Cabai dapat tumbuh dengan subur pada sistem hidroponik.

Cabai dapat tumbuh dengan subur pada sistem hidroponik.

Para pekebun dan pehobi mengembangkan hidroponik untuk beragam sayuran buah dan bunga. Hidroponik solusi jitu untuk memenuhi kebutuhan sayuran yang makin tinggi.

Perempuan separuh baya itu memperlambat jalannya. Ia menghampiri tanaman cabai yang tumbuh di pipa polivinil klorida tengah berbuah lebat. “Saya kira tanaman plastik,” katanya kepada penjaga kantor Majalah Trubus. Matanya mengamati buah cabai katokkon yang ranum itu. Selama ini pekebun tak lazim membudidayakan tanaman anggota famili Solanaceae itu tak dengan teknologi hidroponik nutrient film technique.

Teknologi yang menekankan aliran nutrisi setipis film itu lazim untuk budidaya komoditas daun seperti bayam, kangkung, dan selada. Jika ada pekebun yang menanam sayuran buah seperti mentimun gerkin atau paprika dengan hidroponik, itu pun berupa hidroponik substrat. Itulah sebabnya hidroponik cabai menarik perhatian masyarakat. Sejatinya teknik budidaya nirtanah itu memungkinkan pekebun untuk menanam sayuran tanpa khawatir ketersediaan lahan.

Nutrisi jadi kunci

Hidroponik jawaban terhadap keterbatasan lahan dan air bersih. Penanaman sayuran buah seperti cabai secara konvensional menghabiskan lebih dari 10 liter air per tanaman untuk berbuah. Dengan hidroponik, kebutuhan air dalam budidaya tanaman kurang dari separuhnya, hanya 4 liter. Penerapan teknologi hidroponik memungkinkan produktivitas melonjak signifikan. Pakar hidroponik di Jakarta, Ir. Yos Sutiyoso, mengklaim bahwa sayuran hidroponik lebih sehat.

“Tanaman tidak terkontaminasi kuman penyakit dari tanah sehingga lebih higienis,” kata alumnus Institut Pertanian Bogor itu. Namun, yang lebih penting kandungan nutrisi sayuran hidroponik lebih lengkap. Dengan hidroponik tanaman memang bisa lebih baik bagi kesehatan. Tanaman tidak kontak langsung dengan tanah. Itu mengurangi risiko masuknya bibit penyakit dari tanah. Pasalnya, “Kebanyakan masalah kesehatan berasal dari luar tanaman,” kata Yos Sutiyoso.

Baca juga:  Mereka Terpikat Parkit

Kalau ditanam di tanah, ketika hujan turun, tanaman berisiko terkena cipratan air bercampur tanah yang mungkin saja mengandung bibit penyakit. Hujan juga membawa spora penyakit dari udara. Pada pertanaman hidroponik—misalnya sistem NFT—permukaan media ditutup mulsa plastik. Spora jatuh di atasnya, tidak langsung ke media. Menurut Yos manfaat produk hidroponik terhadap kesehatan tidak ditentukan oleh cara menanam.

Untuk menghasilkan sayuran yang lebih baik tergantung teknik budidaya. Hal sama juga diyakini Profesor Ron Wills dari Universitas Newcastle, Australia dan Rick Donnan, wakil presiden Australian Hydroponics and Greenhouses Association. Menurut dosen Biologi Tanaman di Universitas Padjadjaran, Dr. Linca Anggria, M.Sc., tanaman membutuhkan pasokan nutrisi yang mencukupi setiap hari. Lantaran tanpa tanah tentu saja kandungan nutrisi harus terjamin. Itu sebabnya inovasi budidaya sangat dibutuhkan dalam berhidroponik.

Penguapan tinggi

Balittanah gencar mengembangkan inovasi teknologi hidroponik untuk peningkatan produktivitas pertanian. Jika diproduksi di rumah kaca dengan suhu yang terkontrol, pekebun dapat memasok sayuran di luar musim. Selain itu keuntungan budidaya hidroponik antara lain produk berkualitas, persiapan tanam dan penyiangan berkurang, nutrisi tersedia setiap saat, tidak membutuhkan tanah, dan penggunaan air lebih efisien.

Selain membutuhkan nutrisi lengkap, pemupukan membuat sayuran berkualitas lebih baik. Tampilan sayuran hidroponik pun biasanya menarik. Misalnya, tomat di greenhouse Redjo Mulyo milik Budi memang mulus tanpa bekas gigitan serangga. “Ini mendorong konsumen lebih banyak mengonsumsinya. Makanya ia lebih sehat,” ujar Budi. Syaratnya program pemupukan dikelola dengan baik. “Pengaturan pemupukan pada tomat dapat meningkatkan kandungan vitamin buah,” ujar Linca.

Sayuran premium seperti paprika menjadi primadona sejumlah restoran maupun hotel.

Sayuran premium seperti paprika menjadi primadona sejumlah restoran maupun hotel.

Penelitian di Belanda mengindikasikan ada pengaruh kepekatan larutan nutrisi terhadap kualitas tomat. Penambahan kepekatan larutan dari EC 2,6mS/cm menjadi 3,5mS/cm meningkatkan kesegaran, kadar asam, dan gula buah. Penelitian lain di California juga menunjukkan beberapa varietas tomat dan cabai hidroponik mengandung vitamin A, B1, B2, B3, B6, E, dan C serta mineral lebih banyak dibanding dengan komoditas hasil penanaman konvensional. Varietas dan lama pematangan buah tetap berpengaruh.

Baca juga:  Adenium Baru: Jatuh Cinta pada Fall in Love

Menurut Profesor Marry M Peet dari Departemen Hortikultura, North Carolina State University, kalsium berperan besar dalam pembentukan dinding sel saat pembentukan buah. Seperti dikutip dari “Practical Hydroponics & Greenhouse” Peet mengungkapkan saat dinding sel lemah, buah tomat mudah terserang blossom end rot (BER). “Kalsium membuat buah menjadi keras sehingga tak mudah terserang BER,” kata Yos Sutiyoso.

Agar tomat terhindar dari busuk ujung buah, Yos menyarankan agar petani memperhatikan asupan pupuk mikro itu pada tanaman. Yos menganjurkan dosis pupuk kalsium paling rendah, yakni 130 ppm, sedangkan dosis ideal 160 ppm. Pada musim hujan, saat intensitas sinar matahari rendah, sebaiknya dosis kalsium dalam pupuk campuran AB mencapai 160 ppm, kalium 300 ppm, magnesium 60—80 ppm, dan fosfat 60 ppm. Sementara amonium justru dikurangi karena membuat klorofil encer yang menyebabkan kekuatan menyerap kalsium berkurang.

Tak hanya sayuran daun, sayuran buah seperti tomat pun tumbuh baik jika ditanam dengan hidroponik.

Tak hanya sayuran daun, sayuran buah seperti tomat pun tumbuh baik jika ditanam dengan hidroponik.

Tak melulu kelebihan yang didapat dengan menggunakan hidroponik. Adapun kekurangan teknologi hidroponik antara lain membutuhkan modal cukup besar, menggunakan formulasi nutrisi cukup, ancaman hama dan penyakit, serta pangsa pasar terbatas. Namun, jika beragam aral itu teratasi, petani hidroponik berpeluang meraup laba lebih besar dibandingkan petani konvensional. Dengan tekun mengembangkan teknologi budidaya tanpa tanah itu, para pemain hidroponik telah banyak melakukan terobosan. (Tiffani Dias Anggraeni)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Similar Posts

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments