Ceruk Bisnis Buncis Perancis 1
Permintaan ekspor buncis perancis naik 10—20% per tahun

Permintaan ekspor buncis perancis naik 10—20% per tahun

Pasar ekspor dan domestik mencari buncis perancis bersosok mini. Permintaan tinggi dan cenderung meningkat.

Cemoohan itu datang bertubi-tubi ketika Pitoyo Ngatimin hendak menanam buncis perancis. “Tidak usah menanam yang neko-neko (macam-macam, red),” ujar rekan Pitoyo, petani di Desa Bantur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, menirukan cemoohan rekan-rekannya. Bagi masyarakat desa itu buncis perancis memang komoditas baru. Mereka turun-temurun menanam beragam sayuran seperti brokoli, wortel, dan kentang. Namun, Pitoyo teguh menanam Phaseolus vulgaris itu. Kini ia dan kelompok tani Tranggulasi rutin menanam buncis perancis di lahan 4,8 ha.

Penanaman buncis perancis di lereng Gunung Merbabu ditumpangsarikan dengan beragam komoditas

Penanaman buncis perancis di lereng Gunung Merbabu ditumpangsarikan dengan beragam komoditas

Sebagai ketua kelompok tani, Pitoyo mengatur penanaman dengan interval sehari agar rutin panen 1.500 kg buncis setiap pekan. Dari total 1.500 kg produksi per pekan, 80% atau 1.200 kg termasuk kelas A, 15% (225 kg) termasuk kelas B, dan 5% (75 kg) tidak lolos seleksi. Harga jual buncis perancis di tingkat pekebun kini mencapai Rp9.000 per kg kualitas A dan Rp4.000 per kg kualitas B. Eksportir di di Semarang, Provinsi Jawa Tengah, menerima dua kriteria buncis itu sehingga omzet Pitoyo dan kelompok tani minimal Rp11.700.000 per pekan atau Rp54-juta sebulan.

Lahan kecil
Adapun 5% buncis yang tak lolos seleksi setara 75 kg dijual ke pasar tradisional Rp2.000—Rp3.000 per kg. Perusahaan eksportir menghendaki buncis mini berukuran 10—15 cm, belum berbiji, utuh, dan tanpa cacat untuk kelas A. Sementara buncis kelas B berukuran 15 cm lebih tanpa cacat. Selama ini Pitoyo dan rekan mampu memenuhi standar mutu itu. Produksi hingga 1,5 ton itu baru mencukupi separuh dari total permintaan yang mencapai 3 ton sepekan. “Permintaan belum tercukupi karena kapasitas lahan setiap petani sedikit,” kata petani itu. Luas lahan para petani di desa itu berkisar 2.000—3.000 m².

Dari total panen, 80% masuk kualitas A dengan spesifikasi panjang 10—15 cm, belum berbiji, tidak cacat, dan mulus

Dari total panen, 80% masuk kualitas A dengan spesifikasi panjang 10—15 cm, belum berbiji, tidak cacat, dan mulus

Dari lahan 3.000 m² petani menanam 15.000 bibit yang berbuah perdana pada umur 45 hari setelah tanam. Total produksi di lahan itu mencapai 1.800 kg. Petani masih mungkin meningkatkan produktivitas. Dadang M Rinaldy, pekebun buncis di Lembang, Bandung Barat, misalnya, sanggup menghasilkan 200 kg buncis mini atau 800 kg buncis dewasa dengan benih sekilogram. Itu hasil budidaya di lahan 300 m2. Prouksi rata-rata petani hanya 100 kg buncis mini atau 400 kg buncis dewasa dari luasan lahan sama.

Rinaldy membuat bedeng 80 cm x 100 cm x 50 cm. Ayah 4 anak itu memisahkan antarbedengan lebih besar, 50 cm—petani lain 20 cm. Dampaknya populasi memang turun hingga 50%. Namun, dengan jarak tanam yang lebar itu membuat oksigen yang diterima tanaman lebih lancar sehingga pertumbuhan menjadi maksimal. Akibatnya produksi pun meningkat. Meski populasi berkurang, produktivitas jauh lebih unggul.

