terakhir fokus kembangkan padi.

Beauveria bassiana dan metarhizium membuat hama hangus terbungkus cendawan lengket di tanaman padi. Ia melarutkan 10 gram Beauveria bassiana per liter air. Penyemprotan sekali dalam 10—20 hari, tergantung cuaca dan keadaan. Ketika cuaca terang, ia hanya menyeprotkan cukup 1 kali saja, sehingga ketika hujan Beauveria bassiana sudah menempel dan berbiak di daun padi. Pria berkacamata itu menuai rata-rata 5,5—6,4 ton gabah kering panen per hektare.

Baca juga:  Biaya Panen Hemat 80%

Dalam sekali penanaman, Cuncun lazimnya di lahan 60 hektare. Itulah sebabanya sekali panen pun di luasan lahan yang sama. Dengan produksi rata-rata 5 ton saja, ia memetik total 300 ton. Ia memasarkan padi hasil panen dengan harga Rp4.300 per kg. Ayah 2 anak itu membuktikan bahwa menanam padi tetap menguntungkan.

Sebab, biaya produksi meliputi sewa lahan, bibit, pupuk,pestisida, dan tenaga kerja hanya Rp20-juta per ha. Pantas jika Cuncun memperluas lahan penanaman padi. Pada tahun pertama, ia hanya menanam padi di lahan 20 ha, kemudian memperluas menjadi 60 ha pada 2012. Ia juga berencana memperluas lahan. (Risty Mirsawati)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d