Eka Budianta*

Eka Budianta*

Tubuhnya pendek, gempal, berkulit halus, punggungnya agak bungkuk.  Itulah makhluk tanpa ekor– katak dan kodok –  satwa kesayangan Presiden Joko Widodo. Mengapa satwa amfibi yang tergolong ordo Anura (an berarti tanpa dan oura berarti ekor) ini perlu dicintai? Karena kodok memberi inspirasi dan menyegarkan otak. “Nyanyiannya menenteramkan, membuat tidur nyenyak,” kata Jokowi.

Lebih dari itu kodok berperan secara ekologis dan ekonomis.  Namun, yang menarik, juga punya peran sosial dan mendidik. Anura bertubuh pendek, kakinya panjang, tenaganya luar biasa.  Katak bisa meloncat, bahkan terbang berkali-kali lebih jauh daripada ukuran tubuhnya. Pantaslah kita sering melihat presiden Jokowi memelihara ratusan anura di seputar kolam Istana Bogor.

Ternak kodok
Suara katak pada malam sunyi membuat hidup terasa lebih murni, natural, menyatu dengan alam semesta.  Katak adalah mata rantai kehidupan. Eksistensinya menghubungkan makhluk kecil (insekta, serangga, cacing) dengan reptil, burung, bahkan mamalia termasuk manusia. Jangan heran, kodok raksasa di Amerika utara bisa menelan tikus dan anak kura-kura. Kita paham anura melahirkan berbagai legenda dan keajaiban.

Ada pangeran katak, lagu-lagu dan lelucon katak, bisa hidup di air dan di darat (amfibi). Ada mitologi, katak bisa membunuh dewa di pantai barat Amerika. Ada serial televisi Kermit si kodok bermahkota, yang lucu sekali. Suku-suku Indian di Amerika punya banyak tarian katak.  Mereka percaya katak berkhasiat sebagai obat, bisa memperpanjang usia.  Ada mitos kodok emas di Panama, lambang kesuburan, kemakmuran, dan hidup abadi setelah kematian.

Kodok lembu sumber pedaging potensial.

Kodok lembu sumber pedaging potensial.

Pernahkah melihat patung kodok gendut di depan pintu? Anura diyakini giat menelan uang logam di hari Imlek, tahun baru. Yang paling jelas kita mengenal banyak peribahasa berbasis katak.  Mulai dari bagai katak di bawah tempurung, katak hendak jadi lembu, sampai katak tidak meminum habis air di kolamnya. Buku-buku tentang kodok pun ada dalam berbagai bahasa, karena keluarga anura memang hidup di seluruh muka Bumi.

Baca juga:  Lengkeng: Panen 2 Kali Lebih Banyak

Ada katak beracun di hutan tropis, sampai katak di kawasan bersalju dan padang gurun. Ensiklopedia Britanika mencatat ada sekitar 4.500 spesies kodok dan katak di muka Bumi.  Dari jumlah itu ada 15—20 jenis yang disukai manusia.  Indonesia dikenal memproduksi 4 spesies kodok untuk konsumsi dunia. Keempat jenis itu adalah kodok hijau Rana macrodon; kodok sawah Rana cancrivora; kodok rawa  Rana limnocharis, dan kodok batu Rana musholini.

Kodok batu paling enak meskipun paling kecil, berukuran hanya 8 cm; dari Sumatera Barat, paling besar mencapai bobot 1,5 kg sepanjang 22 cm. Siapakah penyuka swie kee–artinya ayam air—alias paha kodok itu?  Penggemar kaki kodok goreng yang paling terkenal saat ini adalah Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama. Fotonya sedang mengunyah daging kodok pernah ditampilkan koran The Guardian, ketika “mantan anak Betawi” berkunjung ke Perancis.

Mengapa? Karena satu generasi yang silam Perancis pernah mengeluarkan larangan untuk mengonsumsi kodok.  Alasannya, perburuan kodok membuat keluarga anura itu nyaris punah.  “Susah sekali menemukan kodok di Perancis,” kata para pencinta lingkungan waktu itu. Nyatanya sampai sekarang, konsumsi kodok di Eropa tak pernah berkurang.  Satu importir Perancis  bisa melanggan 7 ton kaki kodok dari Indonesia setiap tahun.

Khasiat kodok
Memang, pada 1970-an Indonesia termasuk pemasok kaki kodok beku nomor tiga terbesar setelah India dan Bangladesh.  Hingga 2012, kiriman kaki kodok ke Belgia, dari Sumatera Utara saja mencapai lebih dari 200 ton.  Sumatera Utara termasuk sentra kodok untuk diekspor ke Singapura, Hongkong, dan Eropa. Badan Pusat statistik mencatat ekspor kodok Indonesia mencapai 3.500 ton dengan nilai penjualan US$18,49-juta.

Musim ekspor kaki kodok biasanya berlangsung antara Januari—Juli. Maklum saja, produksi kodok biasanya melimpah pada musim hujan. Untuk menjaga konsistensi pasokan kodok, Indonesia mendatangkan bibit-bibit impor kodok lembu–buffrog dari Jepang, Taiwan, dan Amerika Serikat. Saya ingat meliput kedatangan selusin indukan kodok di Institut Pertanian Bogor pada 1984 untuk surat kabar Yomiuri Shimbun.

566_-59-1

Katak hias, jari-jari khas untuk menempel dan bertungkai panjang.

Sekarang, sentra peternakan kodok menyebar ke Bali, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah (Klaten), dan Jawa Timur, khususnya Pujon, Malang yang terletak di pegunungan. Selain memasok kebutuhan protein hewani, daging kodok juga mengandung kalori tinggi, yatu 73 kkal per 100 gram. Khasiat untuk kesehatan yang paling awal untuk mempercepat penyembuhan luka.

Baca juga:  Sudah Gurih, Harum Pula

Dari sini diharapkan daging kodok juga bisa membantu para penyandang diabetes mellitus.  Namun, yang paling umum daging kodok diyakini berperan menolong penderita asma dan mengurangi bronkhitis. Tentu ada juga kalangan yang keberatan dan menghindari mengonsumsi daging kodok. Alasan yang paling menonjol adalah khawatir mengandung kuman dan cacing, terutama bila memasaknya tidak benar.

Selain itu, disadari banyak jenis katak beracun. Terutama hasil untuk hasil buruan, hal itu sering dipertanyakan.  Kaum pencinta lingkungan khawatir, banyak katak dan kodok semakin cepat punah bila dikonsumsi. Pemasyarakatan kolam kodok pernah gencar pada saat terjadi krisis moneter 1998.  Beberapa teman di Bogor memberi contoh membuat kolam-kolam sederhana, dengan ditanami kangkung dan ditutup kawat kasa.

Ada juga yang melepasbebaskan kodok dalam rumah.  Sayang, banyak yang mati karena terjepit pintu.  Rupanya Negara perlu memberi panduan bagaimana mencintai dan mengembangan  keluarga Anura dengan benar. Presiden Jokowi memberikan contoh sejak menjadi gubernur Jakarta dan menghuni rumah dinasnya di kawasan Menteng. Tiba saatnya kita melompatkan budidaya kodok dari perspektif agribisnis.***

*) Budayawan, kolumnis Trubus sejak 2001, aktivis Tirto Utomo Foundation dan kebun organik Jababeka, Cikarang. 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d