Menurut Pitoyo, pasokan buncis perancis dari kelompok taninya untuk memenuhi pasar ekspor ke Singapura dan Malaysia. “Hanya sedikit untuk pasar lokal atau sekitar 10%,” kata Pitoyo. Pekebun di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Ulus Pirmawan bersama mitranya mampu memasok 1 ton per hari. Pasokan itu meningkat ketimbang tahun-tahun sebelumnya yang hanya 550 kg per hari. Ulus dan pekebun mitra memasok sayuran polong anggota famili Fabaceae itu ke eksportir di Bandung, Jawa Barat.

Sementara Setyo Agus Sutaat di Temanggung, Jawa Tengah, bermitra dengan 3 petani untuk mengebunkan buncis perancis di lahan 1 hektar. Agus memanen 25—30 kg buncis setiap hari—termasuk Ahad. Dalam sepekan ia 7 kali panen dan menjualnya ke PT Bumi Sari Lestari. Dengan harga Rp10.000 per kg omzet Agus Rp1.750.000 sepekan atau Rp7-juta sebulan. Permintaan yang masuk sejatinya cukup besar, sayang belum terpenuhi. Menurut Agus permintaan belum terpenuhi mencapai 250 kg per 2 hari.

Buncis perancis mini dipetik 10—15 hari pascabunga

Buncis perancis mini dipetik 10—15 hari pascabunga

Tren lagi
Dua tahun terakhir komoditas buncis perancis memang kembali marak. Banyak pekebun di berbagai daerah membudidayakan buncis perancis karena permintaan ekspor dan pasar lokal. Pitoyo ingat betul, pada 2004 petugas dari eksportir sayuran menawarkan kerja sama dengan kelompok tani Tranggulasi yang ia pimpin. Perusahaan itu memberikan bantuan benih dan mulsa. “Yang spesial, mereka membeli hasil panen kami dan menjanjikan harga tinggi dan stabil,” ujarnya. Hal itu tak pernah terjadi sebelumnya di Desa Batur.

Baca juga:  Gempur Batu Ginjal

Perusahaan itu membeli haricot—sebutan buncis di Perancis, hasil panen Kelompok Tani Tranggulasi Rp2.500 per kg. Harga buncis biasa saat itu Rp500—Rp1.000 per kg. Perusahaan juga memberikan penyuluhan cara menanam buncis perancis dan cara memanennya. Kerja sama dengan eksportir itu berakhir pada akhir 2004 karena kesalahpahaman. Namun ia tak patah arang. Ia tetap mencari pasar secara mandiri untuk menjual buncis perancis. Ia memasarkan ke swalayan-swalayan di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Pitoyo Ngatimin setia menanam buncis sejak 2004

Pitoyo Ngatimin setia menanam buncis sejak 2004

Pada 2009, datang lagi eksportir yang menerima hasil panen Pitoyo dan anggotanya. Tiga eksportir itu adalah PT OG Fresh, PT Liye Wil, dan PT Grenlen yang mengekspor buncis ke Singapura dan Malaysia hingga kini. Sejatinya buncis perancis bukan komoditas baru di Indonesia karena para pekebun di Kabupaten Bandung sudah menanamnya pada 1990-an. Peneliti buncis dari Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), Lembang, Bandung, Jawa Barat, Ir Diny Djuariah, mengatakan buncis perancis merupakan buncis bertipe tegak introduksi dari Perancis.

Pada 2011, Balitsa merilis buncis-buncis bertipe tegak dengan berbagai keunggulan seperti produktivitas tinggi dan adaptif. Salah satunya adalah balitsa 2 yang diintroduksi dari Perancis. Keunggulannya adaptif di dataran rendah hingga 200 meter di atas permukaan laut (m dpl). “Benih balitsa 2 sudah tersebar ke berbagai daerah di antaranya Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Medan,” ujar Diny.

