Drone Penyemprot Pestisida

Menyemprotkan pestisida di lahan 1 ha hanya 20 menit.

Mekanisasi pertanian dapat mendukung budidaya pertanian modern.

Mekanisasi pertanian dapat mendukung budidaya pertanian modern.

Untuk mencegah serangan hama, Edi Istanto mempekerjakan tetangganya untuk menyemprotkan insektisida ke lahan padi seluas 21 hektare. Seorang pekerja yang menggunakan tangki manual berkapasitas 15 liter, hanya mampu menyemprot lahan seluas 2 ha dalam sehari. Artinya untuk menyemprotkan insektisida di lahan 21 ha, seorang pekerja memerlukan 11 hari. Edi mengeluarkan biaya tenaga kerja cukup besar.

Drone atau wahana dapat dimanfaatkan untuk menyemprotkan pestisida atau pupuk cair.

Drone atau wahana dapat dimanfaatkan untuk menyemprotkan pestisida atau pupuk cair.

Itulah sebabnya, petani di Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat, itu beralih menggunakan penyemprot dengan pompa listrik. Setelah beralih ke tangki berpompa listrik waktu penyemprotan memang lebih cepat hingga 2 kali lipat, yakni 6 hari. Walau demikian penyemprotan menggunakan tenaga manusia mempunyai berbagai kendala, antara lain tidak meratanya penyemprotan ke seluruh bagian tanaman dan waktu yang relatif lama.

Efektif
Selain itu kedalaman lumpur di lahan persawahan juga menjadi penghambat bagi pekerja saat menyemprotkan insektisida. Edi yang membudidayakan padi sejak 2010 itu akhirnya menerima saran Benny Halim untuk memanfaatkan wahana atau drone. Benny Halim perancang wahana penyemprot menawarkan uji coba penyemprotan pestisida di lahan milik Edi pada Juni 2015.

Untuk menyemprotkan insektisida di lahan 1 ha, wahana milik Benny hanya membutuhkan waktu kurang dari 20 menit. Penyemprotan pun lebih merata. Sebab, hasil semprotan dari sprayer mendapat tambahan dorongan dari baling-baling wahana sehingga mampu mencapai permukaan lahan pertanian tanah—biasanya menjadi lokasi hama wereng. Selain itu kondisi lumpur di lahan pertanian tidak menjadi persoalan lagi.

Drone dikendalikan menggunakan aplikasi komputer.

Drone dikendalikan menggunakan aplikasi komputer.

Dari hasil uji coba wahana untuk penyemprotan insektisida itu Edi merasa puas. Menurut ayah 4 anak itu penggunaan wahana sangat efektif, mampu memangkas waktu. Menurut Benny Halim, pembuatan wahana terinspirasi dari luasnya lahan pertanian di Indonesia. Namun, masih banyak petani yang mengelola lahan pertanian khususnya penyemprotan pestisida dan pupuk daun secara manual sehingga kurang efektif.

Baca juga:  Bayam Rambat Gizi Hebat

Selain itu risiko petani terpapar pestisida menjadi sangat besar. Kondisi itu mendorong Benny untuk merancang dan membuat wahana untuk penyemprotan pestisida dan pupuk yang dapat dikendalikan dari jarak jauh. Ia menggunakan bahan yang kuat dan ringan untuk membuat wahana. Bagian rangka tersusun dari serat karbon dan alumunium. Bagian baling-baling dari serat karbon dan tangki penampungan dari plastik.

Pesawat tanpa awak itu memiliki sebuah tangki untuk menampung pestisida atau pupuk berkapasitas 5 liter. Wahana mempunyai 6 baling-baling atau heksadrone. Sebagai sumber daya, Benny memanfaatkan baterai yang mampu mengoperasikan wahana selama 10—15 menit. Baterai dapat diisi ulang. Perancang wahana, Suwandika Halim, mengatakan bahwa mesin dengan bobot kosong 7,5 kg itu dioperasikan secara manual menggunakan pengendali jarak jauh.

Benny Halim merancang wahana atau drone penyemprot pestisida dan pupuk cair.

Benny Halim merancang wahana atau drone penyemprot pestisida dan pupuk cair.

Benny juga melengkapi wahana itu dengan sistem penunjuk lokasi atau Global Positioning System (GPS) sehingga dapat dioperasikan dengan sistem pilot otomatis. Sistem penunjuk lokasi itu bekerja dengan panduan GPS sesuai dengan peta lahan dan jalur yang ditentukan saat pengaturan sebelum wahana dioperasikan. Petani yang akan memanfaatkan wahana itu harus mengatur peta lokasi, jalur penyemprotan, dan kecepatan terbang.

Selain itu petani juga perlu mengatur ketinggian terbang, volume pestisida yang disemprotkan, dan ukuran butiran penyemprotan. Bila saat beroperasi terdeteksi larutan pestisida habis atau daya baterai lemah, maka secara otomatis wahana kembali ke titik awal penerbangan. Setelah pengisian ulang, wahana kembali ke titik terakhir penyemprotan dan melanjutkan ke rute selanjutnya sehingga tidak terjadi pengulangan pada titik yang sama.

Lantaran wahana dilengkapi perangkat pilot otomatis dan sistem operasi, harga 1 unit wahana relatif tinggi yaitu mencapai Rp220-juta. Menurut Edi wahana akan ekonomis bila digunakan untuk luasan di atas 100 ha. Petani yang lahannya berdekatan dapat berkelompok sehingga penyemprotan lebih efisien. Benny mengatakan wahana tidak dapat menyemprotkan pestisida atau pupuk granular dan serbuk.

Penyemprotan pestisida secara manual membutuhkan waktu lebih lama.

Penyemprotan pestisida secara manual membutuhkan waktu lebih lama.

Menurut dosen mekanisasi pertanian Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, Budi Frasetya STP MP, teknologi wahana untuk pertanian di Indonesia sebenarnya banyak dikenal. Namun, kurang populer karena perangkatnya yang mahal. Meski begitu Budi mengakui kelebihan penggunaan wahana dapat melakukan penyemprotan dengan waktu yang lebih cepat dan rata. Penyemprotan harus memperhatikan waktu. Bila terlalu siang, biasanya angin akan lebih besar.

Baca juga:  Cabai Suplemen Pleci

Aplikasi wahana bermanfaat untuk daerah yang tiupan anginnya tidak terlalu besar, misalnya di dataran rendah. Menurut Budi dengan sistem komputerisasi, dapat lebih efektif karena mengurangi pengulangan pada daerah yang sudah di semprot. Wahana efektif digunakan untuk penyemprotan pestisida dan pupuk daun karena posisi terbangnya yang berada di atas permukaan tanaman.

Wahana juga sudah diuji coba dalam penyemprotan pestisida di beberapa daerah antara lain Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi, Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, dan Kecamatan Pamanukan, Kabupaten Subang—semua di Provinsi Jawa Barat. Menurut Benny, petani sangat berminat menggunakan wahana setelah melihat presentasi. (Muhammad Awaluddin)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d