Peranti khusus untuk menyajikan gyokuro

Peranti khusus untuk menyajikan gyokuro

Bagi masyarakat Jepang minum teh mengandung sejumlah filosofi, yakni wa, ke, sai, dan jaku. Wa artinya harmoni, ke rasa hormat, sai ketulusan, dan jaku ketenangan. Ketulusan di antaranya diejewantahkan dalam cara tuan menyajikan teh buat tamu dan menyediakan peranti terbaik untuk tamu. Untuk menikmati gyukuro, misalnya, menggunakan gyukuro set terdiri atas kyushu (mangkuk)—bentuknya khas seperti gagang gayung, yuzamazi (pendingin), dan chawan (gelas teh). 

Cingpai topi haji dari abad ke-8, kini bernilai Rp200-juta

Cingpai topi haji dari abad ke-8, kini bernilai Rp200-juta

Pemilik kedai teh di Bogor, Jawa Barat, Bambang Laresolo menyajikan gyukoru untuk Trubus menggunakan perangkat itu. Mula-mula ia menuang air mendidih ke dalam mangkuk. Lalu mendinginkan ke dalam yumazi, baru menuang ke chawan. Barulah ia masukkan gyukuro. “Tunggu beberapa saat, baru minum,” tutur Bambang. Suhu terbaik untuk menyeduh gyokuro yakni 50—60°C.

Seremoni minum teh beragam, tergantung tujuan dan musim. Obong, misalnya, untuk upacara teh yang tidak terlalu formal, bisa kapan saja, tidak tergantung musim, bisa di luar ruangan karena peralatan seperti ketel mudah dibawa. Otsuno lebih formal karena menggunakan furo yakni pemanas khusus seperti kuali dan untuk mengambil airnya menggunakan gayung khusus.

Chanoyu alias upacara minum teh mengadopsi budaya serupa dari negeri leluhur teh, Cina. Menurut kolektor teh di Jakarta, Dr Boedi Mranata, upacara minum teh berkembang di Asia Timur yakni Cina, Jepang, dan Korea serta negara-negara yang memiliki komunitas keturunan Tiongkok, misal di Indonesia. “Di Asia secara keseluruhan teh sudah menjadi tradisi,” tutur Boedi.

Boedi Mranata, kolektor teh di Jakarta

Boedi Mranata, kolektor teh di Jakarta

Sama seperti di Jepang, upacara minum teh di Tiongkok memiliki aturan main, misal pemilihan perangkat. Boedi mengoleksi peranti teh dari Dinasti Tang abad ke-8. Cawan itu berwarna putih kebiru-biruan, disebut cingpai. Cingpai terbaik pada masa itu dibuat dari kota industri keramik, Zengdechen. Cingpai berbentuk menyerupai topi haji yang dimiliki Boedi kini bernilai Rp200-juta karena termasuk barang antik.

Baca juga:  Beras Tanpa Kutu

Menurut Boedi untuk menikmati teh yang paling enak dengan menyeduhnya di dalam yizing, yakni peranti dari tanah liat khusus berwarna ungu tua. “Sebab bau teh tidak hilang, bau tanah dan teh berpadu menjadi bau yang disukai,” tutur pencinta lingkungan itu. Setelah pakai, yizing tidak perlu dicuci dengan sabun, cukup dibilas saja untuk mempertahankan citarasa teh. (Evy Syariefa)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d