Panen muda
Para pekebun seperti Pitoyo, Ulus, dan Agus memanen buncis perancis pada umur 10 hari sejak mekar bunga. Itulah sebabnya buncis perancis acap disebut buncis mini. Bandingkan dengan buncis biasa yang baru panen 21 hari pascaberbunga. Pitoyo membudidayakan buncis perancis mini hingga 3 kali siklus dalam setahun. Satu siklus penanaman berlangsung 45—50 hari. Pekebun kelahiran 2 Oktober 1967 itu mengatakan pada penanaman pertama biaya produksi mencapai 70% dari omzet. Biaya produksi relatif besar pada penanaman perdana karena petani mesti menyediakan mulsa, pupuk kandang, dan biaya sewa lahan.

Buncis mini digemari karena rasanya yang manis dan bertekstur renyah

Buncis mini digemari karena rasanya yang manis dan bertekstur renyah

Sementara pada penanaman ke-2 dan ke-3 biaya produksi hanya 10% dari omzet. “Pada penanaman ke-2 dan ke-3 hanya menambahkan biaya benih, tenaga kerja, pupuk dan insektisida,” ujarnya. Pada penanaman ke-2 dan ke-3 pekebun tak membeli mulsa, pupuk kandang. Para petani membudidayakan buncis perancis secara organik. “Pupuk dan pestisida dari bahan-bahan alam,” ujar Pitoyo. Selain baik untuk kesehatan, biaya produksinya juga tergolong murah. Untuk pupuk, ia dan para petani lain hanya menggunakan pupuk kandang dan pupuk organik cair (POC) mengandung probiotik seperti Lactobacilus sp dan Rhizobium sp.

Pekebun juga memberikan nutrisi makro maupun mikro yang dibutuhkan tanaman seperti unsur nitrogen, fosfor, kalium, dan magnesium bersumber dari POC itu. Sementara untuk mengatasi serangan hama dan penyakit, petani menyemprotkan insektisida organik berbahan biji bengkuang. Biaya produksi pestisida nabati tergolong murah, Rp3.000 per liter. “Untuk lahan seluas 1.000 m2, dalam sekali siklus produksi hanya membutuhkan 12 liter atau senilai Rp36.000. Praktis tak ada aral berarti dalam proses budidaya,” ujar Pitoyo.

Pilihan berkebun buncis tegak sangat tepat. Menurut Pitoyo budidaya buncis perancis lebih hemat karena sosok tanaman tegak, tidak merambat. Artinya ia tak perlu menyediakan ajir untuk rambatan. Biaya pengadaan ajir bambu setinggi 2,5—3 m saat ini Rp1.000. Di luasan 1 hektar petani lazimnya menanam 30.000 bibit sehingga memerlukan 30.000 ajir seharga total Rp30-juta. Karena tanpa ajir petani buncis perancis tak perlu mengeluarkan biaya itu. Selain itu waktu berbunga serempak sehingga memudahkan panen buncis mini. Buncis perancis juga genjah, panen lebih cepat antara 35—42 hari setelah tanam; buncis rambat, 60—90 hari.

Baca juga:  Andalan Baru Trio Cursina

539_ 43

Hambatan
Menanam buncis perancis saat ini memang menguntungkan. Namun, beragam hambatan sebetulnya siap menghadang. Pitoyo mengatakan ketersediaan benih berkualitas amat terbatas. Kualitas benih rendah menyebabkan produksi juga rendah. Pekebun 47 tahun itu mengatakan, produktivitas buncis perancis idealnya mencapai 750 kg per 1.000 m2. “Karakter tanaman produksi jika dibenihkan lagi akan menurun kualitas maupun kuantitasnya,” ujar alumnus Agronomi, Universitas Tunas Pembangunan, Surakarta, Jawa Tengah, itu.

Diny Djuariah menuturkan, kondisi itu wajar terjadi. Hal itu karena biasanya pada tanaman buncis untuk produksi tidak dilakukan beragam seleksi standar benih unggul di antaranya tidak dilakukannya roguing atau pencabutan tanaman yang keluar dari karakter, kondisi lahan yang tak steril dengan buncis jenis lain. Namun untuk mengatasi kendala itu, Balitsa sudah menyediakan beragam benih buncis baik yang bertipe tegak atau merambat.

Hambatan lain adalah waktu panen. Buncis perancis menuntut pekebun disiplin. Jika panen telat sehari saja, maka pasar menolak karena ukuran polong lebih besar. Jika selama ini petani memetik tanaman yang berasal dari Meksiko selatan itu pada umur 50 hari setelah tanam (HST), mereka mesti memajukan 5 hari jadwal panen. Hambatan lain adalah cepatnya buncis layu dan teknik panen yang dilakukan harus teliti. Jika mampu melampaui beragam aral, pekebun bakal memperoleh laba dari berniaga buncis perancis yang permintaannya terus membubung.

Hambata Buncis

Hambatan Buncis

Eksportir buncis perancis, PT Alamanda Sejati Utama, rutin mengirimkan 600 kg buncis perancis ke Singapura per hari. Menurut Ganggan Megantara dari PT Alamanda Sejati Utama permintaan negeri jiran itu sesungguhnya mencapai 800 kg per hari. Menurut Ganggan permintaan buncis mini terus naik. “Rata-rata sekitar 10—20% peningkatannya per tahun,” ujarnya. Perusahaan itu menjalin kemitraan dengan para petani di Jawa Barat untuk menjaga kesinambungan ekspor.

Dadang M Rinaldy dan sang istri Ratna Widiatini membina 15 petani untuk memenuhi permintaan buncis yang terus meningkat

Dadang M Rinaldy dan sang istri Ratna Widiatini membina 15 petani untuk memenuhi permintaan buncis yang terus meningkat

Pasar lokal
Selain pasar ekspor, pasar domestik juga menerima buncis perancis. Wahyudin dari CV Bukit Organik, pemasok sayuran-sayuran organik di Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, mengungkapkan buncis menempati urutan ke-3 dari 30 sayuran organik yang disediakan. “Kapasitas produksi mencapai 50—100 kg per hari dengan harga Rp16.000 per kg,” ujar Wahyudin. Perusahaan itu rutin memasok sebuah pasar swalayan. Menurut Wahyudin, karena Bukit Organik hanya memasok ke satu tempat sehingga permintaan dan harga relatif stabil dari tahun ke tahun.

Kostaman, pemasok buncis mini di Lembang, Bandung juga kwalahan memenuhi permintaan. Ia rutin memasok 300 kg buncis per pekan ke pasar swalayan di Jakarta. Padahal, permintaan mencapai 500 kg per pekan. Ia membeli buncis dari petani dengan harga Rp12.000 dan menjual ke pasar swalayan Rp17.500. Artinya keuntungan kotor pemasok sayuran sejak 14 tahun silam itu Rp5.500 per kg. “Keuntungan itu belum termasuk biaya transportasi,” ujar Pria kelahiran 1971 itu. Menurutnya harga buncis mini tak pernah turun, yang ada terus meningkat.

Permintaan tinggi dan belum tercukupi menyebabkan harga buncis perancis cenderung meningkat. “Harga tidak pernah turun yang ada malah naik terus,” ungkap Pitoyo. Pada 2004, harga buncis perancis mini di tingkat petani Rp2.500 per kg. Pada 2009 naik Rp2.000 rupiah menjadi Rp4.500 per kg. Pada 2010 awal, harga naik menjadi Rp5.500 per kg, 3 bulan kemudian naik lagi menjadi Rp 6.500 per kg. Harga naik lagi pada 2011 awal Rp8.000 per kg lalu naik lagi pada akhir 2011 menjadi Rp9.000—Rp10.000 per kg, dan bertahan hingga sekarang.

Setelah berhasil membudidayakan dan memasarkan buncis perancis, jumlah anggota kelompok tani Tranggulasi bertambah dari 20 petani menjadi 50—an petani. “Karakter petani memang seperti itu, baru mau ikut kalau sudah ada bukti,” kata Pitoyo Ngatimin. (Bondan Setyawan/Peliput: Riefza Vebriansyah dan Rizky Fadhilah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *